Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 31

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8
Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 31

اذ كان في الازل موجودا وحده، ولم يكن معه غيره، فاحدث الخلق بعد ان لم يكن اظهارا للقدرة، وتحقيقا لما سبق من ارادته، وحق في الازل من كلمته، لا لافتقاره اليه وحاجته.

الفقرة الثانية:

وانه متفضل بالخلق والاختراع لا عن وجوب، ومتصف بالانعام والاصلاح لا عن لزوم، فله الفضل والاحسان، والنعمة والامتنان، اذ كان قادرا على ان يصب على عباده انواع العذاب، ويبتليهم بضروب الآلام والاوصاب، ولو فعل ذلك لكان

ذلك منه عدلاً، ولم يكن قبيحاً ولا ظلماً، وانه يثيب عباده على الطاعات بحكم الكرم والوعد، لا بحكم الاستحقاق واللزوم، اذ لا يجب عليه فعل، ولا يتصور منه ظلم، ولا يجب عليه لاحد حق، فان حقه في الطاعات واجب على الخلق، بإيجابه على

لسان أنبيائه لا بمجرد العقل، ولكنه بعث الرسل، واظهر صدقهم بالمعجزات الظاهرة، فلزم أمره ونهيه، ووعده ووعيده، فأوجب على الخلق تصديقهم فيما جاؤوا به.

٣١

Cara baca:

إِذ كَانَ فِي الْأَزَلِ مَوْجُودًا وَحْدَهُ،

Ketika Dia ada di keabadian sendiri,

وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُ غَيْرُهُ،

dan tidak ada selain Dia bersama-Nya,

فَأَحْدَثَ الْخَلْقَ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ

maka Dia menciptakan makhluk setelah sebelumnya tidak ada,

إِظْهَارًا لِلْقُدْرَةِ،

sebagai penampakan kekuasaan-Nya,

وَتَحْقِيقًا لِمَا سَبَقَ مِن إِرَادَتِهِ،

dan sebagai realisasi dari kehendak-Nya yang telah mendahului,

وَحَقَّ فِي الْأَزَلِ مِنْ كَلِمَتِهِ،

dan apa yang telah menjadi hak (ketetapan) di keabadian dari firman-Nya,

لَا لِافْتِقَارِهِ إِلَيْهِ وَحَاجَتِهِ.

bukan karena Dia membutuhkan atau berhajat kepada mereka.

وَإِنَّهُ مُتَفَضِّلٌ بِالْخَلْقِ وَالِاخْتِرَاعِ وَالتَّكْلِيفِ لَا عَنْ وُجُوبٍ،

Dan sesungguhnya Dia Maha Pemberi Karunia dalam penciptaan, penemuan, dan pembebanan (syariat) bukan karena suatu kewajiban,

وَمُتَّصِفٌ بِالْإِنْعَامِ وَالْإِصْلَاحِ لَا عَنْ لُزُومٍ،

dan disifati dengan pemberian nikmat dan perbaikan bukan karena keharusan,

فَلَهُ الْفَضْلُ وَالْإِحْسَانُ،

maka bagi-Nya segala keutamaan dan kebaikan,

وَالنِّعْمَةُ وَالِامْتِنَانُ،

dan segala nikmat serta anugerah,

إِذْ كَانَ قَادِرًا عَلَى أَنْ يُصِبَ عَلَى عِبَادِهِ أَنْوَاعَ الْعَذَابِ،

karena Dia mampu menimpakan berbagai jenis azab kepada hamba-hamba-Nya,

وَيَبْتَلِيَهُمْ بِضُرُوبِ الْآلَامِ وَالْأَوْصَابِ،

dan menguji mereka dengan berbagai macam penderitaan dan kesusahan,

وَلَوْ فَعَلَ ذَلِكَ لَكَانَ ذَلِكَ مِنْهُ عَدْلًا،

dan seandainya Dia melakukan itu, maka itu adalah keadilan dari-Nya,

وَلَمْ يَكُنْ قَبِيحًا وَلَا ظُلْمًا،

dan tidaklah itu buruk atau zalim,

وَأَنَّهُ يُثِيبُ عِبَادَهُ عَلَى الطَّاعَاتِ بِحُكْمِ الْكَرَمِ وَالْوَعْدِ،

dan sesungguhnya Dia memberi pahala kepada hamba-hamba-Nya atas ketaatan berdasarkan kemurahan dan janji-Nya,

