Abu Musa Al-Asy’ari Suara Merdu Dari Yaman, Panglima & Ahli Ilmu Yang Taat

Abu Musa Al-Asy’ari Suara Merdu Dari Yaman
Abu Musa Al-Asy’ari Suara Merdu Dari Yaman

Oleh: Ki Pekathik

Abu Musa Al-Asy’ari Suara Merdu Dari Yaman, Panglima & Ahli Ilmu Yang Taat – Di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang terkenal karena kelembutan hati dan kecintaan pada ilmu, Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya seorang qari (pembaca Al-Qur’an) yang suaranya disanjung langsung oleh Nabi ﷺ, tetapi juga seorang panglima yang tangguh dan hakim yang adil.

Namanya selalu disebut dengan kebanggaan dalam deretan sahabat dari Yaman yang mengharumkan Islam dengan akhlaknya yang tinggi, keilmuan yang dalam, dan keberaniannya di medan jihad.

Asal-Usul Dan Keislamannya

Abu Musa al-Asy’ari, yang nama aslinya Abdullah bin Qais, berasal dari suku Asy’ar di Yaman. Ia masuk Islam di Makkah sebelum hijrah ke Madinah dan kemudian kembali berdakwah di Yaman bersama kaumnya. Bersama rombongan kaum Asy’ariyin, ia datang ke Madinah dan di sambut hangat oleh Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ sangat mencintai rombongan Asy’ariyin karena mereka di kenal sebagai kaum yang saling berbagi makanan dan saling menyayangi. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: “إِنَّ الأَشْعَرِيِّينَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ، أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ، جَمَعُوا مَا كَانَ عِندَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ، فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ”

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang Asy’ari jika mereka kehabisan bekal dalam peperangan, atau makanan mereka di Madinah menipis, mereka mengumpulkan apa yang ada pada mereka dalam satu kain, lalu membaginya secara merata di antara mereka. Mereka adalah bagian dariku, dan aku bagian dari mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:

Khalid Bin Walid  Pedang Allah Yang Tak Pernah Tumpul

Khalid Bin Walid  Pedang Allah Yang Tak Pernah Tumpul https://sabilulhuda.org/khalid-bin-walid-pedang-allah-yang-tak-pernah-tumpul/

Keutamaan Suaranya Dalam Membaca Al-Qur’an

Abu Musa di kenal sebagai salah satu sahabat dengan suara paling indah dalam membaca Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ sendiri memuji suaranya dengan sabda:

عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ لِيَ النَّبِيُّ ﷺ: “لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ”

Artinya: Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Musa: “Sungguh engkau telah di beri suara seperti seruling di antara seruling-seruling keluarga Dawud.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa merdunya suara Abu Musa ketika membaca Al-Qur’an, dan betapa Rasulullah ﷺ menikmati lantunan Al-Qur’an dari lisannya. Bahkan dalam satu riwayat, Rasulullah ﷺ pernah berdiri mendengarkan bacaan Abu Musa di malam hari tanpa sepengetahuannya.

Peran Sebagai Panglima Dan Hakim

Abu Musa tidak hanya piawai dalam ilmu dan bacaan, tetapi juga sangat andal dalam kepemimpinan. Ia pernah di angkat sebagai gubernur di Bashrah dan kemudian di Kufah pada masa Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Umar sangat mempercayainya dalam berbagai misi penting, termasuk penaklukan wilayah-wilayah strategis di Persia.

Abu Musa juga terkenal dalam keterlibatannya sebagai hakim dalam peristiwa Tahkim (arbitrasi) antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Meskipun peristiwa ini rumit dan penuh kontroversi, keterlibatan Abu Musa mencerminkan keyakinan umat atas keadilannya dan kesalehannya.

Ilmunya Yang Dalam Dan Doa Nabi ﷺ Untuknya

Abu Musa adalah sosok yang haus akan ilmu. Ia pernah bertanya langsung kepada Rasulullah ﷺ dalam banyak kesempatan dan meriwayatkan lebih dari 300 hadits. Ia juga terkenal dengan banyak fatwa dan nasihat bijaknya kepada umat.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ mendoakan keluasan ilmu bagi Abu Musa dan saudaranya:

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ أَبِي مُوسَى، قَالَ: دَعَا النَّبِيُّ ﷺ لِي وَلأَخِي، فَقَالَ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ، وَأَدْخِلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُدْخَلًا كَرِيمًا”

Artinya: Dari Abu Burdah, dari ayahnya Abu Musa, ia berkata: Rasulullah ﷺ mendoakan untukku dan saudaraku: “Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qais (Abu Musa) dan masukkanlah dia pada hari kiamat ke tempat masuk yang mulia.” (HR. Bukhari)

Abu Musa Al-Asy’ari Suara Merdu Dari Yaman
Abu Musa Al-Asy’ari Suara Merdu Dari Yaman

Zuhud Dan Kecintaan Kepada Akhirat

Meski menjabat sebagai pemimpin wilayah yang besar, Abu Musa di kenal sangat sederhana dan zuhud. Ia tidak memperkaya diri dan senantiasa berpegang pada nilai-nilai kesalehan dan keadilan. Ia menghindari kekuasaan yang memabukkan dan lebih memilih hidup bersih dan ikhlas.

Suatu ketika ia berkhutbah dan berkata:

“Sesungguhnya kami dahulu bersama Rasulullah ﷺ, kami tidak melihat kekayaan sebagai sesuatu yang berharga. Kini kekayaan menjadi impian banyak orang, padahal dunia itu menipu dan fana.”

Wafatnya Dan Warisan Ilmu

Abu Musa wafat pada tahun 44 H di Kufah atau menurut sebagian riwayat di Makkah. Ia meninggalkan jejak yang tak ternilai dalam ilmu, kepemimpinan, dan akhlak. Putranya, Abu Burdah, menjadi seorang tabi’in besar dan penerus ilmunya.

Teladan Abadi Dari Abu Musa

Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه adalah gambaran sahabat ideal: lembut dalam bacaan, tegas dalam kepemimpinan, adil dalam hukum, zuhud dalam dunia, dan penuh cinta dalam ilmu. Suaranya yang merdu bukan hanya menggema dalam lantunan Al-Qur’an, tapi juga dalam kebenaran yang ia suarakan sepanjang hayat.

Dari sahabat ini, kita belajar bahwa kecintaan kepada Al-Qur’an dapat mengangkat derajat seseorang, bahwa kepemimpinan yang bersih dan amanah adalah warisan abadi, dan bahwa kesalehan yang tenang lebih kuat dari retorika yang bising.

Semoga Allah meridhai Abu Musa al-Asy’ari dan menghimpunkan kita bersamanya dalam surga yang mulia. آمين يا رب العالمين.

Baca Juga: Kisah Sahabat Nabi yang Jarang Diketahui: Inspirasi Kehidupan Islami

Referensi Hadits:

1. Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab dan Kitab al-Jihad

2. Sahih Muslim, Kitab Fadha’il ash-Shahabah