
معنى الكلمة الثانية:
وهي شهادة الرسول ﷺ، وأنه بعث النبي الامي القرشي «محمدا» ﷺ برسالته إلى كافة العرب والعجم، والجن والإنس، فنسخ بشريعته الشرائع إلا ما قر، وفضله على سائر الأنبياء، وجعله سيد البشر، ومنع كمال الإيمان بشهادة التوحيد، وهي قول: لا إله إلا الله ما لم تقرن به شهادة الرسول وهو قولك محمد رسول الله ﷺ، وألزم الخلق تصديقه في جميع ما أخبر عنه من أمر الدنيا والآخرة(١).
(١) أقول:
إن الله تعالى قد أرسل رسوله عليه الصلاة والسلام، إلى الثقلين: يعني الإنس، والجن، إجماعًا، وكذا رسالته تناولت الملائكة، ولكن الإرسال الأول إرسال تكليف، والثاني إرسال تشريف وتكريم.
والرسول: هو إنسان، حي، ذكر، من بني آدم. فهو أكمل من أرسل إليه: علما، وفطنة، وقوة رأي، وثاقب فكر. سليم من دنايا الأصول، وحنا الأمهات وذل علوا. وسليم ـ أيضًا ـ من كل منفر طبعًا.
وما نقل عن سيدنا أيوب فهو من الإسرائيليات الدخيلة.
وقد أوحي إليه بشرع وأمر بتبليغه، فإن لم يؤمر ففي فيهما عموم وخصوص فحقق هذا هو الصحيح المشهور.
٣٢
Cara baca:
Baik, saya akan berikan harakat pada teks Arab tersebut dan terjemahan per barisnya.
Berikut adalah teks Arab dengan harakat dan artinya per baris:
مَعْنَى الْكَلِمَةِ الثَّانِيَةِ:
Makna Kata Kedua:
وَهِيَ شَهَادَةُ الرَّسُولِ ﷺ، وَأَنَّهُ بُعِثَ النَّبِيُّ الْأُمِّيُّ الْقُرَشِيُّ «مُحَمَّدًا» ﷺ بِرِسَالَتِهِ إِلَى كَافَّةِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، وَالْجِنِّ وَالْإِنْسِ، فَنَسَخَ بِشَرِيعَتِهِ الشَّرَائِعَ إِلَّا مَا قَرَّ، وَفَضَّلَهُ عَلَى سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ، وَجَعَلَهُ سَيِّدَ الْبَشَرِ، وَمَنَعَ كَمَالَ الْإِيمَانِ بِشَهَادَةِ التَّوْحِيدِ، وَهِيَ قَوْلُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مَا لَمْ تُقْرَنُ بِهِ شَهَادَةُ الرَّسُولِ وَهُوَ قَوْلُكَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَأَلْزَمَ الْخَلْقَ تَصْدِيقَهُ فِي جَمِيعِ مَا أَخْبَرَ عَنْهُ مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ (١).
Dan itu adalah syahadat Rasulullah ﷺ, dan bahwasanya Nabi yang ummi dari suku Quraisy. “Muhammad” ﷺ diutus dengan risalahnya kepada seluruh bangsa Arab dan non-Arab, jin dan manusia. Lalu syariatnya menghapus syariat-syariat (sebelumnya) kecuali yang telah ditetapkan.
Dan Dia melebihkannya atas seluruh nabi-nabi, dan menjadikannya pemimpin umat manusia, serta menghalangi kesempurnaan iman dengan syahadat tauhid. Yaitu ucapan: “Tiada Tuhan selain Allah” jika tidak disertai dengan syahadat Rasul, yaitu ucapanmu:
“Muhammad adalah utusan Allah” ﷺ, dan Dia mewajibkan seluruh makhluk untuk membenarkannya dalam segala apa yang ia beritakan tentang urusan dunia dan akhirat (1).
Baca Juga:

Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 31 https://sabilulhuda.org/kajian-kitab-bidayatul-hidayah-halaman-31/
(١) أَقُولُ:
(1) Aku berkata:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، إِلَى الثَّقَلَيْنِ: يَعْنِي الْإِنْسَ، وَالْجِنَّ، إِجْمَاعًا، وَكَذَا رِسَالَتُهُ تَنَاوَلَتِ الْمَلَائِكَةَ، وَلَكِنَّ الْإِرْسَالَ الْأَوَّلَ إِرْسَالُ تَكْلِيفٍ، وَالثَّانِيَ إِرْسَالُ تَشْرِيفٍ وَتَكْرِيمٍ.
