Berita  

Trump Klaim Kesepakatan Baru dengan Indonesia. Ternyata Banyak Yang Sudah Lama Disepakati

Trump Klaim Kesepakatan Baru dengan Indonesia. Ternyata Banyak Yang Sudah Lama Disepakati
Trump Klaim Kesepakatan Baru dengan Indonesia. Ternyata Banyak Yang Sudah Lama Disepakati
Trump Klaim Kesepakatan Baru dengan Indonesia. Ternyata Banyak Yang Sudah Lama Disepakati
Trump Klaim Kesepakatan Baru dengan Indonesia. Ternyata Banyak Yang Sudah Lama Disepakati

Trump Klaim Kesepakatan Baru dengan Indonesia, Ternyata Banyak yang Sudah Lama Disepakati – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengumumkan bahwa dirinya telah menandatangani kesepakatan baru dengan Indonesia senilai 15 miliar dolar AS dalam sektor energi.

Namun, sejumlah fakta menunjukkan bahwa klaim ini tidak sepenuhnya benar, bahkan dinilai menyesatkan oleh sejumlah pengamat dan media internasional seperti Yahoo Finance, BBC, dan CNBC.

Kesepakatan Energi Lebih Kecil Dari Tahun Lalu

Trump menyebut bahwa ekspor energi Amerika ke Indonesia senilai 15 miliar dolar AS adalah sebuah pencapaian besar. Namun, data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, nilai ekspor energi tersebut justru mencapai 15,5 miliar dolar AS.

Artinya, justru terjadi penurunan sebesar 500 juta dolar dibandingkan tahun sebelumnya. Alih-alih mendapat keuntungan, ini dianggap sebagai kerugian yang seharusnya tidak dibanggakan.

Baca Juga:

Prabowo Sepakati Bebas Bea Produk AS, RI Pangkas Tarif Baja

Prabowo Sepakati Bebas Bea Produk AS, RI Pangkas Tarif Baja https://sabilulhuda.org/prabowo-sepakati-bebas-bea-produk-as-ri-pangkas-tarif-baja/

Pesawat Boeing 777 Bukan Kesepakatan Baru

Trump juga mengklaim bahwa Indonesia akan membeli 50 unit Boeing 777 sebagai bagian dari kesepakatan baru. Namun faktanya, pembelian pesawat tersebut sudah dibahas sejak era Presiden Joe Biden.

Prosesnya memang sempat tertunda karena beberapa perjanjian bilateral yang belum terselesaikan. Jadi, klaim Trump bahwa ini adalah kesepakatan barunya ternyata hanya “menghidupkan” kembali perjanjian lama yang sudah dibuat pemerintahan sebelumnya.

Tarif Impor Beban Untuk Konsumen Wara Amerika

Trump juga mengatakan bahwa ada tarif 19% yang dikenakan kepada produk Indonesia yang masuk ke Amerika, dan bahwa “kita tidak membayar apa-apa”. Pernyataan ini terbukti tidak akurat. Tarif 19% tersebut justru dibebankan kepada barang-barang impor dari Indonesia.

Yang artinya konsumen Amerika lah yang harus membayar lebih mahal untuk produk-produk tersebut.

Sebaliknya, produk-produk Amerika yang diekspor ke Indonesia tidak dikenakan tarif tambahan. Jadi, justru Indonesia yang mendapatkan keuntungan dari sisi tarif, bukan Amerika. Ini merupakan kebalikan dari apa yang Trump klaim dalam pidatonya.

Mengklaim Keberhasilan Serta Menyalahkan Orang Lain

Fenomena ini kembali menunjukkan pola lama Trump. Ia mengambil kredit dari pencapaian pemerintahan sebelumnya, sembari menyalahkan mereka atas kegagalan. Sejumlah analis menyebut strategi ini sebagai upaya menipu publik untuk memperbaiki citra politik sekarang ini.

Masyarakat perlu lebih kritis dalam menyikapi klaim-klaim politik, terutama yang datang menjelang tahun politik. Verifikasi fakta menjadi penting agar publik tidak terjebak dalam narasi yang menyesatkan. Apalagi jika klaim tersebut berdampak langsung terhadap ekonomi dan kebijakan luar negeri suatu negara.

Baca Juga: Ketentuan Barang Bawaan Pribadi Penumpang dan Jasa Titipan (Jastip)