Qorin (Cerbung Misteri Bab 16)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri Bab 16)

Kedekatan Bayu Dan Hanan

Bayu semakin merasa dekat dengan Hanan, disamping mereka pernah saling kenal di masa kecil meski lupa dengan nama. Kehadiran Hanan bagi Bayu seperti sebuah titik terang dan Bayu berharap Hanan akan dapat membantunya untuk bisa Bersatu dengan Alisa.

Tanpa disadari Bayu, jika Hanan juga mencintai Alisa meskipun Hanan hanya menahan perasaan. Namun, bukan berarti tidak memperjuangkan cinta Alisa.

Permintaan Bayu Dan Keteguhan Hati Hanan

“Tolong bantu aku, aku mencintai seorang Wanita Bernama Alisa. Sayangnya ada penghalang seperti yang aku bilang tadi,” kata bayu.

“Insya Allah,kalau memang jodoh pasti akan Bersatu nanti,” kata Hanan menahan getirnya hati.

Antara kewajiban menolong orang yang membutuhkan dan menahan rasa sakitnya hati. Posisi Hanan benar-benar sedang diuji dengan ujian yang tidak kalah berat dengan ujian yang dihadapi Bayu sendiri.

Hanan dihadapkan pada kondisi yang sama-sama tidak mengenakkan. Di satu sisi Hanan harus memberi pertolongan pada orang yang membutuhkan. Namun, disisi lain Hanan harus mengorbankan perasaan jika harus menolong Bayu.

“Aku jujur mengakui sekalipun aku harus memanggilmu dengan sebutan apapun aku rela. Karena memang Kakek dan nenekku saja murid dari Kakekmu,” kata Hanan.

“Kamu ini ngomong apa? Aku mau bantu, tapi tolong jangan bahas itu lagi,” kata Hanan.

Warisan Perjuangan Kakek Munatsir

Bagaimanapun, Hanan sedang dalam masa ujian. Dia mengemban tugas untuk meneruskan perjuangan kakeknya Munatsir. Memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Ujian pertama bagi Hanan dia harus mengalahkan ego dan perasaan sendiri untuk menolong Bayu.

Tidak terbayang bagaimana sikap Bayu, jika sampai tahu Hanan juga mencintai Alisa. Bisa-bisa bayu yang akan mengalah seperti masa kecil dulu. Hanan tidak ingin itu terjadi, dia ingin mendapatkan Alisa tanpa harus menyakiti Bayu dan membuat Bayu mengalah karena sungkan kepada Hanan.

Baca Juga:

Tentu saja sebuah keinginan yang nilai persentasenya sangat kecil, jika melihat kenyataan Bayu dan Alisa sama-sama saling mencintai. Akan tetapi, Hanan percaya jika semua yang terjadi atas kehendak Allah Swt.

Bagaimana caranya, manusia tidak akan ada yang mampu menebaknya. Termasuk, rezeki, mati dan jodoh semua adalah rahasia Illahi. Manusia hanya bisa berusaha tidak wajib berhasil atau mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Bayu Mengenang Jasa Kakek Hanan

“Itu kenyataan yang harus aku terima, seperti yang dibilang Nenek tadi. Kakekmu lah yang dulu banyak membantu kakek sampai dengan kedua orang tuaku,” kata Bayu.

“Biar itu menjadi pahala Kakek dan Nenekku, jangan diungkit. Aku takut pahalanya justru akan terhapus jika diungkit,” jawab Hanan.

Bayu mengagumi Hanan, berbeda jauh dengan Hanan di masa kecil yang selalu mau menang sendiri. Sekarang Hanan tampak sangat dewasa dalam bersikap, bahkan kelihatan banyak mengalah. Untung Bayu tidak tahu perasaan Hanan kepada Alisa.

“Kok Kamu bisa berubah jauh dengan waktu kecil dulu,” kata Bayu.

“Sudah pastilah, Namanya manusia tiap hari makan pasti mengalami perubahan,” jawab Hanan.

“Maksudnya bukan itu, Hanan, tapi sifatmu sekarang sangat Dewasa,” kata Bayu.

“Ada perjalanan panjang, baik perjalanan lahir maupun perjalanan spiritual dalam mencari jati diri, Bayu. O iya,kalau nanti malam kita ke makam keluargamu bagaimana? Kan hanya dekat sekali, jalan kaki saja,” kata Hanan.

“Bagaimana dengan Nenek, Hanan?” tanya Bayu.

“Insya Allah gapapa, biar nanti Nenek berdoa dengan Bahasa jawa dalam tembang tadi, insya Allah aman,” kata Hanan.

“Aku sih menurut Kamu saja, baiknya bagaimana,” jawab Bayu.

“Oke, deal kita nanti berangkat habis isya,” kata Hanan.

Dua Sahabat Saat Masih Kecil

Dua sahabat di masa kecil itu kemudian masuk ke dalam rumah. Bayu mempersilahkan Hanan beristirahat di belas kamar Anisa yang lama tidak dipakai. Namun, masih terawat dengan baik. Hanan segera merebahkan dirinya di ranjang. Berusaha memejamkan mata, tapi sulit untuk terpejam.

