
الكلام:
وأنه متكلم آمر ناه، واعد متوعد، بكلام أزلي قديم، قائم بذاته، لا يشبه كلام الخلق، وليس بصوت يحدث من
انسلال هواء، ولا حرف ينقطع بإطباق شفّة، أو تحريك لسان، والقرآن والتوراة والإنجيل والزبور، كتبه المنزلة على رُسله
وأن القرآن مقروء بالألسنة، مكتوب في المصاحف، محفوظ في القلوب، وأنه مع ذلك قديم، قائم بذات الله، لا يقبل الانفصال والافتراق بالانتقال إلى القلوب أو الأوراق، وإن موسى سمع كلام الله بغير صوت ولا حرف، كما يرى الأبرار ذات الله من غير جوهر ولا عَرَض، وإذا كانت له هذه الصفات كان حيًّا عالمًا، قديرًا مريدًا، سميعًا بصيرًا، متكلمًا: بالحياة والقدرة، والعلم والإرادة، والسمع والبصر، والكلام لا بمجرد الذات.
(1) أقول: وأما ما يجوز في حقه تعالى: فهو فعل ما يشاء من الممكنات وتركه:
فلا يجب عليه فعل ممكن ولا تركه، وله أن يعذب الطائع، وينعم الكافر، ولا قبح في فعله؛ بل كل ما يفعله حسن، وإن كان لا يعقل ذلك؛ إذ ليس كل جائز واقعا؛ بل بعض الجائزات يقع لا محالة بالوعد الصادق كتنعيم الطائع، وتعذيب الكافر، والحشر والميزان، ونحوها، لا لوجوبه في ذاته؛ بل لإخباره تعالى: أنه يقع، ولا خلف في خبره.
وبعضها لا يقع البتة: كالنبوة بعده عليه الصلاة والسلام، وتنعيم الكافر، لا لاستحالته عقلاً؛ بل لإخبار الله تعالى أنهما لا يقعان، فاستحال وقوعهما شرعاً لا عقلاً؛ بل هما جائزان عقلاً من غير نظر إلى ما ورد به الشرع. اهـ باختصار من بشرى الكريم 10/1.
أقول:
فالمؤلف رحمه الله تعالى قد تناول هذه المواضع في كتابه الإيجاب في قسم العقيدة، وشرحها على طريقته القريبة التي ليست بمعقدة؛ بل هي واضحة سهلة، يفهمها من له ممارسة في هذا الفن وغيره، كما سلك في كتابه هذا فجزاه الله عنا خيراً. اهـ محمد
٢٩
Cara baca:
وَأَنَّهُ مُتَكَلِّمٌ، آمِرٌ، نَاهٍ، وَاعِدٌ، مُتَوَعِّدٌ، بِكَلَامٍ أَزَلِيٍّ قَدِيمٍ، قَائِمٍ بِذَاتِهِ، لَا يُشْبِهُ كَلَامَ الْخَلْقِ، وَلَيْسَ بِصَوْتٍ يُحْدَثُ مِنْ
“Dan bahwa Dia (Allah) Maha Berfirman, Maha Memerintah, Maha Melarang, Maha Menjanjikan, Maha Mengancam, dengan kalam (ucapan) yang azali dan qadim, berdiri pada Dzat-Nya, tidak menyerupai kalam makhluk, dan bukan suara yang muncul dari…”
انْسِلَالِ هَوَاءٍ، وَلَا حَرْفٍ يَنْقَطِعُ بِإِطْبَاقِ شَفَّةٍ، أَوْ تَحْرِيكِ لِسَانٍ،
“…meluncurnya udara, dan bukan pula huruf yang terputus karena rapatnya bibir atau geraknya lidah.”
وَالْقُرْآنُ وَالتَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ وَالزَّبُورُ كُتُبُهُ الْمُنَزَّلَةُ عَلَى رُسُلِهِ،
“Dan Al-Qur’an, Taurat, Injil, dan Zabur adalah kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasul-Nya.”
وَأَنَّ الْقُرْآنَ مَقْرُوءٌ بِالْأَلْسِنَةِ، مَكْتُوبٌ فِي الْمَصَاحِفِ، مَحْفُوظٌ فِي الْقُلُوبِ،
“Dan bahwa Al-Qur’an dibaca oleh lisan-lisan, ditulis dalam mushaf, dan terpelihara dalam hati.”
وَأَنَّهُ مَعَ ذَٰلِكَ قَدِيمٌ، قَائِمٌ بِذَاتِ اللهِ، لَا يَقْبَلُ الِانْفِصَالَ وَالِافْتِرَاقَ بِالِانْتِقَالِ إِلَى الْقُلُوبِ أَوِ الْأَوْرَاقِ،
“Dan meskipun demikian, ia (Al-Qur’an) tetap qadim, berdiri dengan Dzat Allah, tidak menerima pemisahan atau perpecahan meski berpindah ke hati atau lembaran-lembaran.”
وَإِنَّ مُوسَى سَمِعَ كَلَامَ اللهِ بِغَيْرِ صَوْتٍ وَلَا حَرْفٍ،
“Dan sungguh Musa mendengar kalam Allah bukan dengan suara dan bukan dengan huruf.”
