
Misteri Sosok Wanita Dalam Mimpi Alisa Dan Maisaroh
Penjelasan Alisa tentang sosok wanita yang datang dalam mimpi berbeda dengan yang ditemui Maisaroh. Sosok yang dilihat Maisaroh adalah Anisa dalam usia sekolah SMP. Sedangkan sosok yang menemui Alisa adalah ibu muda.
“Apakah sosok itu Dewi, ibunya Bayu?” Maisaroh menduga sosok yang menemui Alisa adalah Dewi. Namun, siapapun mereka tetap menjadi pertanyaan besar bagi Burhan dan Maisaroh.
Alasan mereka melarang Alisa dan Bayu menjalin hubungan. Kenapa bisa kompak antara sosok Dewi dan Anisa, keduanya melarang hubungan Bayu dan Alisa.
“Alisa, sebaiknya kamu jangan temui Bayu dulu,” kata Burhan.
“Memang ada apa Yah? Apa menurut Ayah Ibu, Mas Bayu bukan orang baik-baik?” tanya Alisa.
“Tidak, bukan itu Alisa. Belum kenal juga dengan Bayu. Mana bisa memberi penilaian,” jawab Burhan terpaksa berbohong.
“Apa perlu Mas Bayu disuruh kemari?” tanya Alisa.
“Tunggu Alisa, eeh memang Kamu sudah mantap dengan pilihanmu sekarang?” Maisaroh meminta ketegasan Alisa. Meskipun tetap belum bisa memberi jawaban pasti.
Rasa Dekat Alisa kepada Bayu Meski Dihantui Sosok Misterius
“Entah lah Bu, tapi Alisa merasa begitu dekat dengan Mas Bayu.” Alisa mengatakan jika dia merasa tak bisa jauh dari Bayu. Meskipun hampir tiap malam ditemui sosok misterius lewat mimpi.
Alisa tidak peduli dengan sosok wanita yang hadir dalam mimpi.
“Tapi… kalian tidak sampai melampaui batas dalam berhubungan, kan!” seru Maisaroh.
“Astaghfirullah… maksud ibu, sampai menerjang norma dan larangan agama? Gak lah Bu, sama sekali tidak terpikirkan,” jawab Alisa.
‘Syukurlah, jadi maksudnya jangan temui Bayu dulu kita coba reaksi sosok yang datang dalam mimpimu,”
Burhan berkata kepada Alisa, untuk sementara menjauh dari Bayu. Sekaligus menguji apakah sosok wanita itu masih datang dalam mimpi. Alisa pun bersedia, tanpa memberi tahu pada Bayu jika ingin break.
Baca Juga:

Qorin (Cerbung Misteri Bab 9) https://sabilulhuda.org/qorin-cerbung-misteri-bab-9/
Pandangan Maisaroh Tentang Lelaki Dan Harapan Pada Bayu
“Sebenarnya Alisa merasa berat, karena lelaki seperti Mas Bayu itu langka. Dia tidak pernah berpikir mesum. Benar-benar sayang sama Alisa,” kata Alisa.
“Ibu hargai itu, tapi kadang lelaki hanya baik di awal. Saat sudah mendapatkan yang dia inginkan terlihat aslinya,” ucap Maisaroh.
Alisa berangkat lebih dulu kekampus. Burhan sengaja mengulur waktu, memastikan Alisa pergi lebih dulu.
“Bapak mau ke Kyai Usman sekalian?” tanya Maisaroh.
“Ya, tak ada cara lain lagi. Rangkaian kejadian yang terjadi sudah diluar nalar. Harus minta bantuan atau petunjuk pada yang ‘alim,” kata Burhan.
“Kalau sekiranya resikonya besar, lebih baik Alisa yang mengalah. Cari lelaki lain saja, pasti ada juga yang baik,” ucap Maisaroh.
“Tidak semudah itu, Bapak juga pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jawab Burhan.
“Jangan memaksakan, kita sudah tua keselamatan Alisa itu nomor satu. Jangan pertaruhkan Alisa,” kata Maisaroh.
“Sudah pasti, Bapak melakukan ini untuk siapa lagi, kalau bukan untuk Alisa anak kita!” seru Burhan.
“Ibu ikut kalau begitu, biar Bapak tidak bertindak gegabah,” ucap Maisaroh.
“Jangan, nanti Alisa curiga kalau kita keluar lagi bersama,” jawab Burhan.
Ketakutan Dan Halusinasi Maisaroh
Maisaroh pun akhirnya menurut, meski ada perasaan takut sendirian. Sejak peristiwa di tempat Bayu dan Nenek Lastri, Maisaroh jadi sering berhalusinasi.
Seperti saat itu, Maisaroh seperti sedang diawasi seseorang.
“Kenapa aku selalu dibayang-bayangi sosok Anisa? Apakah anak itu benar-benat tak rela Alisa menjadi kekasih Bayu?”
Maisaroh bingung, sudah berada di rumah sendiri. Namun, setiap kali berpaling seperti melihat kelewat bayangan sosok Anisa.
“Ya Allah, siang- siang begini apa aku yang jadi halu?” Timbul pertanyaan pada diri Maisaroh.
Entah kenapa, Maisaroh merasa selalu dikuti sosok Anisa. Adik Bayu yang meninggal saat SMP.
“Apa maumu Nduk? Kenapa melarang Alisa anakku berhubungan dengan Bayu Kangmasmu?”
Maisaroh tak kuasa menahan perasaan sedihnya. Memikirkan apa yang terjadi pada Alisa anaknya.
