
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 33 – Berikut adalah teks Arab tanpa harakat dari gambar yang diberikan, beserta nomor halamannya:
وأنه لا يتقبل إيمان عبد حتى يوقن بما أخبر عنه بعد الموت، وأوله: سؤال منكر ونكير، وهما شخصان مهيبان هائلان، يقعدان الميت في قبره سوياً، ذا روح وجسد، فيسألانه عن التوحيد والرسالة، ويقولان له: مَن ربك؟ وما دينك؟ ومَن نبيك؟ (1).
وإن الله تعالى أرسل رسولنا ﷺ رحمة للأنام أي الخلق أجمعين.
وأما كونه رحمة للمؤمنين، فدل عليه الكتاب، والسنة، والإجماع، بلا شك ولا ريب.
وأما كونه رحمة لغير المؤمنين، فإن الله تعالى لا يعاجلهم العقوبة بالمسخ والخسف، والأخذ بغتة، أو استئصالهم في الهلاك والدمار، كما وقع للأمم السابقة.
وإذا أردت التوسع في هذا فعد إلى كتب التوحيد، واقرأ ما بيّنه العلماء لتستفيد، لأن هذا الفن، له أهميته ومكانته لتعلقه بالعقيدة. اهـ محمد.
(1) وإن لم يدفن، أو أُحرق وصار رماداً بعد إكمال دفنه، بعد إعادة الروح إلى جميع البدن، ولا يسألان عن غير الاعتقاد.
والسؤال لكل مكلف إلا من استثني: كالأنبياء والشهداء، والصديق، والمرابط، والمبطون، وملازم قراءة تبارك كما قاله القرطبي.
ومن لا يسأل في قبره لا يعذب فيه، وكل مؤمن يوفق للجواب ولو عاصياً بعد تبلج.
والنعيم والعذاب للروح والجسد وإن صار تراباً. اهـ محمد.
٣٣
Cara baca:
وأَنَّهُ لَا يَتَقَبَّلُ إِيمَانَ عَبْدٍ حَتَّى يُوقِنَ بِمَا أَخْبَرَ عَنْهُ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَوَّلُهُ: سُؤَالُ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ، وَهُمَا شَخْصَانِ مَهِيبَانِ هَائِلَانِ، يَقْعُدَانِ الْمَيِّتَ فِي قَبْرِهِ سَوِيًّا، ذَا رُوحٍ وَجَسَدٍ، فَيَسْأَلَانِهِ عَنِ التَّوْحِيدِ وَالرِّسَالَةِ، وَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟
وأَنَّهُ لَا يَتَقَبَّلُ إِيمَانَ عَبْدٍ حَتَّى يُوقِنَ بِمَا أَخْبَرَ عَنْهُ بَعْدَ الْمَوْتِ،
Dan sesungguhnya tidak diterima iman seorang hamba sampai ia meyakini apa yang telah dikabarkan tentangnya setelah kematian,
وَأَوَّلُهُ: سُؤَالُ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ،
Dan yang pertama darinya adalah pertanyaan Munkar dan Nakir,
وَهُمَا شَخْصَانِ مَهِيبَانِ هَائِلَانِ،
Keduanya adalah dua sosok yang menakutkan dan mengerikan,
يَقْعُدَانِ الْمَيِّتَ فِي قَبْرِهِ سَوِيًّا، ذَا رُوحٍ وَجَسَدٍ،
Keduanya mendudukkan mayit di kuburnya secara bersamaan, (dalam keadaan) memiliki ruh dan jasad,
فَيَسْأَلَانِهِ عَنِ التَّوْحِيدِ وَالرِّسَالَةِ،
Lalu keduanya bertanya kepadanya tentang tauhid dan risalah (kerasulan),
وَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟ (1).
Dan keduanya berkata kepadanya: “Siapa Tuhanmu? Dan apa agamamu? Dan siapa Nabimu?” (1).
وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَرْسَلَ رَسُولَنَا ﷺ رَحْمَةً لِلْأَنَامِ أَيِ الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ.
وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَرْسَلَ رَسُولَنَا ﷺ رَحْمَةً لِلْأَنَامِ أَيِ الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ.
Dan sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus Rasul kita ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh makhluk, yaitu semua ciptaan.
Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 32
وَأَمَّا كَوْنُهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَدَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، وَالسُّنَّةُ، وَالْإِجْمَاعُ، بِلَا شَكٍّ وَلَا رَيْبٍ.
وَأَمَّا كَوْنُهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ،
Adapun keberadaannya sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin,
فَدَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، وَالسُّنَّةُ، وَالْإِجْمَاعُ، بِلَا شَكٍّ وَلَا رَيْبٍ.
