
وأنه بائن عن خلقه بصفاته ليس في ذاته سواه ولا في سواه ذاته
وأنه مقدس عن التغير والانتقال ولا تحله الحوادث ولا تعتريه العوارض بل لم يزل ولا يزال في نعوت جلاله منزها عن الزوال وفي صفات كماله مستغنيا عن زيادة الاستكمال
وأنه في ذاته معلوم الوجود بالعقول مرئي الذات بالابصار نعمة منه وطفًا بالأبرار في دار القرار إتمامًا للنعيم بالنظر إلى وجهه الكريم
القدرة
وأنه حي قادر جبار قاهر لا يعتريه قصور ولا عجز ولا تأخذه سنة ولا نوم ولا يعارضه فناء ولا موت إنه ذو الملك والملكوت والعزة والجبروت له السلطان والقهر والخلق والأمر والسموات مطويات بيمينه والخلائق مقهورون في قبضته
وأنه منفرد بالخلق والاختراع متوحد بالإيجاد والإبداع خلق الخلق وأعمالهم وقدر أرزاقهم وآجالهم لا يشذ عن قبضته مقدور ولا تعزب عن إرادته تصاريف الأمور لا تحصى مقدوراته ولا تتناهى معلوماته
٢٦
Penjelasan:
1. وَأَنَّهُ بَائِنٌ عَنْ خَلْقِهِ بِصِفَاتِهِ، لَيْسَ فِي ذَاتِهِ سِوَاهُ، وَلَا فِي سِوَاهُ ذَاتُهُ
“Dan bahwa Dia terpisah dari makhluk-Nya dengan sifat-sifat-Nya, tidak ada selain Dia dalam Dzat-Nya, dan tidak ada Dzat-Nya dalam selain-Nya.”
Allah tidak menyatu dengan makhluk-Nya dan makhluk tidak menyatu dengan-Nya. Ini adalah bentuk penyucian dari paham hulul (penyatuan Tuhan dengan makhluk) atau wahdatul wujud yang ekstrim.
Allah memiliki keberadaan sendiri yang mutlak, tidak terikat atau menyusup dalam apa pun yang bersifat materi. Ini membebaskan jiwa dari persepsi yang salah tentang ketuhanan yang terbatas.
2. وَأَنَّهُ مُقَدَّسٌ عَنِ التَّغَيُّرِ وَالِانْتِقَالِ، وَلَا تَحُلُّهُ الْحَوَادِثُ، وَلَا تَعْتَرِيهِ الْعَوَارِضُ
“Dan bahwa Dia disucikan dari perubahan dan perpindahan, tidak ditempati oleh hal-hal baru (kejadian), dan tidak diliputi oleh hal-hal yang mengganggu.”
Allah itu azali dan abadi, tidak mengalami perubahan sebagaimana makhluk. Dia tidak berpindah dari satu kondisi ke kondisi lain.
Baca Juga:

Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 25 https://sabilulhuda.org/kajian-kitab-bidayatul-hidayah-halaman-25/
Tidak ada kejadian yang bisa ‘menimpa’ Allah. Perubahan adalah tanda kekurangan dan ketergantungan; Allah Maha Sempurna dan tidak berubah, menjadikan-Nya satu-satunya tempat bergantung sejati.
3. بَلْ لَمْ يَزَلْ وَلَا يَزَالُ فِي نُعُوتِ جَلَالِهِ مُنَزَّهًا عَنِ الزَّوَالِ، وَفِي صِفَاتِ كَمَالِهِ مُسْتَغْنِيًا عَنْ زِيَادَةِ الِاسْتِكْمَالِ
“Bahkan Dia senantiasa dan akan selalu dalam sifat-sifat keagungan-Nya disucikan dari kebinasaan, dan dalam sifat-sifat kesempurnaan-Nya tidak membutuhkan tambahan untuk menjadi lebih sempurna.”
Allah tidak bertambah dan tidak berkurang. Dia tidak butuh disempurnakan karena sudah Maha Sempurna. Inilah puncak istighna’ (kecukupan mutlak). Sumber ketenangan jiwa sejati adalah bersandar kepada Dzat yang tidak berubah dan tidak binasa.