لَا بِحُكْمِ الِاسْتِحْقَاقِ وَاللُّزُومِ،

bukan berdasarkan hak (hamba) atau keharusan (bagi Allah),

إِذْ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ فِعْلٌ،

karena tidak ada perbuatan yang wajib bagi-Nya,

وَلَا يُتَصَوَّرُ مِنْهُ ظُلْمٌ،

dan tidak terbayangkan kezaliman dari-Nya,

وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ لِأَحَدٍ حَقٌّ،

dan tidak ada hak bagi siapa pun yang wajib bagi-Nya,

فَإِنَّ حَقَّهُ فِي الطَّاعَاتِ وَاجِبٌ عَلَى الْخَلْقِ،

karena sesungguhnya hak-Nya dalam ketaatan adalah wajib bagi makhluk,

بِإِيجَابِهِ عَلَى لِسَانِ أَنْبِيَائِهِ لَا بِمُجَرَّدِ الْعَقْلِ،

dengan kewajiban yang Dia tetapkan melalui lisan para nabi-Nya, bukan semata-mata akal (manusia),

وَلَكِنَّهُ بَعَثَ الرُّسُلَ،

akan tetapi Dia mengutus para rasul,

وَأَظْهَرَ صِدْقَهُمْ بِالْمُعْجِزَاتِ الظَّاهِرَةِ،

dan menampakkan kebenaran mereka dengan mukjizat-mukjizat yang nyata,

فَلِذَا أَمْرُهُ وَنَهْيُهُ،

maka dari itu perintah-Nya dan larangan-Nya,

وَوَعْدُهُ وَوَعِيدُهُ،

dan janji-Nya (pahala) dan ancaman-Nya (siksa),

فَأَوْجَبَ عَلَى الْخَلْقِ تَصْدِيقَهُمْ فِيمَا جَاؤُوا بِهِ.

maka Dia mewajibkan kepada makhluk untuk membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul.

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 30

Penjelasan: 

Kekuasaan dan Kehendak Allah yang Mutlak

mengukuhkan konsep Tauhid Rububiyyah, yaitu keesaan Allah dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta. Teks ini menegaskan bahwa Allah adalah eksisten satu-satunya sejak keabadian (azal), tanpa ada apapun atau siapapun yang menyertai-Nya.

Ini menolak segala bentuk kemusyrikan atau gagasan tentang adanya sekutu bagi Allah dalam keberadaan dan kekuasaan-Nya.

Penciptaan makhluk, termasuk manusia, tidak dilakukan karena kebutuhan atau ketergantungan Allah terhadap ciptaan-Nya. Sebaliknya, penciptaan ini merupakan manifestasi dan penampakan dari kekuasaan-Nya yang tak terbatas (إِظْهَارًا لِلْقُدْرَةِ).

Dan realisasi dari kehendak-Nya yang telah ditetapkan sejak azali (وَتَحْقِيقًا لِمَا سَبَقَ مِن إِرَادَتِهِ). Ini berarti bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah hasil dari kehendak dan firman-Nya yang telah ada di keabadian.

Konsep ini menekankan kemandirian Allah yang mutlak dari segala ciptaan-Nya. Dia tidak memerlukan apapun dari makhluk-Nya, melainkan makhluklah yang sepenuhnya bergantung kepada-Nya. Penciptaan adalah tindakan kemurahan hati dan keagungan, bukan kewajiban atau kebutuhan dari sisi Ilahi.

Karunia, Keadilan, dan Kemurahan Allah

Bagian kedua dari teks, “وَإِنَّهُ مُتَفَضِّلٌ بِالْخَلْقِ وَالِاخْتِرَاعِ وَالتَّكْلِيفِ لَا عَنْ وُجُوبٍ، وَمُتَّصِفٌ بِالْإِنْعَامِ وَالْإِصْلَاحِ لَا عَنْ لُزُومٍ، فَلَهُ الْفَضْلُ وَالْإِحْسَانُ، وَالنِّعْمَةُ وَالِامْتِنَانُ,” lebih lanjut menguatkan sifat kemurahan dan anugerah Allah. Ditekankan bahwa Allah memberikan karunia berupa penciptaan (الْخَلْقِ), penemuan (الِاخْتِرَاعِ), dan pembebanan syariat (التَّكْلِيفِ) bukan karena suatu kewajiban yang harus Dia penuhi.

Ini adalah poin penting yang membedakan pandangan Islam dari beberapa filsafat lain yang mungkin berpendapat bahwa Tuhan “harus” menciptakan atau “harus” berbuat baik. Dalam Islam, kemurahan Allah adalah sifat intrinsik-Nya, bukan respons terhadap suatu keharusan eksternal.