Maka telah ditunjukkan oleh Al-Kitab (Al-Qur’an), As-Sunnah, dan Ijmak (konsensus ulama), tanpa keraguan sedikit pun.
وَأَمَّا كَوْنُهُ رَحْمَةً لِغَيْرِ الْمُؤْمِنِينَ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُعَاجِلُهُمُ الْعُقُوبَةَ بِالْمَسْخِ وَالْخَسْفِ، وَالْأَخْذِ بَغْتَةً، أَوْ اسْتِئْصَالِهِمْ فِي الْهَلَاكِ وَالدَّمَارِ، كَمَا وَقَعَ لِلْأُمَمِ السَّابِقَةِ.
وَأَمَّا كَوْنُهُ رَحْمَةً لِغَيْرِ الْمُؤْمِنِينَ،
Dan adapun keberadaannya sebagai rahmat bagi selain orang-orang mukmin (yaitu kafir),
فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُعَاجِلُهُمُ الْعُقُوبَةَ بِالْمَسْخِ وَالْخَسْفِ،
Maka sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menyegerakan hukuman kepada mereka dengan pengubahan bentuk (masakh) dan pembenaman ke bumi (khasaf),
وَالْأَخْذِ بَغْتَةً، أَوْ اسْتِئْصَالِهِمْ فِي الْهَلَاكِ وَالدَّمَارِ،
Dan pengambilan (azab) secara tiba-tiba, atau pemusnahan mereka dalam kehancuran dan kebinasaan,
كَمَا وَقَعَ لِلْأُمَمِ السَّابِقَةِ.
Sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.
وَإِذَا أَرَدْتَ التَّوَسُّعَ فِي هَذَا فَعُدْ إِلَى كُتُبِ التَّوْحِيدِ، وَاقْرَأْ مَا بَيَّنَهُ الْعُلَمَاءُ لِتَسْتَفِيدَ، لِأَنَّ هَذَا الْفَنَّ، لَهُ أَهَمِّيَّتُهُ وَمَكَانَتُهُ لِتَعَلُّقِهِ بِالْعَقِيدَةِ. اهـ مُحَمَّدٌ.
وَإِذَا أَرَدْتَ التَّوَسُّعَ فِي هَذَا فَعُدْ إِلَى كُتُبِ التَّوْحِيدِ،
Dan jika engkau ingin memperdalam tentang ini, maka kembalilah kepada kitab-kitab tauhid,
وَاقْرَأْ مَا بَيَّنَهُ الْعُلَمَاءُ لِتَسْتَفِيدَ،
Dan bacalah apa yang telah dijelaskan oleh para ulama agar engkau mendapatkan manfaat,
لِأَنَّ هَذَا الْفَنَّ، لَهُ أَهَمِّيَّتُهُ وَمَكَانَتُهُ لِتَعَلُّقِهِ بِالْعَقِيدَةِ. اهـ مُحَمَّدٌ.
Karena bidang ilmu ini memiliki kepentingan dan kedudukannya karena keterkaitannya dengan akidah. Selesai. Muhammad.
(Catatan Kaki (1)):
(1) وَإِنْ لَمْ يُدْفَنْ، أَوْ أُحْرِقَ وَصَارَ رَمَادًا بَعْدَ إِكْمَالِ دَفْنِهِ، بَعْدَ إِعَادَةِ الرُّوحِ إِلَى جَمِيعِ الْبَدَنِ، وَلَا يُسْأَلَانِ عَنْ غَيْرِ الِاعْتِقَادِ.
(1) وَإِنْ لَمْ يُدْفَنْ، أَوْ أُحْرِقَ وَصَارَ رَمَادًا بَعْدَ إِكْمَالِ دَفْنِهِ،
(1) Dan meskipun ia tidak dikubur, atau dibakar dan menjadi abu setelah sempurnanya penguburannya (maksudnya, setelah kematiannya dan tubuhnya hancur),
بَعْدَ إِعَادَةِ الرُّوحِ إِلَى جَمِيعِ الْبَدَنِ،
Setelah dikembalikannya ruh ke seluruh badan,
وَلَا يُسْأَلَانِ عَنْ غَيْرِ الِاعْتِقَادِ.
Dan keduanya (Munkar dan Nakir) tidak bertanya selain tentang akidah.
وَالسُّؤَالُ لِكُلِّ مُكَلَّفٍ إِلَّا مَنِ اسْتُثْنِيَ: كَالْأَنْبِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ، وَالصِّدِّيقِ، وَالْمُرَابِطِ، وَالْمَبْطُونِ، وَمُلَازِمِ قِرَاءَةِ تَبَارَكَ كَمَا قَالَهُ الْقُرْطُبِيُّ.