“Foto itu? Anisa dan Alisa kenapa mirip sekali? Apakah hanya pandanganku saja, atau karena aku yang terlalu memikirkan Alisa? Tidak … ini tidak boleh, saat ini Alisa adalah milik Bayu meski belum resmi,” kata Hanan dalam hati.

Foto Anisa dengan seragam sekolah SMP pun dianggap sangat mirip dengan Alisa. Secara alami Hanan terbawa suasana dan selalu ingat dengan Alisa. Meski akal sehatnya masih berjalan, tapi perasaan bisa mengalahkan logika. Terutama orang yang sedang dilanda asmara seperti Hanan.

“Ya Allah, seperti inikah orang kalau sedang jatuh cinta. Meski sakit tapi tidak mau dirasa,” gumam Hanan pelan.

Hanan jadi senyum-senyum sendiri, mengakui betapa bodohnya. Mencintai seorang Wanita yang sudah memiliki kekasih. Apalagi kekasihnya adalah teman kecilnya sendiri. Hanan pun akhirnya terlelap karena Lelah berpikir.

Lelah secara fisik dan psikis membuat Hanan sangat lelap. Beberapa kali Bayu melihat hanan masih tertidur lelap. Saat dipanggil panggil Hanan sama sekali tidak menyahut. Tetap saja tidur dengan terlentang dan kedua tangannya menjadi bantalan leher. Bayu tidak berani menyentuh, karena Hanan tampak sangat pulas tidurnya.

Ketinggalan Sholat Dhuhur

“Astaghfirullah, jam berapa ini? Aku belum sholat dhuhur,” gumam Hanan.

Kemudian Hanan bangkit dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Waktu dhuhur pun lewat, Hanan melewatkan waktu dhuhur.

“Bayu, kenapa gak bangunin aku untuk sholat dhuhur!” seru Hanan.

“Kamu sangat lelap, aku panggil berkali kali tidak bangun,” kata Bayu.

“Yaudah, aku ambil wudhu dulu, terpaksa diqodo’ nih,” kata Hanan buru buru ke kamar mandi.

Usai Hanan menjalankan sholat, dia segera menemui Bayu di kamar tamu. Hanan ingin mengingatkan Bayu untuk ikut ke makam mendoakan Dewi, suami dan anaknya Anisa.

“Nanti malam jangan lupa, aku ingat sekali dengan kebaikan Ibumu. Meskipun aku kalau panggil beliau Mbak,” kata Hanan.

“Kalau dengan Bapakku ingat gak?” tanya Bayu.

“Gak begitu, beliau dulu sangat sibuk jarang di rumah seingatku,: jawab Hanan.

“Memang, kalau adikku jelas Kamu gak ingat dia masih balita saat itu,” kata Bayu.

“Ingat Kok, hanya saja lupa nama dan wajahnya kalau tidak melihat fotonya tadi,” kata Hanan. Hampir saja keceplosan mengatakan mirip Alisa. Untung masih ingat jika harus pegang rahasia Burhan dan Maisaroh. Meskipun, Hanan ingin meminta Burhan dan Maisaroh berterus terang kepada Bayu dan Nenek Lastri.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Malam Ziarah Dan Bayangan Misterius

Waktu yang ditunggu tunggu Hanan pun tiba, setelah melaksanakan sholat Isya, Hanan dan Bayu melangkah pergi ke makam. Nenek Lastri sudah masuk ke kamarnya, tapi belum istirahat.

Nenek Lastri justru melantunkan Kembali tembang yang direquest oleh Hanan. Karena temnbang itu juga mengingatkan akan gurunya, Munatsir sekaligus kakeknya Hanan.

Sedangkan Bayu dan Hanan melangkah santai menuju ke pemakaman. Hanan sangat ingin melihat makam Dewi, Arya Dwi Pamungkas dan Anisa. Hanan merasa ada sesuatu yang ikut terkubur di makam mereka. Sebuah rahasia yang sengaja ikut dikubur seseorang demi mencari keselamatan diri atau mengincar keuntungan lain.

Sesosok bayangan putih sudah menunggu Bayu dan Hanan di pintu masuk makam. Bayu dan Hanan bukan seorang penakut, sehingga dengan lantang mereka bertanya kepada sosok tersebut.

“Minggirlah, kami mau masuk untuk mendoakan ahli kubur disini,” kata Hanan.

Sosok tersebut, tidak menjawab hanya menoleh dan menunjukkan wajahnya saja. Bayu berteriak menyebut nama Ibu ke sosok tersebut.

“Ibu—” teriak Bayu, tapi dicegah oleh Hanan.

Jangan Bayu, dia bukan Ibumu melainkan Qorin Ibumu yang akan menjebakmu,” kata Hanan.

Tiba-tiba sosok tersebut berubah jadi menakutkan. Wajahnya masih mirip dengan wajah Dewi ibunya Bayu. Namun, sudah berubah dengan lidah menjulur dan seutas tali melingkar di lehernya. Seperti tergantung di gapura pemakaman tersebut. Hanan, memandang sosok tersebut sambil membaca doa.