Qorin (Cerbung Misteri Bab 14)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri Bab 14)

Hanan Menyembunyikan Identitas Ayahnya

Hanan menahan untuk tidak bertanya lebih jauh soal nenek Lastri. Karena Burhan sudah terlanjur memperkenalkan Hanan sebagai orang yang mengerti soal agama. Sementara Hanan berusaha menyembunyikan siapa  almarhum ayahnya. Hanan tidak mau menebang nama besar ayahnya yang dulu dikenal banyak orang.

“Wah Nenek Lastri ini luar biasa, masih kelihatan cantik di usianya,” sanjung Hanan.

“Ah Nak Hanan bisa saja, tapi Nenek Seperti tidak asing mendengar suara Kamu, Nak Hanan!” seru Nenek Lastri.

“Suara Hanan memang pasaran, Nek. Suara kebanyakan lelaki yang bernada Bariton. Tinggi gak rendah juga gak,” jawab Hanan.

“Bisa saja Mas Hanan ini, Nenek sampai tertawa Bahagia bertemu Mas Hanan,” kata bayu menyanjung Hanan.

“Jangan panggil, Mas panggil nama saja. Usia kita sepertinya tidak jauh berbeda,” jawab Hanan.

“OKe, tapi gak enak karena saya menghargai ilmu agama Mas eeh Hanan,” kata Bayu.

“Sama saja, kita sama-sama masih banyak belajar,” kata Hanan.

Hanan tetap bersikap baik dengan Bayu, meski dia adalah pesaing bagi Hanan. Namun, Hanan bukanlah orang yang suka menelikung atau menggunting dalam lipatan. Jika harus bersaing maka Hanan akan bersaing secara sehat. Walaupun sudah kalah start dengan Bayu.

“Kebetulan saya minta tolong dipimpin doa, Hanan!” seru Bayu.

“Jangan saya, kan sudah ada orang yang biasa pimpin doa disni,” kata Hanan.

Baca Juga:

Pertemuan Di Pemakaman Keluarga Bayu

Bayu pun tidak sungkan menceritakan apa yang dialami keluarganya yang dikucilkan. Karena Bayu memandang Hanan datang Bersama Burhan dan Maisaroh. Sehingga Bayu menganggap Hanan dari kerabat Burhan dan maisaroh.

“Astaghfirullahal adzim, jadi begitu? Okelah sebisa saya akan mendoakan kedua orang tuamu,” jawab Hanan.

“Sekalian adikku almarhumah, dia meninggal kecelakaan Bersama bapak sewaktu masih SMP,” kata Bayu.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, kalau begitu saya minta dituliskan nama-nama yang akan dikirim doa,” kata Hanan.

Karena tidak ada alat tulis, Bayu memberi catatan nama keluarga yang akan dikirim doa melalui chat. Sekaligus Bayu dan Hanan saling bertukar nomor.

Doa dan Kisah Masa Lalu yang Terungkap

Kemudian, semua berkumpul di pinggir makan kedua orang tua Bayu dan adiknya. Hanan dipercaya untuk mengirim doa dan diaminkan oleh beberapa orang saja. Keluarga Burhan, Bayu dan neneknya serta beberapa orang petugas makam yang akan memasang batu nisan untuk Dewi.

Hanan memulai dengan mengirimkan hadiah fatihah untuk keluarga Bayu. Kemudian dilanjutkan dengan bacaaan tahlil singkat dan ditutup dengan doa mayit. Proses doa berjalan dengan lancar, tidak terjadi sesuatu.

“Saat Kamu membaca doa, Nenek jadi ingat dengan seseorang yang telah tiada,” kata Nenek Lastri.

“Siapa itu Nek?” tanya Hanan penasaran. Meskipun Hanan sendiri Seperti pernah mendengar suara Nenek Lastri, bahkan ingat dengan wajahnya. Namun, Hanan juga tidak ingat Dimana pernah bertemu dengan Nenek Lastri.

“Dulu almarhum suami ku, sering mengajakku bertemu dengan seseorang. Almarhum suamiku banyak belajar agama dari beliau,” kata Nenek Lastri.

“Oh jadi guru ngaji almarhum sumi Nenek?” tanya Hanan.

“Iya, kami memanggilnya Bopo Munatsir. Beliau juga yang dulu banyak menolong keluarga Nenek,” kata Nenek Lastri.

Hanan terdiam, tak mengucapkan sepatah katapun. Nenek Lastri menceritakan banyak hal tentang kebaikan orang yang disebut Bopo Munatsir.

Bahkan Burhan dan Maisaroh pun ikut mendengarkan. Namun, mereka berdua tidak menyela cerita Nenek Lastri. Sampai akhirnya Nenek Lastri selesai bercerita. Barulah Burhan menimpali cerita Nenek Lastri.

“Bu Lastri tahu gak, siapa Bopo Munatsir itu?” tanya Burhan.

“Tahu lah, karena beliau juga lah yang menikahkan aku dengan almarhum suamiku,” jawab Nenek Lastri.

Burhan dan Maisaroh menahan senyum, sementara Hanan tersipu malu mendengar cerita Nenek Lastri. Karena Bopo Munatsir yang diceritakan Nenek Lastri adalah kakeknya Hanan.

Hanan adalah Cucu dari Bopo Munatsir

“Hanan ini adalah cucu dari Mbah Munatsir itu, Nek!” seru Hanan.

Nenek Lastri jadi terperanjat, kemudian menatap wajah Hanan dengan tajam.

“Owalah jadi Kamu ini cucunya Bopo Munatsir!” seru Nenek Lastri.

