
Pertemuan Burhan Dengan Sosok Dewi
Burhan menghentikan mobilnya, keringat dingin keluar dari tubuhnya. Sebelumnya Maisaroh istrinya ditemui sosok Anisa, sekarang dia ditemui sosok Dewi.
“Aku Seperti dibuat lupa saat sosok Dewi tadi berada disisiku. Padahal baru semalam melihat fotonya Bersama suami dan anak-anaknya,” kata Burhan dalam hati.
Cukup lama Burhan berhenti di pinggir jalan, hingga ada seseorang datang mendekatinya. Kemudian menanyakan kenapa Burhan berhenti di tempat tersebut.
“Kenapa Pak, apakah mobilnya bermasalah? Lah bukannya Bapak itu yang kemarin mobilnya masuk ke pemakaman itu?” tanya seseorang yang ternyata penduduk setempat.
“Mobil saya gapapa, Pak. Iya, saya yang kemarin mobilnya masuk ke pemakaman itu. Bapak penduduk kampung ini?” tanya balik Burhan.
“Betul, saya juga yang membantu mengeluarkan mobil Bapak,” jawabnya.
Kemudian Burhan menceritakan pengalamannya saat seorang Wanita menghentikan mobilnya minta tumpangan dan turun di tempat itu. Namun, lelaki tersebut berkata jika Burhan sama sekali tidak menurunkan penumpang.
Hanya tampak berjalan pelan dan berhenti saja. Tidak ada orang yang turun dari mobilnya, bahkan pintu mobil pun tidak terbuka sama sekali.
“Sungguh tadi ada Wanita yang turun dari mobil saya ini, Pak!” seru Burhan.
“Mohon maaf Pak, saya dari tadi mengamati. Sekilas saya Seperti ingat dengan mobil ini,” jawab warga tersebut.
Kemudian orang tersebut bertanya pada Burhan. Dia menanyakan ciri-ciri Wanita yang katanya numpang di mobilnya. Burhan pun menceritakan ciri dari Wanita tersebut yang diduga Burhan sebagai Dewi ibu dari Bayu.
Baca Juga:

Qorin (Cerbung Misteri Bab 7) https://sabilulhuda.org/qorin-cerbung-misteri-bab-7/
Sosok Dewi Yang Gentayangan
“Wah gawat, itu Seperti ciri-ciri Bu Dewi yang sudah meninggal tiga tahun lalu, Pak. Memang beberapa waktu terakhir ini, sering muncul dan menampakkan diri ke warga,” jawab orang tersebut.
Burhan hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa. Menurut Nenek Lastri pandangan para warga kampung itu kurang baik terhadap keluarga Bayu. Mereka menganggap keluarga Bayu Seperti mendapat kutukan dan bisa memberi efek samping kepada warga lain.
Tanpa diminta orang tersebut menceritakan kisah kematian tragis dari seluruh keluarga bayu. Dari Arya Dwi Pamungkas dan Anisa yang mengalami kecelakaan. Kemudian Dewi sendiri yang ditemukan tewas tergantung di dahan pohon.
Sampai dikabarkan Dewi menjadi hantu gentayangan yang muncul di saat-saat tertentu. Burhan hanya menjadi pendengar setia tanpa memberi komentar.
Agar tidak ditanya macam-macam soal Dewi dan keluarga Bayu yang lain, Burhan segera pamit dan melanjutkan perjalanan. Ingin segera sampai di rumah Nenek Lastri dan Bayu.
Untungnya Burhan bukan orang yang mudah percaya begitu saja dengan ucapan seseorang. Bagaimanapun Burhan akan mendengar dari pihak berbeda untuk mendapat keterangan yang lebih akurat.
“Sebelum menemui Kyai Usman, aku harus mendengar cerita versi keluarga Bayu. Aku belum menemukan sisi gelap yang menonjol dari mereka, meski ada pengalaman mistis yang dialami Alisa dan Maisaroh,” gumam Burhan.
Seandainya, Bayu bukan lelaki yang dicintai Alisa, mungkin Burhan juga tidak ambil pusing. Namun, kelihatan sekali jika Alisa begitu mencintai Bayu. Sementara berita tentang keluarga Bayu sangat negative. Berbeda dengan apa yang dialami dan di saksikan sendiri oleh Burhan.