Dunia bisa berubah, manusia bisa mengecewakan, tapi Allah tidak pernah berubah atau berkurang dalam rahmat-Nya.
4. وَأَنَّهُ فِي ذَاتِهِ مَعْلُومُ الْوُجُودِ بِالْعُقُولِ، مَرْئِيُّ الذَّاتِ بِالْأَبْصَارِ، نِعْمَةً مِنْهُ وَلُطْفًا بِالْأَبْرَارِ، فِي دَارِ الْقَرَارِ، إِتْمَامًا لِلنَّعِيمِ، بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ
“Dan bahwa Dia dalam Dzat-Nya diketahui wujud-Nya oleh akal, dan kelak dilihat dzat-Nya oleh pandangan mata sebagai nikmat dan kelembutan bagi orang-orang baik di negeri keabadian, sebagai penyempurna kenikmatan dengan memandang wajah-Nya yang mulia.”
Allah dapat diketahui keberadaan-Nya oleh akal yang lurus, meskipun hakikat-Nya tak bisa dicapai. Di akhirat, orang-orang saleh akan diberikan nikmat tertinggi: melihat wajah Allah.
Itulah surga yang sebenarnya — bukan hanya kebun dan istana, tapi pandangan kepada Sang Pencipta. Sebuah kemuliaan yang tidak bisa dibayangkan, yang menjadi puncak cinta dan kerinduan ruh.
الْقُدْرَةُ
(Kemampuan dan Kuasa Allah)
5. وَأَنَّهُ حَيٌّ قَادِرٌ جَبَّارٌ قَاهِرٌ، لَا يَعْتَرِيهِ قُصُورٌ وَلَا عَجْزٌ، وَلَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
“Dan bahwa Dia Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Mengalahkan. Tidak terkena kelemahan atau ketidakmampuan. Tidak mengantuk dan tidak tidur.”
Inilah ayat al-Kursi dalam bentuk syarah. Allah tidak pernah lelah, tidak mengantuk, dan tidak tidur. Semua aktivitas makhluk ditopang oleh kebutuhan untuk istirahat.
Allah tidak butuh semua itu. Maka Dia bisa menjaga kita tanpa jeda, menyaksikan doa-doa kita tanpa lalai. Ketika semua orang tidur, Allah tetap hadir, menyambut doa di sepertiga malam terakhir.
6. وَلَا يُعَارِضُهُ فَنَاءٌ وَلَا مَوْتٌ، إِنَّهُ ذُو الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ، وَالْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوتِ
“Dan tidak dihadang oleh kehancuran atau kematian. Sesungguhnya Dia Pemilik kerajaan nyata dan ghaib, kemuliaan, dan keperkasaan mutlak.”
Kerajaan Allah mencakup mulk (alam nyata) dan malakut (alam gaib). Allah tidak hanya menciptakan dunia, tapi juga menguasai segala urusan ruh, takdir, dan malaikat. Karena tidak mati, tidak hancur, dan tidak terbatas — maka kepada-Nya sajalah kita bergantung dan tunduk.
7. لَهُ السُّلْطَانُ وَالْقَهْرُ، وَالْخَلْقُ وَالْأَمْرُ، وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ، وَالْخَلَائِقُ مَقْهُورُونَ فِي قَبْضَتِهِ
“Bagi-Nya kekuasaan dan penundukan, penciptaan dan pengaturan. Langit dilipat dengan tangan kanan-Nya, dan seluruh makhluk tunduk dalam genggaman-Nya.”
Semuanya tunduk dalam kuasa Allah. Frasa “dilipat dengan tangan kanan-Nya” adalah bentuk simbolik tentang keperkasaan-Nya. Bumi dan langit seperti sehelai kain dalam genggaman Tuhan.
Tak ada satu detik pun terjadi tanpa izin-Nya. Maka tak ada musibah yang benar-benar di luar kendali-Nya, dan tak ada rezeki yang lepas dari qadha’-Nya.
8. وَأَنَّهُ مُنْفَرِدٌ بِالْخَلْقِ وَالِاخْتِرَاعِ، مُتَوَحِّدٌ بِالْإِيجَادِ وَالْإِبْدَاعِ
“Dan bahwa Dia satu-satunya dalam penciptaan dan pembaruan, satu-satunya yang mewujudkan dan mengadakan secara indah.”
