Koperasi: Jalan Pulang Ekonomi Bangsa

Koperasi: Jalan Pulang Ekonomi Bangsa
Koperasi: Jalan Pulang Ekonomi Bangsa
Koperasi: Jalan Pulang Ekonomi Bangsa
Koperasi: Jalan Pulang Ekonomi Bangsa

Koperasi: Jalan Pulang Ekonomi Bangsa

Presiden Prabowo buka suara, di hadapan publik, ia tegas.

“Kita butuh bersatu,” ujarnya.” Koperasi adalah alat perjuangan, “Bukan omong kosong.

Itu pernyataan dengan akar panjang. Bukan dari ruang dingin akademisi. Tapi dari sejarah ekonomi bangsa.

Indonesia pernah memilih jalan lain, bukan kapitalisme, bukan komunisme. Kita punya jalan sendiri: Koperasi.

“Ekonomi Indonesia harus bertumpu pada koperasi,” kata Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama, 1947. Ia di juluki Bapak Koperasi Indonesia. Tak sekadar julukan, tapi keyakinan. “Koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib ekonomi berdasarkan tolong-menolong.”

Itu kata Hatta, Dalam bukunya yang sunyi di baca pejabat kini. Tapi tidak oleh keluarga Prabowo, Margono Djojohadikusumo, kakek Prabowo.

Tak hanya Mendirikan Bank Negara Indonesia,tapi juga koperasi.Ia tak percaya pada sistem rente.Ia ingin rakyat punya bank sendiri.Punya koperasi sendiri.Punya kekuatan sendiri.

Baca Juga:

Lalu Datang Prof. Sumitro Djojohadikusumo.

Ayah Prabowo, Ekonom, Begawan. Peletak dasar pembangunan,tapi tak lupa koperasi. “Koperasi adalah bentuk ekonomi yang paling cocok untuk masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi asas kekeluargaan.”

Itu ucapannya dalam sidang ekonomi tahun 1952. Kalimat yang terkubur lama, kini di hidupkan kembali oleh anaknya.

Dalam pidato pagi itu, Prabowo bicara gamblang.

“Kita seperti lidi, mudah patah jika sendiri, tapi kuat bila bersatu. Koperasi adalah alat perjuangan kaum lemah.”

Sederhana, tapi menggedor, bangsa ini butuh arah.

Perekonomian kita terlalu condong ke kanan.

Kapitalisme merajalela, pemilik modal semakin rakus.

Rakyat kecil semakin tak punya suara, Voice of The Voiceless.

Sudah saatnya kembali ke jalan yang dulu pernah di tunjukkan Hatta, ekonomi gotong royong.

Ekonomi koperasi, ekonomi kekeluargaan, bukan ekonomi elit.

Koperasi bukan soal simpan pinjam, lebih dari itu.

Ia adalah instrumen perjuangan, alat pembebasan.

Bukan hanya untuk ekonomi desa, tapi untuk seluruh struktur ekonomi bangsa.

Kalau Prabowo serius dengan koperasi, maka ia melanjutkan sejarah keluarganya. Dan lebih penting: Ia melanjutkan sejarah bangsa, sejarah ekonomi yang pernah kita pilih.

Tapi kita khianati.

Kini saatnya pulang.

Pulang ke koperasi.

Muhammad Sabeth Abilawa

Peneliti DIGINOMIC (Digital Economics Institute & Community)