Kesetiaan Si Tumang Di Lereng Merapi

Kesetiaan Si Tumang Di Lereng Merapi
Kesetiaan Si Tumang Di Lereng Merapi
Kesetiaan Si Tumang Di Lereng Merapi
Kesetiaan Si Tumang Di Lereng Merapi

Kesetiaan Si Tumang Di Lereng Merapi – Di sebuah dusun sunyi di lereng Gunung Merapi, hiduplah seorang petani tua bernama Mbah Sastro. Istrinya sudah lama wafat, dan satu-satunya keluarga yang ia miliki hanyalah cucunya yang masih bayi, bernama Lindu.

Orang tua Lindu meninggal saat terjadi letusan Merapi tahun lalu. Sejak itu, Mbah Sastro mengasuh cucunya seorang diri, dengan bantuan seekor anjing kampung bernama Tumang, yang setia menemaninya bertahun-tahun.

Tumang bukan anjing biasa. Sejak kecil ia sudah bersama Mbah Sastro, ikut ke ladang, menjaga rumah saat malam, dan bahkan menemani kala hati tua Mbah Sastro diselimuti sepi.

Meski usianya sudah tidak muda, Tumang masih sigap. Ia sangat sayang pada Lindu, bayi mungil yang kerap tertidur di atas tikar anyaman bambu di serambi rumah.

Bahaya Mengendap Di Tengah Hari

Suatu siang yang gerah, Mbah Sastro pergi ke ladang tak jauh dari rumah untuk memanen jagung. Ia meninggalkan Lindu yang tertidur pulas di ayunan bambu, ditemani Tumang yang setia berjaga di depan pintu.

Di tengah keheningan siang, seekor ular sendok hitam besar keluar dari semak-semak. Pelan namun pasti, ular itu melata ke arah bayi Lindu yang mulai menggeliat dalam tidurnya. Tumang mendongak, mencium bau bahaya dari udara. Bulu-bulunya berdiri, dan matanya tajam menatap gerakan melingkar sang ular.

Ketika ular itu hendak menyerang, Tumang langsung menerkam tanpa ragu. Perkelahian berlangsung sengit. Suara gaduh dan gonggongan keras menggema. Ayunan bayi terguncang. Tumang menggigit dan mengibaskan ular itu ke tanah berkali-kali.

Baca Juga:

Dongeng Danau Toba! Cerita Legenda Dari Sumatra Utara

Dongeng Danau Toba! Cerita Legenda Dari Sumatra Utara https://sabilulhuda.org/dongeng-danau-toba-cerita-legenda-dari-sumatra-utara/

Akhirnya, ular itu mati, namun Tumang pun terluka parah. Tubuhnya berlumur darah, mulutnya mengeluarkan busa. Ia tergeletak di sisi Lindu, mengerang pelan.

Tak lama kemudian, Mbah Sastro kembali dari ladang. Ia terkejut melihat bayi Lindu menangis keras, dan tubuh Tumang yang berlumuran darah di dekat ayunan. Darah menggenang di lantai bambu. Tanpa berpikir panjang, amarah menguasai hatinya.

“Dasar anjing gila!” pekiknya.

Tangis Di Bawah Pohon Dadap

Ia mengambil parang yang biasa dipakai untuk mencangkul, lalu menghampiri Tumang yang sudah tak mampu berdiri. Sekali tebas, ia menamatkan hidup sahabat setianya itu.

Namun sesaat setelah itu, matanya menangkap bangkai ular besar tak jauh dari tempat Tumang rebah. Mata Mbah Sastro membelalak. Nafasnya tercekat. Ia perlahan mendekat, dan memahami segalanya. Tumang bukan menyerang Lindu, tapi justru melindunginya.

Mbah Sastro tersungkur di tanah. Parangnya terlepas dari tangan. Ia memeluk tubuh Tumang yang sudah dingin, menangis seperti anak kecil. “Tumang… astaghfirullah… ampuni aku… kenapa aku tak berpikir dulu…”

Melati Dan Ingatan Yang Tak Pernah Luruh

Sore itu langit di atas Merapi tampak kelabu. Angin gunung berhembus lirih, seperti turut berduka. Mbah Sastro menggali tanah di bawah pohon dadap di samping rumahnya. Dengan hati hancur, ia menguburkan Tumang dengan kain kafan sederhana, membisikkan doa-doa dan tangis yang tak henti.

Malamnya, ia duduk di serambi rumah sambil memeluk Lindu yang sudah tertidur. Matanya kosong menatap kegelapan, namun hatinya penuh sesal.

Sejak hari itu, Mbah Sastro tak pernah lagi memelihara anjing. Di makam Tumang, ia menanam pohon melati, dan setiap pagi membersihkannya sambil berbisik lirih, seakan berbicara dengan sahabat lamanya.

“Maafkan aku, Tumang… kau telah selamatkan cucuku… tapi aku justru membunuhmu.”

Warga dusun pun mengenang kisah itu. Dan hingga kini, orang-orang yang lewat di jalan kecil lereng Merapi itu kadang menaruh bunga di bawah pohon melati—sebagai penghormatan pada seekor anjing tua bernama Tumang, yang mengajarkan apa arti kesetiaan, bahkan hingga hembusan nafas terakhirnya.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Oleh: Izzayumna