Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 5

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 1
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 5

Sultan Abdul Hamid II: Antara Konservatisme dan Modernisasi

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 5 – Sultan Abdul Hamid II, yang naik takhta di tengah krisis, sebenarnya bukan seorang yang menentang modernisasi sepenuhnya. Ia adalah pemimpin yang cerdas dan pragmatis.

Ia menyadari betul bahwa Kesultanan membutuhkan reformasi di berbagai bidang. Di masa pemerintahannya, ia membangun jaringan rel kereta api yang luas, termasuk rel kereta api Hijaz yang strategis menuju kota suci.

Memperluas sistem pendidikan modern, mendirikan sekolah-sekolah profesional, dan memperkuat militer. Ia juga membangun jaringan komunikasi telegraf yang canggih untuk mengendalikan imperiumnya yang luas.

Namun, metode Abdul Hamid II dalam mencapai modernisasi sangat berbeda dengan visi Turki Muda. Sultan percaya bahwa untuk menyelamatkan Kesultanan, ia harus memegang kendali penuh. Ia melihat bagaimana reformasi liberal di negara-negara lain seringkali berujung pada kekacauan dan perpecahan.

Baginya, persatuan dan stabilitas adalah yang utama, dan ini hanya bisa dicapai melalui pemerintahan sentral yang kuat di bawah otoritas Khalifah. Oleh karena itu, ia membubarkan parlemen pada tahun 1878, hanya dua tahun setelah dibentuk, dan memerintah secara otokratis.

Ia juga sangat curiga terhadap pengaruh asing dan ide-ide Barat yang dianggapnya dapat merusak tatanan sosial dan agama Utsmaniyah. Ia membentuk jaringan polisi rahasia yang luas untuk mengawasi setiap potensi ancaman, baik dari dalam maupun luar.

Pendekatan ini, meskipun efektif dalam menekan pemberontakan dan menjaga stabilitas sesaat, justru menciptakan ketidakpuasan yang mendalam di kalangan elit terdidik, yang merasa dikekang dan tidak memiliki suara. Ketidakpuasan inilah yang menjadi lahan subur bagi pertumbuhan Turki Muda.

Revolusi Turki Muda 1908: Pukulan Telak dari Dalam

Ketegangan antara Sultan dan Turki Muda memuncak pada tahun 1908. Didorong oleh ketakutan akan campur tangan asing yang lebih besar dan ambisi untuk mengambil alih kekuasaan, para perwira militer yang loyal pada ideologi Turki Muda melancarkan sebuah revolusi dari Makedonia.

Mayor Ahmet Niyazi Bey dan Enver Bey (yang kelak menjadi tokoh sentral Turki Muda), memimpin pemberontakan di Resna, menuntut pemulihan konstitusi. Mereka mengancam akan berbaris ke Istanbul jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Sultan Abdul Hamid II, yang telah berhasil menekan banyak pemberontakan sebelumnya, kali ini berada dalam posisi yang sangat sulit. Pasukan-pasukan yang seharusnya setia kepadanya kini terpecah belah, dengan banyak perwira militer yang diam-diam atau terang-terangan bersimpati pada Turki Muda.

Ia menyadari bahwa perlawanan militer akan berujung pada perang saudara yang akan menghancurkan Kesultanan. Dengan berat hati, pada tanggal 23 Juli 1908, Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan dekret yang mengembalikan Konstitusi 1876 dan mengumumkan pemilihan umum untuk parlemen.

Baca Juga:

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 4 https://sabilulhuda.org/sultan-terakhir-turki-utsmani-sultan-abdul-hamid-ii-part-4/

Momen ini adalah pukulan telak bagi Sultan. Ia merasa dikhianati oleh para perwiranya sendiri, oleh birokrat yang telah ia bina, dan oleh rakyat yang seharusnya setia kepadanya sebagai Khalifah. Ia telah menghabiskan puluhan tahun untuk membangun kembali otoritas sentral dan menjaga Kesultanan dari pengaruh asing, namun kini.

Kekuasaannya direbut dari dalam oleh mereka yang mengklaim bertindak demi kebaikan Kesultanan itu sendiri. Baginya, ini bukan sekadar kekalahan politik, melainkan pengkhianatan pribadi yang mendalam.

Di mata Turki Muda dan banyak rakyat, tindakan Sultan untuk mengembalikan konstitusi adalah kemenangan besar, hari kebebasan dan pembaharuan. Euforia menyelimuti Istanbul, dengan demonstrasi massal dan perayaan. Namun, bagi Sultan, itu adalah awal dari akhir.

Ia tahu bahwa mengembalikan konstitusi berarti menyerahkan kendali, dan begitu kendali lepas, nasib Kesultanan akan semakin tidak menentu.

Kudeta 1909: Kejatuhan yang Memilukan

Meskipun konstitusi telah di pulihkan, ketegangan antara Sultan dan Turki Muda tidak mereda. Turki Muda, yang kini mengendalikan parlemen dan sebagian besar militer, semakin radikal dalam tuntutan mereka.