“Jangan Bu, tidak boleh terjadi pernikahan 👉… ”
Suara Anisa terdengar jelas di telinga Maisaroh. Dia hafal suara itu saat mimpi di rumah Bayu.
“Anisa… Kamu dimana? Jelaskan apa alasannya? Apa salah Alisa anakku, Anisa!” seru Maisaroh.
“Tidak boleh, Anisa disuruh Bu Dewi menemani Bu Saroh,”
Kembali terdengar suara sosok Anisa, meskipun tak terlihat sosoknya.
Maisaroh Tidak Takut, Justru Merasa Rindu
“Anisa kemarilah, jelaskan pada Ibu ada apa sebenarnya!”
Maisaroh memanggil Anisa, dia sadar Anisa sudah tiada. Namun. Maisaroh tidak takut sedikitpun.
“Anisa sini Nak, tunjukkan dirimu! Ibu ingin memelukmu, Kamu kenapa?”
“Ibu… ”
Suara Anisa pelan sekali, Maisaroh melangkah mencari sumber suara. Namun, kaki Maisaroh tersandung sehingga Maisaroh hampir terjatuh.
“Aduh… ”
Maisaroh terkejut, dia baru sadar telah larut di alam mimpi. Namun, yang lebih mencengangkan di siang hari kembali mimpi ditemui Anisa dengan ucapan yang serupa.
“Aneh di siang bolong bisa mimpi begitu!” Maisaroh bergumam pelan.
Maisaroh belum sepenuhnya sadar, ucapan Anisa terakhir menyebutkan Maisaroh Ibu. Entah kenapa, Maisaroh justru merasa rindu dengan sosok Anisa.
“Anak itu cantik dan baik, kenapa aku tidak punya perasaan takut sama sekali. Justru ingin melihat Anisa lagi,” kata Maisaroh dalam hati.
Maisaroh pun ke kamar mandi untuk mencuci muka. Saat membersihkan wajahnya sambil bercermin, Maisaroh kembali dikejutkan sosok Anisa muncul di cermin. Namun, saat Maisaroh menoleh sosok Anisa tidak ada. Di cermin pun tak lagi tampak.
Maisaroh Mulai Percaya Ini Bukan Sekadar Mimpi
“Ini jelas bukan mimpi, wajah dan rambutku beneran basah,” kata Maisaroh dan memang tidak sedang bermimpi.
Maisaroh tertegun, ingat mimpi barusan. Anisa bilang disuruh Bu Dewi menjaga Maisaroh. Kemudian timbul pertanyaan buat apa dan kenapa harus dijaga Anisa. Kenapa gak Dewi sekalian ikut menemui Maisaroh kesal.
…
Sementara Burhan sudah mengambil mobilnya dari bengkel. Namun, Burhan tidak langsung pulang. Dia ingin menemui Nenek Lastri dan juga Bayu.
“Langsung ke rumah atau ke makam keluarga Bayu dulu sebaiknya?” tanya Burhan dalam hati.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya memilih untuk ke rumah Bayu lebih dulu.
“Disana sedang ada acara gapapa lah sekalian bantu-bantu. Meski ini aneh, dengan mereka aku merasa dekat. Namun, dengan sosok ibu dan anak kenapa istri dan anakku seperti di teror?” Burhan bermonolog sambil melajukan kendaraan.
Namun, dari depan tampak seorang ibu muda melambaikan tangan ingin menumpang.
“Kasihan wanita itu, sebaiknya aku beri tumpangan. Tampaknya sudah kelelahan,” gumam Burhan.
Wanita Misterius Menuju Arah Makam
Perlahan Burhan mengurangi kecepatan, sampai akhirnya berhenti tepat di samping seorang wanita yang berjalan kaki.
“Maaf Pak, boleh saya numpang sampai ke depan?” tanya wanita tersebut.
“Naik Bu, mau turun di mana? Atau saya antar sampai tujuan saja?” kata Burhan hati-hati agar tidak dikira punya pikiran kotor. Wanita yang akan menumpang berparas cantik. Jika lelaki pikiran kotor pasti sudah membayangkan hal negatif.
“Makasih Pak, cukup sampai di pertigaan depan sana saja,” ucap wanita itu.
Burhan menjaga ucapan dan pandangan, agar tidak membuat wanita tersebut curiga. Mau menanyakan nama pun Burhan tak berani.
“Turun di pertigaan depan saja, Pak!” seru wanita tersebut.
Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA
Kecurigaan Burhan: Apakah Tadi Itu Dewi?
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan, hanya saat mau naik dan turun saja wanita itu bicara. Namun, Burhan tidak mempermasalahkan hal itu. Bisa menolong orang sudah membuat Burhan ikut senang.
Setelah wanita tersebut turun, dia belok ke arah kiri. Sementara Burhan melanjutkan perjalanan ke rumah Bayu.
“Wanita tadi belok kiri bukankah itu arah ke makam keluarga Bayu dan itu jalan buntu!” seru Burhan.
Namun, Burhan tak mau memikirkan lebih jauh. Bisa saja wanita itu mau ziarah ke makam itu juga.
Akan tetapi Burhan merasa ada yang ganjil, samar- samar Burhan seperti pernah melihat wanita itu sebelumn.
“Astaghfirullah… wajah wanita tadi–‘
Burhan sampai menghentikan mobilnya, ingat wajah wanita tadi mirip dengan Dewi ibunya Bayu yang sudah almarhumah. Namun, Burhan tetap berusaha tenang, bisa jadi itu saudara Dewi yang ingin nyekar. Karena tepat Seribu harinya Dewi.
…



