Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 25

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8
Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 25

التنزيه:

وأنه ليس بجسم مصور، ولا جوهر محدود مقدار، فإنه لا يماثل الأجسام لا في التقدير ولا قبول الانقسام، فإنه ليس بجوهر ولا تحله الجواهر، ولا يعرض، بل لا يماثل موجودا ولا يماثله موجود، وليس كمثله شيء، وأنه لا يحده المقدار، ولا تحويه الأقطار، ولا تحويه الجهات، ولا تكتنفه السموات، وأنه مستو على العرش، على الوجه الذي قاله، وبالمعنى الذي أراده، استواء منزها عن المماسة والاستقرار، والتمكن والحلول والانتقال، لا يحمله العرش، بل العرش وحملته محمولون بلطف قدرته، ومقهورون في قبضته، وهو فوق العرش، وفوق كل شيء إلى تخوم الثرى، فوقية لا تزيده قربا إلى العرش والسماء، بل هو رفيع الدرجات على العرش.

كما أنه رفيع الدرجات على الثرى، وهو مع ذلك قريب من كل موجود، وهو أقرب إلى العبيد من حبل الوريد، فهو على كل شيء شهيد، إذ لا يماثل قربه قرب الأجسام، كما لا تماثل ذاته ذات الأجسام.

وأنه لا يحل في شيء، ولا يحل فيه شيء، تعالى أن يحويه مكان، كما تقدس عن أن يحده زمان، بل كان قبل أن خلق الزمان والمكان، وهو الآن على ما عليه كان.

٢٥

Cara baca:

التَّنْزِيهُ –

 Penyucian (Allah dari penyerupaan makhluk)

وَأَنَّهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ مُصَوَّرٍ، وَلَا جَوْهَرٍ مَحْدُودٍ مُقَدَّرٍ، فَإِنَّهُ لَا يُمَاثِلُ الْأَجْسَامَ، لَا فِي التَّقْدِيرِ، وَلَا فِي قَبُولِ الِانْقِسَامِ.

وَأَنَّهُ لَيْسَ بِجَوْهَرٍ، وَلَا تَحُلُّهُ الْجَوَاهِرُ، وَلَا بِعَرَضٍ، وَلَا تَحُلُّهُ الْأَعْرَاضُ، بَلْ لَا يُمَاثِلُ مَوْجُودًا، وَلَا يُمَاثِلُهُ مَوْجُودٌ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.

وَأَنَّهُ لَا يُحَدُّهُ الْمِقْدَارُ، وَلَا تَحْوِيهِ الْأَقْطَارُ، وَلَا تُحِيطُ بِهِ الْجِهَاتُ، وَلَا تَكْتَنِفُهُ السَّمَاوَاتُ.

وَأَنَّهُ مُسْتَوٍ عَلَى الْعَرْشِ، عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي قَالَهُ، وَبِالْمَعْنَى الَّذِي أَرَادَهُ، اسْتِوَاءً مُنَزَّهًا عَنِ الْمُمَاسَّةِ وَالِاسْتِقْرَارِ، وَالتَّمَكُّنِ وَالْحُلُولِ وَالِانْتِقَالِ.

لَا يَحْمِلُهُ الْعَرْشُ، بَلِ الْعَرْشُ وَحَمَلَتُهُ مَحْمُولُونَ بِلُطْفِ قُدْرَتِهِ، وَمَقْهُورُونَ فِي قَبْضَتِهِ، وَهُوَ فَوْقَ الْعَرْشِ، وَفَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ، إِلَى تُخُومِ الثَّرَى، إِلَى نُجُومِ الثَّرَى، فَوْقِيَّةٌ لَا تَزِيدُهُ قُرْبًا إِلَى الْعَرْشِ وَالسَّمَاءِ، بَلْ هُوَ رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ عَلَى الْعَرْشِ، كَمَا أَنَّهُ رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ عَلَى الثَّرَى.

وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ قَرِيبٌ مِنْ كُلِّ مَوْجُودٍ، وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ، إِذْ لَا يُمَاثِلُ قُرْبُهُ قُرْبَ الْأَجْسَامِ، كَمَا لَا تُـمَاثِلُ ذَاتُهُ ذَاتَ الْأَجْسَامِ.

وَأَنَّهُ لَا يَحُلُّ فِي شَيْءٍ، وَلَا يَحُلُّ فِيهِ شَيْءٌ، تَعَالَى أَنْ يَحْوِيَهُ مَكَانٌ، كَمَا تَنَزَّهَ عَنْ أَنْ يُحِدَّهُ زَمَانٌ.

بَلْ كَانَ قَبْلَ أَنْ خَلَقَ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ، وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ.

٢٥

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 24

Penjelasan:

التَّنْزِيهُ

Penyucian (Allah dari penyerupaan dengan makhluk).

Makna:

Tanzīh adalah ajaran pokok dalam tauhid yang berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan, keterbatasan, dan kemiripan dengan makhluk.

وَأَنَّهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ مُصَوَّرٍ، وَلَا جَوْهَرٍ مَحْدُودٍ مُقَدَّرٍ، فَإِنَّهُ لَا يُمَاثِلُ الْأَجْسَامَ، لَا فِي التَّقْدِيرِ، وَلَا فِي قَبُولِ الِانْقِسَامِ.

“Dan bahwa Dia bukanlah tubuh yang dibentuk, bukan pula zat (esensi) yang terbatas dan terukur. Maka sungguh Dia tidak menyerupai tubuh-tubuh, tidak dalam ukuran, dan tidak pula dalam kemungkinan terpecah belah.”

Allah bukanlah materi, bukan tubuh, bukan bentuk, bukan sesuatu yang memiliki ukuran panjang, lebar, tinggi, atau bisa diukur dan dihitung. Allah tidak bisa dibagi, tidak memiliki bagian-bagian sebagaimana benda. Ini menegaskan bahwa zat Allah tidak sama dengan ciptaan mana pun.

وَأَنَّهُ لَيْسَ بِجَوْهَرٍ، وَلَا تَحُلُّهُ الْجَوَاهِرُ، وَلَا بِعَرَضٍ، وَلَا تَحُلُّهُ الْأَعْرَاضُ، بَلْ لَا يُمَاثِلُ مَوْجُودًا، وَلَا يُمَاثِلُهُ مَوْجُودٌ، وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.

“Dan bahwa Dia bukan zat (substansi), dan tidak ditempati oleh zat. Bukan sifat yang menempel, dan tidak ditempati oleh sifat-sifat itu. Bahkan, Dia tidak menyerupai makhluk apa pun, dan tidak ada makhluk yang menyerupai-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

Allah tidak menempati tempat seperti makhluk. Dia tidak memiliki sifat-sifat fisik seperti warna, bentuk, ukuran, atau arah. Ayat “Laysa kamitslihi syai’un” (tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya) menjadi dasar kokoh dalam menyucikan Allah dari segala persangkaan manusia tentang-Nya.

وَأَنَّهُ لَا يُحَدُّهُ الْمِقْدَارُ، وَلَا تَحْوِيهِ الْأَقْطَارُ، وَلَا تُحِيطُ بِهِ الْجِهَاتُ، وَلَا تَكْتَنِفُهُ السَّمَاوَاتُ.

“Dan bahwa Dia tidak dibatasi oleh ukuran, tidak dilingkupi oleh arah-arah penjuru, tidak dikelilingi oleh sisi-sisi arah, dan langit pun tidak mencakup-Nya.”

Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dia tidak bisa “ditempatkan” dalam arah atas, bawah, timur, atau barat. Dia bukan bagian dari alam semesta, dan alam semesta bukan tempat bagi-Nya.

وَأَنَّهُ مُسْتَوٍ عَلَى الْعَرْشِ، عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي قَالَهُ، وَبِالْمَعْنَى الَّذِي أَرَادَهُ، اسْتِوَاءً مُنَزَّهًا عَنِ الْمُمَاسَّةِ وَالِاسْتِقْرَارِ، وَالتَّمَكُّنِ وَالْحُلُولِ وَالِانْتِقَالِ.