Allah menciptakan dari ketiadaan. Dia tidak meniru apa pun. Ciptaan-Nya orisinal, penuh keajaiban. Dia sendirian dalam kekuasaan-Nya. Dia tak perlu alat atau bahan. Hanya dengan “Kun” maka jadilah. Inilah yang membuat-Nya satu-satunya yang layak di sembah.
9. خَلَقَ الْخَلْقَ وَأَعْمَالَهُمْ، وَقَدَّرَ أَرْزَاقَهُمْ وَآجَالَهُمْ، لَا يَشِذُّ عَنْ قَبْضَتِهِ مَقْدُورٌ، وَلَا تَعْزُبُ عَنْ إِرَادَتِهِ تَصَارِيفُ الْأُمُورِ
“Dia menciptakan makhluk dan perbuatan mereka. Menentukan rezeki dan ajal mereka. Tidak ada sesuatu pun keluar dari genggaman-Nya, dan tidak ada urusan pun yang lepas dari kehendak-Nya.”
Segala sesuatu adalah takdir-Nya. Termasuk amal dan dosa manusia terjadi dengan ilmu dan izin-Nya. Namun manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan, karena Allah juga menciptakan akal dan kehendak. Keyakinan ini menumbuhkan tawakal dan menghilangkan ujub.
10. لَا تُحْصَى مَقْدُورَاتُهُ، وَلَا تَتَنَاهَى مَعْلُومَاتُهُ
“Kekuasaan-Nya tidak bisa di hitung, dan ilmu-Nya tidak pernah berakhir.”
Tak terbayangkan berapa banyak makhluk, zarah, atau detik yang ada. Tapi semuanya dalam ilmu Allah. Tidak ada daun yang gugur, detak jantung, atau doa yang terlontar, kecuali dalam ilmu-Nya. Maka, jangan pernah merasa sendiri, tak terlihat, atau tak berarti. Allah tahu, bahkan bisikan terdalam hatimu.
Penutup
Prinsip tauhid tanzih: menyucikan Allah dari segala yang tak layak bagi-Nya. Ia menegaskan bahwa Allah itu Maha Kuasa, Maha Bijaksana dan bebas dari perubahan, kebutuhan, tempat, dan sifat-sifat makhluk.
Inilah ketauhidan yang membawa keseimbangan antara takut dan harap, antara cinta dan kagum. Allah dekat, tapi tidak seperti makhluk. Allah tinggi, tapi bukan di langit secara fisik. Allah hadir, tapi tidak bisa di samakan dengan bayangan akal.
Dialah Allah yang Maha Suci dari segala kemiripan dengan makhluk, Maha Agung dalam keunikan-Nya, Maha Esa dalam wujud dan sifat-Nya.
Ketika kita membaca baris demi baris tentang Tanzīh, hati seperti di angkat dari kabut syirik halus menuju langit pemahaman yang jernih.
Kita di ingatkan bahwa Tuhan yang kita sembah bukan sosok yang duduk di singgasana seperti raja manusia, bukan pula cahaya yang melayang di langit, apalagi makhluk gaib yang tersembunyi di balik awan. Dia tidak menyerupai sesuatu pun, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Allah Tidak Terbatas, jangan berputus asa
Allah tidak di liputi oleh arah, tidak menempati tempat, tidak berpindah dari satu posisi ke posisi lain. Dia tidak di kelilingi langit, tidak di batasi oleh waktu. Dia ada sebelum langit dan bumi di ciptakan, dan tetap sebagaimana Dia telah ada – tidak berubah, tidak terikat.
Inilah Allah yang selalu hadir, tapi tidak sama seperti kehadiran siapa pun. Inilah Allah yang dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri, tapi kedekatan-Nya tidak seperti kedekatan tubuh. Dia dekat dengan ilmu-Nya, kasih sayang-Nya, rahmat-Nya.
Dan karena Dia tidak pernah tidur, tidak pernah lalai, tidak pernah berubah — maka harapan kita tak boleh runtuh. Jika Dia yang Maha Sempurna mengatur takdir kita, maka hidup ini tidak akan pernah sia-sia.