Demikian pula, pemberian nikmat (الْإِنْعَامِ) dan perbaikan (الْإِصْلَاحِ) yang dilakukan Allah tidaklah karena suatu keharusan. Artinya, semua kebaikan yang kita rasakan, semua nikmat yang kita terima, berasal dari kemurahan hati-Nya yang tak terbatas (الْفَضْلُ وَالْإِحْسَانُ).

Bukan karena kita “layak” atau “berhak” mendapatkannya dari sisi keharusan bagi Allah. Inilah esensi dari syukur dalam Islam, yaitu pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari anugerah Allah semata.

Teks ini juga menyentuh aspek keadilan Ilahi. “إِذْ كَانَ قَادِرًا عَلَى أَنْ يُصِبَ عَلَى عِبَادِهِ أَنْوَاعَ الْعَذَابِ، وَيَبْتَلِيَهُمْ بِضُرُوبِ الْآلَامِ وَالْأَوْصَابِ، وَلَوْ فَعَلَ ذَلِكَ لَكَانَ ذَلِكَ مِنْهُ عَدْلًا، وَلَمْ يَكُنْ قَبِيحًا وَلَا ظُلْمًا.” Ini adalah poin yang seringkali disalahpahami.

Disebutkan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh untuk menimpakan berbagai jenis azab dan penderitaan kepada hamba-hamba-Nya. Yang lebih penting, jika Dia melakukan itu, itu adalah bentuk keadilan dari-Nya, bukan kezaliman atau perbuatan buruk.

Mengapa demikian? Karena Allah adalah pemilik mutlak segala sesuatu, termasuk hidup dan mati. Setiap makhluk adalah ciptaan-Nya, dan Dia memiliki hak penuh atas ciptaan-Nya. Jika seorang pencipta memiliki hak penuh atas hasil karyanya, apalagi Sang Pencipta alam semesta ini.

Konsep ini menegaskan bahwa Allah tidak dapat berbuat zalim karena kezaliman hanya terjadi ketika seseorang melanggar hak orang lain atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keadilan yang telah ditetapkan.

Karena tidak ada yang memiliki hak atas Allah, dan Allah adalah penentu keadilan, maka tindakan-Nya selalu adil. Ini adalah penegasan terhadap sifat Allah sebagai Al-Adl (Yang Maha Adil).

Hukuman atau cobaan yang diberikan-Nya adalah bagian dari keadilan-Nya, mungkin sebagai balasan atas dosa, sebagai ujian untuk meningkatkan derajat, atau sebagai peringatan.

Pahala, Ketaatan, dan Kewajiban Manusia

Bagian selanjutnya membahas tentang pahala: “وَأَنَّهُ يُثِيبُ عِبَادَهُ عَلَى الطَّاعَاتِ بِحُكْمِ الْكَرَمِ وَالْوَعْدِ، لَا بِحُكْمِ الِاسْتِحْقَاقِ وَاللُّزُومِ، إِذْ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ فِعْلٌ، وَلَا يُتَصَوَّرُ مِنْهُ ظُلْمٌ، وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ لِأَحَدٍ حَقٌّ.” Poin ini sangat krusial dalam akidah.

Pahala yang diberikan Allah kepada hamba-Nya atas ketaatan bukanlah karena hamba itu “berhak” atau “layak” menerimanya sebagai suatu keharusan bagi Allah. Sebaliknya, pahala itu diberikan berdasarkan kemurahan-Nya (الْكَرَمِ) dan janji-Nya (الْوَعْدِ).

Ini berarti bahwa meskipun kita beribadah sepanjang hidup, shalat, puasa, zakat, haji, dan melakukan segala kebaikan, kita tidak bisa mengklaim bahwa Allah “wajib” memberi kita surga. Surga adalah anugerah murni dari Allah.

Jika kita masuk surga, itu semata-mata karena rahmat dan kemurahan-Nya, bukan karena amal perbuatan kita. Amal perbuatan kita adalah sebab yang mengundang rahmat-Nya, namun bukan menjadi harga yang harus Dia bayar.

Ini sejalan dengan banyak hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa tidak seorang pun masuk surga karena amalnya, melainkan karena rahmat Allah.

Mengapa demikian? Karena tidak ada perbuatan yang wajib bagi Allah (لَا يَجِبُ عَلَيْهِ فِعْلٌ). Dia tidak terikat oleh kewajiban apapun, karena Dia adalah Pencipta dan Penguasa segalanya.

Dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak terbayangkan kezaliman dari-Nya (وَلَا يُتَصَوَّرُ مِنْهُ ظُلْمٌ) dan tidak ada hak bagi siapa pun yang wajib bagi-Nya (وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ لِأَحَدٍ حَقٌّ). Ini mengukuhkan kedaulatan mutlak Allah.