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus Rasul-Nya, shalawat dan salam atasnya, kepada dua golongan makhluk: yaitu manusia dan jin, secara ijma’ (konsensus ulama). Demikian pula risalahnya mencakup para malaikat.
Akan tetapi pengutusan yang pertama adalah pengutusan taklif (pembebanan hukum), dan yang kedua adalah pengutusan tasyrif (kemuliaan) dan takrim (penghormatan).
وَالرَّسُولُ: هُوَ إِنْسَانٌ، حَيٌّ، ذَكَرٌ، مِنْ بَنِي آدَمَ. فَهُوَ أَكْمَلُ مَنْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ: عِلْمًا، وَفِطْنَةً، وَقُوَّةِ رَأْيٍ، وَثَاقِبِ فِكْرٍ. سَلِيمٌ مِنْ دَنَايَا الْأُصُولِ، وَحَنَا الْأُمَّهَاتِ وَذَلِّ عَلْوَا. وَسَلِيمٌ ـ أَيْضًا ـ مِنْ كُلِّ مُنَفِّرٍ طَبْعًا.
Dan Rasul: adalah seorang manusia, hidup, laki-laki, dari Bani Adam. Maka ia adalah yang paling sempurna dari mereka yang diutus kepadanya: dalam ilmu, kecerdasan, kekuatan pendapat, dan pemikiran yang tajam.
Selamat dari kehinaan asal-usul, kelembutan ibu-ibu, dan kehinaan ketinggian. Dan juga selamat dari setiap hal yang secara tabiat menjijikkan.
وَمَا نُقِلَ عَنْ سَيِّدِنَا أَيُّوبَ فَهُوَ مِنَ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ الدَّخِيلَةِ.
Dan apa yang dinukil dari Nabi Ayyub adalah termasuk Israiliyat yang menyusup.
وَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْهِ بِشَرْعٍ وَأَمَرَ بِتَبْلِيغِهِ، فَإِنْ لَمْ يُؤْمَرْ فَفِي فِيهِمَا عُمُومٌ وَخُصُوصٌ فَحَقِّقْ هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ الْمَشْهُورُ.
Dan sungguh telah diwahyukan kepadanya syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya, maka jika tidak diperintahkan, di antara keduanya ada keumuman dan kekhususan, maka pastikan ini adalah yang benar dan masyhur.
(32)
Penjelasan:
Makna Kedua dari Syahadat: Kesaksian terhadap Rasul ﷺ
Teks yang sedang kita bahas menjelaskan makna bagian kedua dari dua kalimat syahadat, yaitu:
“وهي شهادة الرسول ﷺ”
“Yaitu kesaksian terhadap Rasul ﷺ.”
Syahadat ini bermakna meyakini dan menyaksikan dengan hati, lisan, dan perbuatan bahwa Muhammad bin Abdillah adalah utusan Allah. Ia bukan sekadar tokoh sejarah atau guru spiritual, tetapi nabi terakhir dan pembawa risalah Ilahiyah untuk seluruh makhluk.
1. Kerasulan untuk Semua Makhluk
Teks menyebut bahwa Nabi Muhammad ﷺ diutus kepada seluruh bangsa, baik Arab maupun non-Arab, jin dan manusia.
“بعث النبي الأمي القرشي «محمدا» ﷺ برسالته إلى كافة العرب والعجم، والجن والإنس”
Ini menegaskan bahwa risalah Islam bersifat universal. Ia bukan terbatas pada satu suku, etnis, atau bangsa. Bahkan jin, makhluk halus yang tidak terlihat, juga menjadi bagian dari umat dakwah beliau.
Sebagaimana Allah berfirman:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.” (QS. Al-A’raf: 158)
Dan dalam surah Al-Ahqaf:
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan sekelompok jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an…”
2. Nabi Muhammad ﷺ Menyempurnakan Syariat
“فنسخ بشريعته الشرائع إلا ما قر”
“Dengan syariatnya, beliau telah menghapus syariat-syariat sebelumnya, kecuali yang tetap diakui.”
Maksudnya, syariat Nabi Muhammad ﷺ adalah syariat penutup, yang menghapus aturan-aturan terdahulu, baik dari Taurat, Zabur, maupun Injil. Namun, jika ada ajaran terdahulu yang masih tetap dijaga oleh Islam, maka itu berlaku sebagai bagian dari Islam, bukan dari syariat sebelumnya.
Contohnya: larangan berzina, keadilan dalam hukum, larangan mencuri — semua itu telah ada dalam ajaran nabi-nabi sebelumnya, dan dikuatkan kembali dalam syariat Rasulullah ﷺ.