وَالسُّؤَالُ لِكُلِّ مُكَلَّفٍ إِلَّا مَنِ اسْتُثْنِيَ:
Dan pertanyaan (kubur) ini berlaku bagi setiap mukallaf (orang yang dibebani syariat) kecuali orang yang dikecualikan:
كَالْأَنْبِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ، وَالصِّدِّيقِ، وَالْمُرَابِطِ، وَالْمَبْطُونِ،
Seperti para Nabi dan para syuhada, dan shiddiq (orang yang sangat membenarkan), dan murabit (penjaga perbatasan), dan mabthun (orang yang meninggal karena penyakit perut),
وَمُلَازِمِ قِرَاءَةِ تَبَارَكَ كَمَا قَالَهُ الْقُرْطُبِيُّ.
Dan orang yang senantiasa membaca Surah Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Qurthubi.
وَمَنْ لَا يُسْأَلُ فِي قَبْرِهِ لَا يُعَذَّبُ فِيهِ، وَكُلُّ مُؤْمِنٍ يُوَفَّقُ لِلْجَوَابِ وَلَوْ عَاصِيًا بَعْدَ تَبَلُّجٍ.
وَمَنْ لَا يُسْأَلُ فِي قَبْرِهِ لَا يُعَذَّبُ فِيهِ،
Dan barang siapa yang tidak ditanya di kuburnya, maka ia tidak akan diazab di dalamnya,
وَكُلُّ مُؤْمِنٍ يُوَفَّقُ لِلْجَوَابِ وَلَوْ عَاصِيًا بَعْدَ تَبَلُّجٍ.
Dan setiap mukmin akan diberi taufik untuk menjawab, meskipun ia seorang pendosa setelah (datangnya) kejelasan (bukti/hidayah).
وَالنَّعِيمُ وَالْعَذَابُ لِلرُّوحِ وَالْجَسَدِ وَإِنْ صَارَ تُرَابًا. اهـ مُحَمَّدٌ.
وَالنَّعِيمُ وَالْعَذَابُ لِلرُّوحِ وَالْجَسَدِ وَإِنْ صَارَ تُرَابًا. اهـ مُحَمَّدٌ.
Dan kenikmatan serta azab itu bagi ruh dan jasad, meskipun (jasad itu) telah menjadi tanah. Selesai. Muhammad.
Penjelasan:
Keyakinan Setelah Kematian: Fondasi Iman yang Tidak Bisa Ditawar
Dalam teks klasik ini, kita diingatkan tentang syarat diterimanya iman seorang hamba, yaitu harus meyakini dengan sungguh-sungguh segala yang telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang perkara setelah kematian. Ini merupakan bagian inti dari rukun iman yaitu beriman kepada hari akhir.
Tidak Sempurna Iman Tanpa Keyakinan pada Alam Kubur
Teks ini menyatakan:
“وَأَنَّهُ لَا يَتَقَبَّلُ إِيمَانَ عَبْدٍ حَتَّى يُوقِنَ بِمَا أَخْبَرَ عَنْهُ بَعْدَ الْمَوْتِ…”
“Bahwa Allah tidak menerima iman seorang hamba hingga ia meyakini segala yang diberitakan (oleh Allah dan Rasul-Nya) tentang kejadian setelah kematian.”
Dengan kata lain, keyakinan tentang kehidupan setelah mati — alam barzakh, hari kebangkitan, surga, neraka, hisab, mizan, dan seterusnya — adalah bagian esensial dari keimanan. Tidak cukup seorang mengaku beriman tetapi mengingkari atau meragukan apa yang akan terjadi setelah ruh dicabut dari jasad.
Permulaan Alam Kubur Pertanyaan Dua Malaikat
Perkara pertama yang disebutkan dalam kehidupan pasca-kematian adalah:
سؤال منكر ونكير — pertanyaan dari dua malaikat: Munkar dan Nakir.
Keduanya bukan sekadar simbol, melainkan makhluk Allah yang benar-benar ada dan diutus khusus untuk menguji keimanan orang yang baru meninggal. Disebut dalam teks sebagai:
“وهما شخصان مهيبان هائلان، يقعدان الميت في قبره سوياً، ذا روح وجسد…”
“Keduanya adalah dua sosok yang menggetarkan dan mengerikan, mendudukkan mayit dalam kuburnya dengan jiwa dan jasadnya, lalu bertanya.”
Pertanyaan mereka sangat fundamental:
من ربك؟ — Siapa Tuhanmu?
ما دينك؟ — Apa agamamu?
من نبيك؟ — Siapa nabimu?
Inilah ujian awal di alam barzakh, yang hanya bisa dijawab dengan iman yang kuat dan istiqamah, bukan sekadar hafalan lisan.