Sosok Dewi Yang Gentayangan
Kurang dari sepuluh menit, Burhan sudah sampai di halaman tempat tinggal Bayu. Tidak Seperti yang dibayangkan, rumah tersebut tidak ramai tamu. Padahal akan mengadakan acara tahlilan mengirim doa untuk Dewi ibunya Bayu.
Burhan jadi semakin heran, karena tradisi yang ada peringatan seribu hari selalu ramai orang datang. Karena dianggap peringatan atau selamatan terakhir yang biasa dilakukan.
Setelah Seribu hari biasanya hanya diadakan acara khaul mengambill dari hari dan pasaran meninggalnya seseorang. Itupun tidak selalu dilakukan, tergantung dari keluarga yang ditinggalkan. Ada yang mengadakan ada juga yang tidak.
Secara tradisi yang umum dilakukan hanya sampai peringatan seribu hari. Kemudian ditandai dengan pemasangan batu nisan sebagai tanda sudah seribu harinya.
“Pak Burhan sendiri saja, Bu Maisaroh tidak diajak?” tanya Bayu menyambut kedatangan Burhan.
“Oh tidak, kebetulan hanya lewat dan mampir saja. Apakah nanti malam jadi mengadakan acara doa Bersama di rumah ini?” tanya Burhan.
“Jadi Pak, tapi ya begini kami memang kurang disukai warga. Apalagi di kampung asli kami,” jawab Bayu.
Burhan terdiam, dia sudah mendengar isu yang dituduhkan kepada keluarga Bayu. Terutama isu kematian Dewi yang dianggap gantung diri. Sebuah perbuatan dosa menghilangkan nyawa sendiri dan mengakibatkan warga jadi ketakutan.
“Terus, bagaimana dengan acara nanti malam?” tanya Burhan.
“Tetap kami jalankan Pak, masih ada yang mau datang meski tidak Seperti di tempat lain,” jawab Bayu.
Keluarga Bayu Yang Terasing
Burhan tidak melihat kesibukan di rumah itu. Kesibukan yang melibatkan warga yang datang membantu persiapan acara. Namun, di rumah Bayu sama tampak sepi. Seperti tidak ada acara apapun, hanya beberapa orang itu juga masih kerabat bayu. Baik dari pihak ibunya maupun dari pihak ayahnya.
“Sabar Nak Bayu, semoga kebenaran akan segera terungkap,” kata Burhan.
Kemudian, Bayu mengajak Burhan masuk ke dalam rumahnya. Nenek lastri tampak baru saja melaksanakan sholat. Masih menggunakan mukena lengkap, pakain yang digunakan untuk shalat barusan.
“Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang sudi datang ke rumah ini,” kata Nenek Lastri.
“Kedatangan saya justru membuat keluarga ini repot, Bu Lastri!” seru Burhan.
“Tidak, sudah lama tidak ada yang mau berkunjung ke rumah ini. Bahkan ada acara pun hanya beberapa orang yang sudi datang,” kata Nenek Lastri.
Keluarga Bayu Yang Terasing
“Saya dan istri boleh kalau sering berkunjung kemari?” tanya Burhan.
Entah karena apa, Burhan merasa senang berinteraksi dengan Bayu dan Nenek Lastri. Meskipun sudah mendapat cerita bagaimana keluarga Bayu yang dianggap membawa petaka. Keluarganya meninggal semua secara tidak wajar. Kemudian dianggap arwah mereka gentayangan dan mengganggu warga.
“Apa yang salah dengan keluarga ini? Sepertinya tidak ada yang aneh atau menyimpang,” kata Burhan dalam hati.
Burhan membawa sesuatu lalu diserahkan kepada Bayu. Beberapa kebutuhan pokok untuk membantu acara yang akan diselenggarakan di rumah itu.
“Nak Bayu, Bapak membawa sesuatu hanya sedikit untuk membuat minuman saat acara nanti malam. Karena Bapak tidak bisa hadir. Besok saja kalau mau membetulkan nisan Bapak akan mengajak istri ikut hadir di makam,” kata Burhan.
“Kenapa harus repot repot membawa oleh-oleh, Pak. Di rumah tidak ada acara masak, untuk kenduri kami sudah pesan catering saja,” jawab Bayu.
Karena merasa keluarganya di kucilkan, Bayu dan Nenek Lastri memilih pesan untuk makanan dan berkat usai kenduri.