“Dan bahwa Dia bersemayam di atas ‘Arsy sebagaimana yang Dia firmankan, dengan makna yang Dia kehendaki. Suatu bersemayam yang disucikan dari bersentuhan, menetap, berada, menempati, dan berpindah.”

Ayat tentang “istiwa’” (bersemayam) dimaknai tanpa tasybih (menyerupakan) dan tanpa takyif (membayangkan bagaimana). Allah tidak membutuhkan tempat untuk bersemayam. Istiwa’ adalah makna yang layak bagi keagungan-Nya, bukan dalam bentuk duduk atau menetap.

لَا يَحْمِلُهُ الْعَرْشُ، بَلِ الْعَرْشُ وَحَمَلَتُهُ مَحْمُولُونَ بِلُطْفِ قُدْرَتِهِ، وَمَقْهُورُونَ فِي قَبْضَتِهِ، وَهُوَ فَوْقَ الْعَرْشِ، وَفَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ، إِلَى تُخُومِ الثَّرَى، إِلَى نُجُومِ الثَّرَى، فَوْقِيَّةٌ لَا تَزِيدُهُ قُرْبًا إِلَى الْعَرْشِ وَالسَّمَاءِ، بَلْ هُوَ رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ عَلَى الْعَرْشِ، كَمَا أَنَّهُ رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ عَلَى الثَّرَى.

“Arsy tidak memikul-Nya, bahkan Arsy dan para pemikulnya itu dipikul oleh kelembutan kuasa-Nya, dan tunduk dalam genggaman-Nya. Dia di atas Arsy, dan di atas segala sesuatu, hingga ke dasar bumi, hingga ke bintang-bintang. Keagungan di atas yang tidak menambah kedekatan kepada Arsy dan langit, bahkan Dia tinggi derajat-Nya di atas Arsy sebagaimana Dia tinggi derajat-Nya di atas bumi.”

Allah itu Maha Tinggi, bukan dalam arti tempat, tapi derajat dan kemuliaan. Segala sesuatu dalam kekuasaan dan genggaman-Nya. ‘Arsy yang begitu agung saja, tidak mampu menanggung-Nya; justru Allahlah yang memelihara segalanya.

وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ قَرِيبٌ مِنْ كُلِّ مَوْجُودٍ، وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ، إِذْ لَا يُمَاثِلُ قُرْبُهُ قُرْبَ الْأَجْسَامِ، كَمَا لَا تُـمَاثِلُ ذَاتُهُ ذَاتَ الْأَجْسَامِ.

“Dan Dia, dengan semua itu, tetap dekat dengan setiap makhluk. Dia lebih dekat kepada hamba daripada urat lehernya. Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu. Kedekatan-Nya tidak serupa dengan kedekatan jasmani, sebagaimana Dzat-Nya tidak menyerupai dzat makhluk.”

Meskipun Allah Maha Tinggi dan Maha Agung, tetapi kedekatan-Nya dengan hamba-Nya sangat nyata. Kedekatan ini bukan dalam bentuk fisik, tapi kedekatan ilmu, rahmat, dan kuasa. Inilah yang membuat seorang hamba selalu merasa diawasi, dicintai, dan dilindungi oleh Allah.

وَأَنَّهُ لَا يَحُلُّ فِي شَيْءٍ، وَلَا يَحُلُّ فِيهِ شَيْءٌ، تَعَالَى أَنْ يَحْوِيَهُ مَكَانٌ، كَمَا تَنَزَّهَ عَنْ أَنْ يُحِدَّهُ زَمَانٌ.

“Dan bahwa Dia tidak menempati sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menempati-Nya. Maha Suci Dia dari dibatasi oleh tempat, sebagaimana Dia disucikan dari dibatasi oleh waktu.”