Mereka tidak puas hanya dengan konstitusi; mereka menginginkan kendali penuh dan pembersihan sisa-sisa pengaruh Sultan.

Pada tanggal 13 April 1909 (31 Maret menurut kalender Rumi), sebuah pemberontakan kontra-revolusi meletus di Istanbul, yang di kenal sebagai Insiden 31 Maret. Pemberontakan ini, yang di dukung oleh elemen-elemen konservatif dan kelompok religius yang menentang modernisasi Turki Muda.

Menuntut pengembalian Syariah dan pemecatan kabinet Turki Muda. Meskipun Sultan Abdul Hamid II tidak terbukti terlibat langsung dalam pemberontakan ini, Turki Muda dengan cepat memanfaatkan situasi tersebut untuk tujuan mereka.

Mereka menyalahkan Sultan atas kekacauan tersebut, menuduhnya bersekongkol dengan kaum reaksioner untuk menggagalkan konstitusi. Tentara Aksi, sebuah kekuatan militer yang loyal kepada Turki Muda dan di pimpin oleh Mahmud Shevket Pasha.

Segera berbaris dari Thessaloniki ke Istanbul untuk menumpas pemberontakan. Setelah pertempuran singkat, pemberontakan berhasil di padamkan.

Segera setelah itu, Turki Muda memutuskan untuk menyingkirkan Abdul Hamid II secara permanen. Pada tanggal 27 April 1909, parlemen Utsmaniyah, yang di dominasi oleh Turki Muda, bersidang dan dengan suara bulat melengserkan Sultan Abdul Hamid II.

Mereka menyatakan bahwa Sultan tidak layak lagi memerintah karena tindakannya yang di anggap melanggar konstitusi dan mencoba mengembalikan pemerintahan absolut. Sebuah fatwa agama juga di keluarkan untuk melegitimasi pelengseran tersebut.

Penggantinya adalah saudaranya yang lebih tua, Mehmed V, yang sebagian besar hanyalah boneka bagi pemerintahan Turki Muda. Bagi Abdul Hamid II, ini adalah momen paling pahit dalam hidupnya. Ia adalah seorang Khalifah yang telah mengabdikan hidupnya untuk melayani dan melindungi umat Islam.

Namun kini ia diusir dari singgasananya oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pelindungnya. Ia dibawa pergi dari Istana Yildiz dalam keadaan yang menyedihkan, di kawal oleh para perwira Turki Muda yang dulunya mungkin ia bina.

Pengasingan dan Kesunyian Terakhir

Setelah di lengserkan, Abdul Hamid II di asingkan ke Thessaloniki, kota tempat Revolusi Turki Muda di mulai. Ia di tempatkan di sebuah vila mewah namun di jaga ketat, praktis menjadi tahanan. Di sana, ia hidup dalam kesunyian dan kepedihan, menyaksikan dari jauh bagaimana Kesultanan yang ia coba pertahankan dengan gigih terus merosot.

Ia melihat wilayah-wilayah Utsmaniyah hilang satu per satu dalam Perang Balkan, dan kemudian, gejolak yang lebih besar dengan meletusnya Perang Dunia I, yang akhirnya akan menjadi perang terakhir bagi imperium Utsmaniyah.

Ketika Thessaloniki jatuh ke tangan Yunani pada tahun 1912 selama Perang Balkan Pertama, ia di pindahkan kembali ke Istanbul dan di tempatkan di Istana Beylerbeyi, di mana ia menghabiskan sisa hidupnya.

Sultan Abdul Hamid II meninggal pada tanggal 10 Februari 1918, hanya beberapa bulan sebelum Kesultanan Utsmaniyah benar-benar hancur setelah kekalahan di Perang Dunia I. Ia meninggal dalam kesendirian, dengan hati yang hancur.

Karena menyaksikan impian seumur hidupnya untuk menyelamatkan Kekhalifahan Islam kandas oleh gelombang perubahan zaman. Yang lebih menyakitkan, oleh tangan-tangan pengkhianatan dari dalam.

Kisah Sultan Abdul Hamid II adalah cerminan tragis seorang pemimpin yang terjebak di persimpangan sejarah, berjuang melawan gelombang modernisasi dan nasionalisme yang tak terhindarkan.

Pengkhianatan dari Turki Muda bukan hanya menggulingkannya dari takhta. Tetapi juga mempercepat kehancuran sebuah imperium yang telah bertahan selama enam abad. Membuka jalan bagi lahirnya negara bangsa Turki yang baru.

Warisan Abdul Hamid II tetap menjadi subjek perdebatan, namun kisah pengkhianatan yang ia alami tak terbantahkan adalah salah satu episode paling menyedihkan dalam sejarah Utsmaniyah. ( Bersambung)

Baca Juga: Sultan Agung

Oleh: Ki Pekathik