
Penjajahan Digital! Ketika Aplikasi Menguasai Pasar Dan Memeras Rakyat – Di tengah gemerlap era digital, kita sering mendengar narasi manis: Gojek dan Grab menciptakan lapangan pekerjaan, Shopee dan Tokopedia membantu UMKM naik kelas.
Sekilas, seolah olah kita sedang menyaksikan sebuah revolusi yang membawa berkah bagi banyak orang. Namun, mari kita buka mata lebih lebar: benarkah mereka benar-benar menciptakan sesuatu yang baru?
Mereka Bukan Pencipta Tetapi Hanya Pengambil Alih
Namun faktanya, sebelum Gojek hadir, ojek pangkalan sudah ada terlebih dahulu mengantar orang ke mana-mana. Kemudian sebelum Shopee dan Tokopedia berdiri, jual beli di pasar tradisional dan toko-toko rakyat sudah hidup dan menghidupi.
Jadi sebenarnya mereka ini bukan pencipta, melainkan hanya mengambil pengambil alih yang sudah ada. Yang mereka lakukan hanyalah membungkus aktivitas lama ke dalam aplikasi, lalu perlahan-lahan menguasainya.
Awalnya, dengan menggunakan aplikasi memang terasa praktis dan modern. Pesan ojek cukup lewat aplikasi, belanja kita tinggal meng-klik. Tetapi, perlahan lahan dampak negatifnya sangat terasa.
Ojek pangkalan mati karena mereka kalah bersaing. Pasar tradisional juga semakin hari semakin sepi. Toko-toko kecil gulung tikar karena pelanggan lari ke dunia digital. Inilah wajah penjajahan baru, ia datang bukan untuk membangun, tapi untuk mengambil pasar yang sudah ada.
Baca Juga:

Ketika Negara Menarik Terlalu Jauh Pajak https://sabilulhuda.org/ketika-negara-menarik-terlalu-jauh-pajak/
Lahirnya Monopoli Digital
Lebih parahnya lagi, setelah ia berhasil menguasai pasar, kemudian mereka menciptakan sistem monopoli. Kini, kalau mau naik ojek, pilihannya terbatas pada satu atau dua aplikasi saja.
Kalau mau jualan online, mereka harus tunduk pada algoritma e-commerce. Rakyat di paksa mengikuti aturan yang dibuat sepihak. Abang ojek kehilangan hak menentukan tarif, seller tercekik potongan dan diskon paksa, sementara konsumen sering terkecoh promo-promo palsu.
Pemerintah Yang Mengabaikan Kondisi Tersebut
Yang paling ironis, pemerintah seolah tak berpihak pada rakyat. Para abang ojek ditarik pajak, kemudian UMKM diperas potongan, tapi para pemilik aplikasi menikmati keuntungan besar dari kantor mewah di luar negeri.
Investor aplikator justru mendapat insentif dari negara. Rakyat yang seharusnya diberdayakan malah diperas pelan-pelan.
Penjajahan Modern Lewat Algoritma
Inilah wajah penjajahan modern. Bukan lagi kapal-kapal asing yang merapat di pelabuhan, melainkan server-server raksasa yang bekerja dalam diam. Penjajahan ini tidak lagi datang dengan senjata, tapi dengan algoritma yang menentukan. Siapa yang boleh bertahan dan siapa yang harus tersingkir.
Kita saat ini sedang dijajah, bukan diberdayakan. Narasi inovasi hanyalah sebuah topeng. Yang terjadi sesungguhnya adalah eksploitasi pasar rakyat demi keuntungan segelintir pemodal.
Saatnya Rakyat Bersatu Tegakkan Ekonomi Digital
Sudah saatnya rakyat sadar dan bersuara. Pasar tradisional, toko rakyat, dan para pekerja lokal harus mendapat perlindungan nyata. Regulasi yang adil dan berpihak pada rakyat kecil perlu ditegakkan.
Era digital seharusnya memanusiakan, bukan memeras. Kita butuh solusi yang benar-benar membangun, bukan sekadar algoritma yang menghisap dalam diam.
Jika kita terus diam, maka kelak bangsa ini hanya menjadi penonton di tanah sendiri, sementara keuntungan besar terus mengalir ke luar negeri. Jangan biarkan penjajahan modern ini semakin mengakar. Saatnya kita bersatu dan menegakkan kedaulatan ekonomi digital untuk rakyat.