“Sampai Seperti itukah sikap para warga di sekitar sini. Apakah memang Bu Dewi dan Anisa sering muncul dan menakuti Masyarakat.
Burhan tidak ingin menambah pemikiran Bayu dan nenek Lastri. Dia tidak menceritakan sosok Dewi yang menumpang mobilnya dan menuju ke pemakaman. Cerita sepihak dari seorang warga dirasa tidak perlu di katakan kepada Bayu.
“Sepertinya, hari sudah menjelang sore, maaf saya pamit pulang dulu. Kasihan istri saya tadi di rumah sendirian,” kata Burhan kepada nenek Lastri.
“Sebenarnya ikut acara tahlilan dulu, Nak. Kami sangat senang jika ada yang sudi main ke rumah ini,” kata Nenek Lastri.
“Saya juga sudah menganggap Bu Lastri dan Nak Bayu sebagai keluarga sendiri. Semoga saja bisa seterusnya Seperti ini.”
Burhan menjawab ucapan Nenek lastri. Namun, tetap mengatakan ingin kembali ke rumah karena Maisaroh hanya sendiri. Sementara Alisa tidak berada di rumah saat Burhan meninggalkan rumah.
Burhan Pulang, Ada Yang Janggal Di Rumah
“Besok-besok, kalau ada waktu mainlah ke rumah kami. Besok kami akan Kembali ke rumah lama kami,” kata Nenek lastri.
“Insya Allah Bu Lastri, saya juga senang bisa kenal dengan Bu Lastri dan Nak Bayu. Semoga ini awal dari persaudaraan kita, Bu Lastri!” seru Burhan.
Burhan pun segera pamit meninggalkan rumah Bayu. Dalam perjalanan, Burhan masih terpikir kejadian saat sosok Dewi ikut numpang di mobilnya.
Menjelang maghrib, Burhan sampai di rumahnya. Maisaroh dan Alisa sudah menunggu di ruang makan.
“Bapak makan sekalian, kita sudah menunggu dari tadi,” kata Maisaroh.
“Kalian saja makan, aku sedang tidak mau makan,” jawab Burhan
“Bapak dari mana saja?” tanya Alisa.
“Ambil mobil saja, gak kemana-mana,” jawab Burhan.
Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA
Pengakuan Maisaroh Tentang Anisa
“Pak, lihat kalung ibu gak?” tanya Maisaroh.
“Kalung? Kalung yang mana Bu?” tanya balik Burhan.
“Itu yang Ibu simpan di kamar, kotaknya ada tapi kalungnya gak ada,” kata Maisaroh.
Burhan bingung, seingatnya Maisaroh tidak memiliki kalung selain yang di pakainya. Maisaroh tidak terlalu suka dengan perhiasan. Bahkan Burhan juga tidak merasa pernah membelikan kalung selain yang di pakai sekarang.
“Ah Ibu ini aneh, Bapak saja gak merasa membelikan,” jawab Burhan.
“Ayo ikut Ibu, itu perhiasannya masih ada,” kata Maisaroh. Kemudian Maisaroh menggandeng tangan Burhan masuk ke kamar. Namun, sesampai di kamar Maisaroh justru mengatakan jika ucapannya tidak benar.
Memang dia tak punya kalung selain yang di pakainya. Namun, tujuannya hanya ingin mengatakan kepada Burhan. Jika sosok Anisa ada di rumah itu dan Anisa bilang akan mengikuti Maisaroh terus atas perintah Dewi ibunya.
“Pak, lupakan soal kalung. Itu memang hanya dusta. Ibu hanya mau bilang jika, sosok Anisa sekarang berada di rumah ini,” kata Maisaroh.
“Apa, Anisa berada di rumah ini, kenapa bisa seperti itu?” tanya Burhan.
Ancaman Mistis Terhadap Keluarga Burhan
“Entahlah, sepertinya dia sangat keberatan dengan hubungan Alisa dan Bayu,” jawab Maisaroh.
Burhan sangat terkejut, saat Maisaroh menceritakan mimpinya di Tengah hari. Ingin menyanggah, tapi dia sendiri mengalami hal mistis juga. Sama -sama di tengah hari, Burhan juga di temui sosok Dewi. Meskipun tidak mengatakan apapun.
…