Tuhan Tidak Membutuhkan
Allah tidak membutuhkan singgasana, tidak perlu langit menopang-Nya, dan tidak perlu tempat berpijak. Bahkan, ‘Arsy dan para pemikulnya pun bergantung pada kekuasaan Allah. Dia bukan hanya di atas langit, Dia juga di atas setiap pemahaman, setiap makna, dan setiap kemungkinan.
Betapa hancurnya logika manusia jika ia menyangka Tuhan berpindah tempat, berubah pikiran, atau bisa di lihat seperti makhluk. Ketika akal kita mulai membayangkan bentuk-Nya, tanzīh datang menegur: “Tidak, Tuhanmu tidak seperti apa pun yang bisa kau bayangkan.”
Menyembah Dzat yang Tidak Binasa
Makhluk bisa mati, langit bisa runtuh, bintang bisa padam. Tapi Allah tidak di timpa oleh kelemahan, kantuk, kematian, atau kehancuran. Inilah tempat berlindung sejati. Inilah cinta yang tidak akan menyakiti. Inilah kekuasaan yang tidak akan zalim.
Ia bukan hanya menciptakanmu tapi juga menciptakan perbuatanmu, rezekimu, ajalmu, dan bahkan jalan kembalimu. Dia tidak butuh di sembah, tapi menyembah-Nya adalah kebutuhan jiwamu.
Puncak Segala Nikmat
Di akhirat, bagi mereka yang di muliakan, akan terbuka satu kenikmatan yang menggetarkan: melihat wajah Allah yang mulia. Bukan karena Allah bisa di lihat secara fisik sebagaimana makhluk, tapi karena Dia Maha Kuasa memperlihatkan Dzat-Nya tanpa menyerupai apa pun. Itulah kebahagiaan yang tak bisa di tandingi oleh istana atau sungai susu di surga.
Hanya mereka yang mengenal Allah di dunia dengan penyucian yang benar, yang akan mendapatkan kesempatan memandang-Nya dengan hati yang tenang. Maka jangan lewatkan satu haripun tanpa memperbarui tauhidmu.
Tuhan yang Mencipta
Allah tidak meniru. Dia mencipta tanpa cetak biru. Dia mengadakan tanpa alat. Dia sendirian dalam kemampuan untuk menciptakan dan mengatur. Setiap desah nafasmu, setiap degup jantungmu, dan setiap takdir hidupmu semua telah di tulis dan diatur oleh-Nya.
Dan karena semua berada dalam genggaman-Nya, maka tidak ada yang luput dari kasih-Nya. Tidak ada air mata yang jatuh sia-sia, tidak ada doa yang naik dengan sia-sia, tidak ada luka yang Allah tidak tahu maknanya.
Tanzīh Kompas untuk Ibadah dan Kehidupan
Ajaran tanzīh bukan sekadar konsep teologis. Ia adalah kompas rohani. Ia membuat kita:
Ikhlas, karena kita menyembah Tuhan yang Maha Sempurna, bukan karena imbalan.
Tunduk, karena kita sadar betapa kecilnya kita di hadapan Tuhan yang mutlak.
Berani, karena Tuhan kita tidak pernah mati, tidak pernah lalai, dan tidak bisa dikalahkan.
Dengan memahami Tanzīh, kita tidak akan tertipu oleh takhayul, oleh bisikan yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk. Kita akan berdiri tegak dalam doa, dalam keheningan malam, dalam keterasingan dunia, karena yakin: Dia Ada, Dia Dekat, dan Dia Sempurna.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُنَزِّهِينَ لَكَ، الْمُطَهِّرِينَ لِعَقِيدَتِنَا، وَارْزُقْنَا لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّكَ، وَثَبِّتْنَا عَلَى التَّوْحِيدِ إِلَى أَنْ نَلْقَاكَ، آمِينَ.
“Ya Allah, jadikan kami golongan yang menyucikan-Mu, yang menjaga aqidah kami tetap bersih, dan anugerahkanlah kepada kami kenikmatan memandang wajah-Mu yang mulia, pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Mu. Teguhkan kami di atas tauhid hingga kami berjumpa dengan-Mu. Āmīn.”
Oleh: Ki Pekathik