Allah tidak berada “di dalam” langit, atau “di dalam” hati makhluk, seperti pemahaman kaum panteis. Allah berada tanpa tempat dan waktu. Tempat dan waktu adalah ciptaan-Nya, dan Dia tidak butuh kepada ciptaan-Nya.

بَلْ كَانَ قَبْلَ أَنْ خَلَقَ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ، وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ.

“Bahkan, Dia telah ada sebelum menciptakan waktu dan tempat, dan Dia kini seperti keadaan-Nya dahulu.”

Inilah makna tauhid yang murni: Allah itu qadīm (ada tanpa permulaan), dan tetap sebagaimana Dia sejak awal. Tidak berubah, tidak terpengaruh oleh waktu, tidak bergerak, tidak berpindah. Allah tidak berubah karena waktu, karena perubahan adalah sifat makhluk.

Penutup

Teks ini adalah puncak dari penghayatan makna tauhid yang bersih dari tasybih (penyerupaan), tajsim (menggambarkan Allah seperti makhluk), hulul (meyakini Allah menyatu dalam makhluk), dan ilhad (menyeleweng dari kesucian makna keesaan Allah).

Ia mengajak setiap hamba untuk mengosongkan pikirannya dari khayalan tentang bentuk Tuhan, lalu memenuhi hatinya dengan pengagungan murni atas kebesaran-Nya.

Dalam dunia yang dipenuhi bayangan dan perumpamaan fisik, kita kerap tanpa sadar menyeret gambaran-gambaran jasmani ke dalam doa dan ibadah. Kita membayangkan Allah seperti cahaya, seperti malaikat, seperti sosok di atas takhta.

Padahal Allah tidak bisa dilihat oleh mata, tidak bisa dikhayalkan oleh akal, dan tidak serupa dengan apa pun.

Keagungan Allah bukan terletak pada betapa “besarnya” atau “tingginya” dalam arti ruang, tapi karena segala sesuatu berada dalam genggaman dan kuasa-Nya. ‘Arsy, langit, bumi, bintang, semua tunduk.

Dia tidak ditopang oleh tempat, dan tidak berubah oleh waktu. Dan dalam keagungan seperti itu, Dia tetap dekat — lebih dekat dari urat nadi.

Betapa lembutnya sifat-Nya, meski tak terlihat; betapa luas ilmu-Nya, meski tak terukur; betapa besar kasih sayang-Nya, meski tak terdengar.

Ia Maha Ada dalam kesendirian-Nya, sebelum apa pun ada, dan tetap sebagaimana Dia adalah, tanpa perlu bergantung pada ciptaan-Nya.

Inilah pelita batin yang menghapus segala bentuk kesyirikan halus dalam tauhid: mengira Allah butuh tempat, mengira Allah menduduki ruang, mengira Allah terbatas oleh langit, atau berpindah sebagaimana makhluk.

Maka siapa pun yang menyucikan Allah seperti ini, jiwanya akan bersih, ibadahnya akan lurus, dan cintanya kepada Allah tidak akan berakhir dengan kekecewaan, sebab ia mencintai Dzat yang benar-benar layak dicintai — bukan khayalan dari bayangannya sendiri.

Semoga hati kita dikuatkan untuk memeluk tauhid murni ini dengan rendah hati, dan menghidupkannya dalam ibadah, akhlak, serta pandangan hidup yang penuh keagungan kepada-Nya.

اللَّهُمَّ نَوِّرْ قُلُوبَنَا بِنُورِ تَنْزِيهِكَ، وَثَبِّتْنَا عَلَى مَعْرِفَةِ وَحْدَانِيَّتِكَ، وَارْزُقْنَا تَوْفِيقًا لِلْخُضُوعِ وَالْخُشُوعِ فِي حَضْرَتِكَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

“Ya Allah, terangilah hati kami dengan cahaya penyucian-Mu. Teguhkan kami di atas pengenalan akan keesaan-Mu. Dan anugerahkanlah taufik agar kami tunduk dan khusyuk di hadapan-Mu, wahai Tuhan seluruh alam.”

Oleh: Ki Pekathik