3. Nabi Muhammad ﷺ adalah Sayyidul Basyar
“وفضله على سائر الأنبياء، وجعله سيد البشر”
“Allah memuliakannya di atas seluruh nabi, dan menjadikannya sebagai pemimpin seluruh manusia.”
Ini menunjukkan keyakinan Ahlussunnah bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah makhluk terbaik, bahkan pemimpin para nabi.
Beliau bersabda:
“أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر”
“Aku adalah pemimpin anak-anak Adam pada hari kiamat, dan aku tidak sombong.” (HR. Muslim)
4. Syahadat Tauhid Tidak Sempurna Tanpa Syahadat Rasul
“ومنَع كَمال الإيمان بشهادة التوحيد ما لم تُقرن بشهادة الرسول”
Artinya, seseorang belum dikatakan beriman secara sempurna hanya dengan mengucap “La ilaha illallah”, kecuali ia juga bersaksi bahwa “Muhammad Rasulullah”.
Kalimat tauhid dan kerasulan adalah dua sisi dari satu iman.
Tauhid menunjukkan bahwa hanya Allah yang disembah, sedangkan syahadat Muhammad menunjukkan bahwa cara menyembah Allah hanyalah melalui ajaran Rasulullah ﷺ.
Keduanya tidak bisa dipisahkan.
5. Wajib Membenarkan Semua Kabar dari Beliau
“وألزم الخلق تصديقه في جميع ما أخبر عنه من أمر الدنيا والآخرة”
Ini adalah poin penting: bahwa bagian dari syahadat Rasul adalah membenarkan semua kabar dan berita yang dibawa oleh Nabi ﷺ, baik menyangkut dunia (seperti hukum, etika, peristiwa), maupun akhirat (seperti surga, neraka, hari kiamat, hisab, timbangan, syafaat, dan seterusnya).
Membantah satu kabar yang sahih dari Rasulullah ﷺ — walau hanya satu — dapat membatalkan keimanan. Karena itu berarti kita tidak mempercayai beliau sepenuhnya sebagai utusan Allah.
6. Penjelasan Tambahan (Catatan Kaki)
Dalam catatan kaki, disebutkan:
“إن الله تعالى قد أرسل رسوله عليه الصلاة والسلام، إلى الثقلين: يعني الإنس، والجن، إجماعًا…”
Penulis menegaskan bahwa pengutusan Rasul ﷺ kepada manusia dan jin adalah ijma‘ (kesepakatan ulama). Bahkan, beberapa ulama menyatakan bahwa malaikat pun terlibat dalam interaksi dakwah Rasul ﷺ, bukan dalam bentuk taklif (beban hukum), tetapi sebagai bentuk penghormatan dan pembelajaran.
Disebut pula bahwa:
“الرسول: هو إنسان، حي، ذكر، من بني آدم”
Definisi ini penting agar kita tidak terkecoh oleh klaim palsu tentang kerasulan. Nabi adalah:
manusia (bukan malaikat)
laki-laki
masih hidup ketika menerima wahyu
dari keturunan Adam
Syarat ini menafikan anggapan bahwa ada rasul dari kalangan jin, wanita, atau malaikat dalam bentuk kerasulan syariat.
7. Bantahan Terhadap Isu-Isu Lemah
Disebut pula bahwa sebagian riwayat yang menceritakan Nabi Ayyub dengan penyakit yang menjijikkan adalah termasuk israiliyyat (cerita dari Bani Israil) yang tidak bisa dijadikan sandaran dalam akidah atau kemuliaan nabi. Semua nabi itu dipelihara dari hal-hal yang menjatuhkan martabat dan menimbulkan kejijikan alami.
Syahadat kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ucapan, tapi ikrar seumur hidup untuk mengikuti, membenarkan, dan mencintainya di atas segalanya.
Meneladani akhlaknya, mencintai sunnahnya, dan menjaga kemuliaan beliau itulah bukti sejati dari syahadat kita.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ فِي مَحَبَّتِهِ، وَالثَّابِتِينَ عَلَى سُنَّتِهِ، وَالْمُبَايِعِينَ لَهُ فِي كُلِّ أَحْوَالِنَا، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ، وَارْزُقْنَا شَفَاعَتَهُ، وَاجْعَلْنَا تَحْتَ لِوَائِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Artinya:
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, nabi yang ummi. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang jujur dalam mencintainya, teguh mengikuti sunnahnya, dan setia dalam membelanya di setiap keadaan kami.
Kumpulkanlah kami dalam kelompoknya, karuniakan syafaatnya kepada kami, dan tempatkanlah kami di bawah panjinya pada hari kiamat.
Oleh: Ki Pekathik