كَمَا يَرَى الْأَبْرَارُ ذَاتَ اللهِ مِنْ غَيْرِ جَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ،
“Sebagaimana orang-orang saleh akan melihat Dzat Allah tanpa (Allah) berupa substansi atau sifat fisik.”
وَإِذَا كَانَتْ لَهُ هَذِهِ الصِّفَاتُ كَانَ حَيًّا، عَالِمًا، قَدِيرًا، مُرِيدًا، سَمِيعًا، بَصِيرًا، مُتَكَلِّمًا،
“Dan jika Allah memiliki sifat-sifat ini, maka Dia hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, dan berbicara,”
بِالْحَيَاةِ وَالْقُدْرَةِ، وَالْعِلْمِ وَالْإِرَادَةِ، وَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ، وَالْكَلَامِ، لَا بِمُجَرَّدِ الذَّاتِ.
“dengan sifat kehidupan, kekuasaan, pengetahuan, kehendak, pendengaran, penglihatan, dan kalam, bukan semata-mata karena Dzat-Nya saja.”
Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 28
Penjelasan:
Teks ini adalah bagian dari ‘aqidah Ahlus Sunnah wal-Jama‘ah, menjelaskan sifat Allah yang bersifat qadim (azali, tanpa awal) dan tidak menyerupai makhluk.
Salah satu sifat penting Allah adalah kalam (berfirman). Firman Allah tidak seperti perkataan manusia. Allah tidak membutuhkan pita suara, udara, atau alat bicara untuk berbicara.
Maka, kalam-Nya bukan suara yang berasal dari rongga dada atau udara yang mengalir (insilāl hawā’), juga bukan huruf-huruf yang terucap karena gerakan lidah atau penutupan bibir.
Bahwa Allah adalah Mutakallim (Yang Maha Berfirman), menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat Kalam, yaitu berbicara atau berfirman, tetapi tidak seperti ucapan manusia.
Ia bukan suara yang timbul dari pita suara, rongga dada, atau melalui udara. Kalam Allah bersifat azali (tidak memiliki permulaan) dan qadim (sudah ada sejak kekal, tidak diciptakan).
Kalam Allah ini mencakup perintah, larangan, janji pahala, dan ancaman siksa, sebagaimana tergambar dalam wahyu-wahyu-Nya seperti Al-Qur’an. Namun perlu dicatat, kalam Allah yang kita baca dalam mushaf (huruf dan suara) adalah bentuk yang diciptakan untuk kita pahami.
Sedangkan hakikat kalam Allah sendiri adalah sifat yang tidak menyerupai makhluk dan tidak terikat oleh huruf, bahasa, atau waktu.
Pernyataan ini juga menolak keyakinan kelompok yang mengatakan bahwa Allah berfirman dengan suara yang baru muncul, atau kalam-Nya tercipta. Ini adalah bantahan terhadap kelompok Mu’tazilah, yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.
Kelanjutan kalimat setelah “من” adalah:
مِنْ جَوْفٍ أَوْ خُرُوجِ هَوَاءٍ، وَإِنَّمَا كَلَامُهُ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِهِ لَا يَبْدَأُ وَلَا يَنْقَضِي.
“…dari rongga atau dari keluarnya udara. Sesungguhnya Kalam-Nya adalah salah satu dari sifat-sifat-Nya, tidak bermula dan tidak berakhir.”
Allah menurunkan Al-Qur’an, Taurat, Injil, dan Zabur kepada para nabi-Nya, dan meskipun Al-Qur’an kini dibaca, ditulis, dan dihafalkan. Hakikatnya tetap qadim dan berdiri pada Dzat Allah, tidak berubah menjadi makhluk hanya karena ia dibaca atau ditulis.
Ini adalah bantahan terhadap kelompok yang menganggap bahwa Al-Qur’an itu makhluk karena ada huruf dan suara dalam bacaan.
Ditegaskan juga bahwa Nabi Musa mendengar kalam Allah secara langsung, tapi bukan seperti kita mendengar suara. Ia mendengar dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allah — tanpa suara dan tanpa huruf.
Kemudian, karena Allah memiliki sifat kalam, maka secara sempurna pula Dia memiliki sifat lain: hayāt (hidup), ‘ilm (ilmu), qudrah (kuasa), irādah (kehendak), sam‘ (mendengar), bashar (melihat), dan kalām (berfirman).
Semuanya adalah sifat yang berdiri pada Dzat Allah, bukan karena dzat-Nya saja, tetapi sebagai sifat yang sempurna yang tidak menyerupai makhluk.
Ini adalah dasar penting dalam mengenal Allah menurut jalan para ulama Ahlus Sunnah.
Catatan kaki:
أَقُوْلُ: وَأَمَّا مَا يَجُوْزُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى: فَهُوَ فِعْلُ مَا يَشَاءُ مِنَ الْمُمْكِنَاتِ وَتَرْكُهُ
Aku berkata: Adapun hal-hal yang boleh (terjadi) pada hak Allah Ta‘ala, maka itu adalah perbuatan terhadap apa yang Dia kehendaki dari hal-hal yang mungkin, dan juga meninggalkannya.
فَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ فِعْلُ مُمْكِنٍ وَلَا تَرْكُهُ، وَلَهُ أَنْ يُعَذِّبَ الطَّائِعَ، وَيُنَعِّمَ الْكَافِرَ، وَلَا قُبْحَ فِي فِعْلِهِ؛
Maka tidak wajib atas-Nya untuk melakukan sesuatu yang mungkin atau meninggalkannya. Dan Dia berhak menyiksa orang yang taat, serta memberi nikmat kepada orang kafir, dan tidak ada keburukan dalam perbuatan-Nya.
بَلْ كُلُّ مَا يَفْعَلُهُ حَسَنٌ، وَإِنْ كَانَ لَا يُعْقَلُ ذَلِكَ؛
Bahkan setiap yang Dia lakukan adalah baik, meskipun akal tidak memahaminya.
إِذْ لَيْسَ كُلُّ جَائِزٍ وَاقِعًا؛ بَلْ بَعْضُ الْجَائِزَاتِ يَقَعُ لَا مَحَالَةَ بِالْوَعْدِ الصَّادِقِ كَتَنْعِيمِ الطَّائِعِ، وَتَعْذِيبِ الْكَافِرِ، وَالْحَشْرِ وَالْمِيزَانِ، وَنَحْوِهَا،
Karena tidak semua yang mungkin pasti terjadi; bahkan sebagian hal yang mungkin itu pasti terjadi karena janji yang benar, seperti: memberi nikmat kepada orang taat, menyiksa orang kafir, kebangkitan, timbangan (amal), dan semisalnya.
لَا لِوُجُوبِهِ فِي ذَاتِهِ؛ بَلْ لِإِخْبَارِهِ تَعَالَى: أَنَّهُ يَقَعُ، وَلَا خُلْفَ فِي خَبَرِهِ.
Bukan karena wajib pada zatnya, melainkan karena Allah Ta‘ala telah mengabarkan bahwa hal itu akan terjadi, dan tidak ada dusta dalam berita-Nya.
وَبَعْضُهَا لَا يَقَعُ الْبَتَّةَ: كَالنُّبُوَّةِ بَعْدَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَتَنْعِيمِ الْكَافِرِ،
Dan sebagian (kemungkinan) tidak akan terjadi sama sekali: seperti kenabian setelah Nabi Muhammad ﷺ, dan pemberian nikmat kepada orang kafir.
لَا لِاسْتِحَالَتِهِ عَقْلًا؛ بَلْ لِإِخْبَارِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّهُمَا لَا يَقَعَانِ،
Bukan karena mustahil secara akal, tapi karena Allah Ta‘ala mengabarkan bahwa keduanya tidak akan terjadi.
فَاسْتَحَالَ وُقُوعُهُمَا شَرْعًا لَا عَقْلًا؛ بَلْ هُمَا جَائِزَانِ عَقْلًا مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ إِلَى مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ.
Maka mustahillah keduanya terjadi menurut syariat, bukan menurut akal; bahkan keduanya sebenarnya mungkin secara akal jika tidak melihat dalil syariat.
Teks ini adalah penjelasan dalam bidang ilmu kalam (teologi Islam) yang membahas tentang apa yang boleh terjadi pada hak Allah Ta‘ala.
Poin utamanya adalah:
Allah bebas melakukan apapun yang dikehendaki-Nya, termasuk hal-hal yang bagi kita terlihat tidak sesuai harapan manusia, seperti menyiksa orang taat atau memberi nikmat pada orang kafir. Ini bukan berarti Allah tidak adil, tetapi karena standar baik-buruk Allah tidak diukur dengan akal manusia.
Allah tidak wajib melakukan sesuatu apapun, karena tidak ada kekuasaan di atas-Nya. Jika Allah menjanjikan sesuatu (seperti memberi pahala pada orang taat dan siksa pada orang kafir).
Maka itu pasti terjadi — bukan karena wajib secara zat, tetapi karena Allah sendiri yang mengabarkan hal itu, dan Allah tidak mungkin berdusta.
Sebaliknya, ada hal-hal yang tidak akan terjadi sama sekali, bukan karena mustahil secara akal, tapi karena sudah ditegaskan oleh syariat — misalnya: tidak akan ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad ﷺ, dan orang kafir tidak akan mendapat kenikmatan akhirat.
Dengan demikian, syariat memberi batasan tentang apa yang mungkin terjadi secara syar‘i, meskipun secara akal itu masih mungkin.
Catatan Kaki:
Teks ini diambil dari kitab Busrā al-Karīm, salah satu karya dalam akidah Ahlussunnah wal-Jama‘ah.
Disertai komentar bahwa penulis (رحمه الله) menjelaskannya dengan cara sederhana dan mudah dipahami, sangat cocok bagi pelajar ilmu kalam.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَفَهْمًا وَبَصِيرَةً فِي الدِّينِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ.
Artinya:
Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan berilah manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Tambahkanlah kepada kami ilmu, pemahaman, dan ketajaman dalam agama, serta jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diberi petunjuk.
Oleh: Ki Pekathik