Bagaimana Bila Tidak Dikubur?
Catatan kaki menyebutkan bahwa meski seseorang tidak dikubur secara biasa, misalnya:
Terbakar hingga menjadi abu,
Tenggelam,
Hancur dalam bencana,
Atau tubuhnya tak ditemukan,
maka pertanyaan tetap terjadi, setelah Allah mengembalikan ruh kepada seluruh jasadnya, sesuai kekuasaan-Nya yang sempurna. Karena alam kubur bukan tergantung tanah dan liang, tapi suatu keadaan setelah kematian yang pasti akan dialami oleh semua yang mukallaf (terkena beban hukum syariat).
Siapa yang Tidak Ditanya di Alam Kubur?
Penulis mengutip para ulama seperti Imam al-Qurṭubī, bahwa tidak semua orang ditanya di kuburnya. Di antara mereka yang dikecualikan:
Para nabi,
Para syuhada,
Orang yang benar-benar jujur dalam imannya (ṣiddīq),
Orang yang wafat menjaga perbatasan Islam (murābiṭ),
Orang yang wafat karena penyakit perut (mabṭūn),
Dan orang yang rajin membaca Surah Al-Mulk (Tabārak) setiap malam.
Ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan amal-amal tertentu, serta kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya yang ikhlas.
Adakah Siksaan Kubur?
Ya. Dalam Ahlussunnah wal-Jamā‘ah, nikmat dan azab kubur adalah haq (pasti terjadi). Dan ini menimpa roh dan jasad, meskipun jasad telah hancur menjadi tanah. Karena Allah mampu mengembalikan bentuk dan merasakan penderitaan atau kenikmatan tersebut. Sebagaimana disebutkan:
“والنعيم والعذاب للروح والجسد وإن صار ترابًا.”
“Nikmat dan azab itu terjadi pada roh dan jasad, meski jasad telah menjadi tanah.”
Namun disebut juga bahwa orang beriman akan diberi taufik untuk menjawab pertanyaan dengan benar, bahkan jika ia pernah berdosa. Artinya, rahmat Allah mendahului azab-Nya, dan kunci keselamatan adalah membawa iman hingga ajal menjemput.
Rasulullah ﷺ: Rahmat untuk Semua Makhluk
Selanjutnya, penulis menyinggung posisi Nabi Muhammad ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh alam:
“وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى أَرْسَلَ رَسُولَنَا ﷺ رَحْمَةً لِلْأَنَامِ أَيِ الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ.”
Allah mengutus Nabi kita Muhammad ﷺ sebagai rahmat untuk seluruh makhluk — manusia, jin, hewan, bahkan alam. Bukan hanya bagi orang beriman, tapi juga bagi orang kafir. Sebab seandainya tidak karena diutusnya Rasulullah ﷺ, orang kafir akan langsung dibinasakan sebagaimana umat-umat terdahulu.
Dengan kehadiran beliau, umat ini diberi kesempatan bertobat, menerima dakwah, belajar kebenaran, dan hidup dalam keteraturan. Siksaan tidak langsung turun. Bahkan hingga kini, keberadaan umat Muhammad ﷺ membawa berkah bagi dunia — stabilitas, ilmu, moral, bahkan kemajuan peradaban.
Penutup dan Nasihat
Teks ini adalah pengingat yang sangat kuat: bahwa iman kita bukan sekadar teori, tapi harus mencakup keyakinan total terhadap hal-hal gaib, termasuk alam barzakh dan pertanyaan kubur.
Karena itulah, kita harus terus memperkuat iman, menjaga akidah, memperbanyak amal saleh, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta membiasakan hati bertawakal dan bergantung kepada Allah.
Jangan pernah menunda bertobat.
Karena saat malaikat datang menjemput ruh, hanya iman yang benar dan amal yang ikhlas yang akan menjadi teman sejati di alam kubur.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُجِيبُ الْمَلَكَيْنِ بِاللِّسَانِ الثَّابِتِ، وَيَنْعَمُ فِي قَبْرِهِ بِرَحْمَتِكَ، وَيَدْخُلُ جَنَّاتِكَ بِفَضْلِكَ، وَيَسْلَمُ مِنْ عَذَابِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْحُسْنَى يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Artinya:
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dapat menjawab pertanyaan dua malaikat dengan lisan yang teguh, dan diberi kenikmatan dalam kuburnya karena rahmat-Mu, dimasukkan ke dalam surga-Mu dengan karunia-Mu, diselamatkan dari azab dunia dan akhirat, dan wafat dalam keadaan beriman serta husnul khatimah. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.
Oleh: Ki Pekathik