Lalu, bagaimana dengan kewajiban kita kepada Allah? Teks ini menjelaskan, “فَإِنَّ حَقَّهُ فِي الطَّاعَاتِ وَاجِبٌ عَلَى الْخَلْقِ، بِإِيجَابِهِ عَلَى لِسَانِ أَنْبِيَائِهِ لَا بِمُجَرَّدِ الْعَقْلِ.” Hak Allah atas ketaatan (tauhid, ibadah, dll.) adalah wajib bagi makhluk (حَقَّهُ فِي الطَّاعَاتِ وَاجِبٌ عَلَى الْخَلْقِ).

Namun, kewajiban ini ditetapkan oleh Allah sendiri melalui lisan para nabi-Nya (بِإِيجَابِهِ عَلَى لِسَانِ أَنْبِيَائِهِ), bukan semata-mata oleh akal manusia (لَا بِمُجَرَّدِ الْعَقْلِ).

Poin ini menekankan pentingnya wahyu (risalah) dalam menentukan kewajiban agama. Meskipun akal dapat menuntun manusia kepada pengenalan Tuhan secara umum, detail-detail syariat, perintah dan larangan, serta konsep pahala dan dosa, hanya dapat diketahui melalui bimbingan kenabian.

Akal tidak bisa secara mandiri menentukan segala sesuatu yang wajib bagi kita atau yang berhak atas Allah. Inilah mengapa pengutusan Rasul adalah sebuah rahmat dan kenikmatan bagi manusia.

Peran Rasul dan Bukti Kenabian

Teks ditutup dengan menegaskan peran vital para Rasul: “وَلَكِنَّهُ بَعَثَ الرُّسُلَ، وَأَظْهَرَ صِدْقَهُمْ بِالْمُعْجِزَاتِ الظَّاهِرَةِ، فَلِذَا أَمْرُهُ وَنَهْيُهُ، وَوَعْدُهُ وَوَعِيدُهُ، فَأَوْجَبَ عَلَى الْخَلْقِ تَصْدِيقَهُمْ فِيمَا جَاؤُوا بِهِ.” Allah, dengan kemurahan-Nya, mengutus para Rasul untuk membimbing manusia.

Kebenaran para Rasul ini ditampakkan melalui mukjizat-mukjizat yang nyata (الْمُعْجِزَاتِ الظَّاهِرَةِ), yang berfungsi sebagai bukti kebenaran klaim kenabian mereka.

Mukjizat adalah fenomena luar biasa yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa, dan itu adalah tanda dari Allah bahwa orang yang membawa mukjizat itu adalah utusan-Nya yang benar.

Oleh karena itu, perintah dan larangan Allah (أَمْرُهُ وَنَهْيُهُ), serta janji (pahala) dan ancaman (siksa) (وَعْدُهُ وَوَعِيدُهُ), datang melalui para Rasul ini. Karena kebenaran mereka telah terbukti melalui mukjizat, maka wajib bagi seluruh makhluk untuk membenarkan dan mengikuti apa yang mereka bawa (فَأَوْجَبَ عَلَى الْخَلْقِ تَصْدِيقَهُمْ فِيمَا جَاؤُوا بِهِ).

Ini adalah dasar dari Tauhid Uluhiyyah, yaitu keesaan Allah dalam peribadahan, yang mengharuskan kita hanya beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh para Rasul-Nya.

Secara keseluruhan, teks ini merupakan ringkasan akidah yang komprehensif, menekankan keesaan dan kemutlakan Allah, keadilan dan kemurahan-Nya yang tak terbatas, sifat-Nya yang tidak membutuhkan apa pun, serta kewajiban manusia untuk taat kepada-Nya melalui bimbingan para Rasul.

Ini adalah fondasi penting dalam memahami hubungan antara Pencipta dan makhluk, serta dasar bagi kehidupan beragama yang benar.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُصَدِّقُونَ رُسُلَكَ وَيُطِيعُونَ أَمْرَكَ وَنَهْيَكَ، وَاجْعَلْ حَيَاتَنَا كُلَّهَا فِي طَاعَتِكَ وَمَرْضَاتِكَ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْعَاقِبَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang membenarkan Rasul-Mu dan menaati perintah serta larangan-Mu. Dan jadikanlah seluruh hidup kami dalam ketaatan kepada-Mu dan dalam keridhaan-Mu. Karuniakanlah kepada kami sebaik-baik kesudahan di dunia dan akhirat, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Oleh: Ki Pekathik