Kemudian Nenek Lastri memeluk erat Hanan dan meminta Hanan untuk singgah ke rumahnya. Nenek Lastri sampai memohon agar Hanan mau mampir ke rumahnya. Kebetulan Nenek Lastri hari itu Bersama bayu kembali ke rumah asli mereka. Karena mengontrak rumah dirasa berat bagi Bayu.

“Nyuwun saestu,  Nak Hanan kerso mampir ke rumah. Dulu Bopo Munatsir juga pernah beberapa kali ke rumah,” pinta Nenek Lastri.

“Iya Nek, tidak usah memohon Seperti itu. Dengan senang hati Hanan akan mampir ke rumah Nenek,” jawab Hanan.

“Apa kubilang, kalau kakekmu adalah guru Kakek dan nenekku, maka aku juga sama Seperti muridmu,” kata Bayu.

“Jangan begitu, itu semua biar jadi jariyah kakekku. Aku sendiri gak ada apa apanya,” jawab Hanan.

Kemudian setelah acara memasang batu nisan selesai, Burhan dan Maisaroh pun mengantar mereka Kembali ke rumah Nenek Lastri di kampung itu juga. Tempat Dimana dulu Arya Dwi Pamungkas dan Dewi hidup Bahagia sebelum musibah beruntun terjadi di keluarga tersebut.

Kenangan Masa Kecil yang Kembali

Sesampainya di rumah Nenek Sulastri, Hanan ingat dengan rumah tersebut. Di waktu kecil pernah beberapa kali diajak kakeknya Munatsir ke rumah itu. Hanan ingat betul, karena setiap kali datang disambut bak seorang putra raja oleh keluarga Nenek Lastri.

“Aku ingat sekarang, aku sering diajak simbah kemari waktu kecil,” kta Hanan dalam hati.

Kemudian saat hanan memandang isi rumah tersebut, pandangannya terhenti pada sebuah foto di dinding rumah. Foto sama yang dilihat oleh Maisaroh saat pertama kali datang ke rumah tersebut. Namun, Hanan melihat dengan pandangan lain dari Maisaroh pertama lihat.

“Ini foto anak Nenek ya?” tanya Hanan.

“Kamu masih ingat wajah anak nenek, Mas Hanan?” tanya Nenek LAstri yang menyebut Hanan dengan sebutan mas, setelah mengetahui Hanan adalah cucu dari Bopo gurunya dan suaminya.

“Nek, jangan panggil Mas. Hanan hanya manusia biasa, bahkan dulu selalu bikin ulah saat diajak Kakek kemari!” sahut Hanan.

“Aku gak berani, Kamu adalh cucu guru dari almarhum suamiku dan aku juga,” kata Nenek Lastri.

“Kalau nenek tetap menyebut Mas, Hanan pulang dan gak mau lagi kemari, Nek!” seru Hanan.

Nenek Lastri terpaksa mengikuti kemauan Hanan. Melihat Hanan seakan melihat wajah gurunya Bopo Munatsir bagi Nenek Lastri. Akan tetapi, Hanan sendiri melihat foto Dewi dan keluarganya termasuk Bayu dan Anisa jadi kaget.

“Inikan Mbak Dewi yang waktu itu, artinya sosok yang selama ini menemuiku dan di rumah Pak Burhan adalah Mbak Dewi!” ucap Hanan dalam hati.

Lambat laun, Hanan ingat dengan masa lalunya tentang keluarga Dewi dan Nenek Lastri. Hanan ingat betul Dewi muda adalah wanita yang baik, bahkan sering mengalahkan anaknya demi Hanan.

“Jadi Bayu itu adalah anak Mbak Dewi yang waktu itu. Dia selalu mengalah saat mainannya aku minta,” kata Hanan dalam hati.

Hanan memandang wajah Bayu, akhirnya dia sadar wajah Bayu tidak asing baginya. Bayu adalah anak sebayanya yang selalu mengalah saat Hanan kecil meminta apa yang dimiliki Bayu. 

“Pantas sosok itu bilang minta tolong padaku, ternyata dia adalah Mbak Dewi. Tapi kenapa ada sosok lain yang melarang hubungan Alisa dengan Bayu?  Mungkin, sekarang saatnya aku mengalah dengan Bayu. Biarlah Alisa menjadi milik Bayu,” kata Hanan dalam hati.

Pertemuan Kembali dengan Bayu Kecil

“Bayu, Kamu gak ingat aku?” tanya Hanan.

“Aku sebenarnya juga Seperti pernah mengenal, tapi ragu karena Kamu dulu nakal sekali waktu kecil,” jawab Bayu.

“Iya, aku sering mengambil paksa maianmu,kan!” seru Hanan.

Sebuah pertemuan tak sengaja, tapi mempertemukan orang-orang yang pernah saling kenal di masa kecilnya. Hanan mengakui Bayu memang anak yang baik sejak kecil. Sementara dirinya justru sering merugikan Bayu kecil.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Misteri dan Aura Negatif di Rumah Itu

Namun, dibalik itu semua, Hanan merasa banyak hal yang janggal di rumah itu. Aura negative begitu terasa di dalam rumah tersebut. Kemampuan Hanan yang diperoleh dari kakeknya Munatsir. Berkali-kali Hanan mencoba menerawang. Namun selalu gagal karena kurang fokus.

Kemudian Hanan berkata kepada Burhan dan Maisaroh untuk meninggalkan dia di rumah Nenek Lastri. Karena ada sesuatu yang ingin dilakukan Hanan.

Bersambung