Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 24

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8
Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 24

ونبدأ أولا قبل الخوض فيما يراد من بداية الهداية بالخوض في ترجمة عقيدة أهل السنة في كلمتي الشهادة، التي هي أكد مباني الإسلام، فيقال:

معنى الكلمة الأولى:

الحمد لله المبدي، المعيد، الفعال لما يريد، ذي العرش المجيد، والبطش الشديد، الهادي صفوة العبيد، إلى المنهج الرشيد، والمسلك السديد، المنعم عليهم بعد شهادة التوحيد، بحراسة عقائدهم عن ظلمات التشكيك والترديد، السابق لهم إلى اتباع رسوله المصطفى ﷺ، واقتفاء آثار صحبه الأكرمين المكرمين بالتأييد والتسديد،

 والمتجلي لهم في ذاته وأفعاله، بمحاسن أوصافه التي لا يدركها إلا من ألقى السمع وهو شهيد، المعرف إياهم في ذاته: أنه واحد لا شريك له، فردا لا مثل له،

 صمدا لا ضد له، منفردا لا ند له، واحد قديم لا أول له، أزلي لا بداية له، مستمر الوجود لا آخر له، أبدي لا نهاية له، قيوم لا انقطاع له، دائم لا انصرام له، لم يزل ولا يزال موصوفا بنعوت الجلال، لا يفنى عليه بالانقضاء وتصرم الآباد، وانقراض الآجال، بل هو الأول والآخر، والظاهر والباطن، وهو بكل شيء عليم.

٢٤

Cara baca:

وَنَبْدَأُ أَوَّلًا قَبْلَ الْخَوْضِ فِيمَا يُرَادُ مِنْ بَدَايَةِ الْهِدَايَةِ، بِالْخَوْضِ فِي تَرْجَمَةِ عَقِيدَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي كَلِمَتَيْ الشَّهَادَةِ، الَّتِي هِيَ أَكَّدُ مَبَانِيَ الْإِسْلَامِ، فَيُقَالُ:

Kita mulai terlebih dahulu, sebelum membahas maksud dari permulaan hidayah, dengan menyelami terjemah akidah Ahlus Sunnah dalam dua kalimat syahadat, yang merupakan fondasi paling kokoh dalam Islam. Maka dikatakan:

مَعْنَى الْكَلِمَةِ الْأُولَى:

Makna dari kalimat pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُبْدِئِ، الْمُعِيدِ، الْفَعَّالِ لِمَا يُرِيدُ، ذِي الْعَرْشِ الْمَجِيدِ، وَالْبَطْشِ الشَّدِيدِ، الْهَادِي صَفْوَةَ الْعَبِيدِ إِلَى الْمَنْهَجِ الرَّشِيدِ، وَالْمَسْلَكِ السَّدِيدِ،

Segala puji bagi Allah, yang memulai dan mengulangi penciptaan, yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Dia adalah Pemilik ‘Arsy yang mulia dan kekuatan yang dahsyat. Dia adalah Sang Pemberi petunjuk kepada hamba-hamba pilihan-Nya menuju jalan yang lurus dan petunjuk yang benar.

 الْمُنْعِمِ عَلَيْهِمْ بَعْدَ شَهَادَةِ التَّوْحِيدِ، بِحِرَاسَةِ عَقَائِدِهِمْ عَنْ ظُلُمَاتِ التَّشْكِيكِ وَالتَّرْدِيدِ، السَّابِقِ لَهُمْ إِلَى اتِّبَاعِ رَسُولِهِ الْمُصْطَفَى ﷺ، وَاقْتِفَاءِ آثَارِ صَحْبِهِ الْأَكْرَمِينَ الْمُكَرَّمِينَ بِالتَّأْيِيدِ وَالتَّسْدِيدِ،

Dia adalah Sang Pemberi nikmat kepada mereka setelah bersaksi tentang tauhid, dengan menjaga akidah mereka dari kegelapan keraguan dan kebimbangan.

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 23

Dia adalah yang mendahului mereka dalam mengikuti Rasul-Nya yang terpilih ﷺ dan menelusuri jejak para sahabatnya yang dimuliakan dan diteguhkan dengan dukungan dan bimbingan.

 وَالْمُتَجَلِّي لَهُمْ فِي ذَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، بِمَحَاسِنِ أَوْصَافِهِ الَّتِي لَا يُدْرِكُهَا إِلَّا مَنْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ، الْمُعَرِّفِ إِيَّاهُمْ فِي ذَاتِهِ: أَنَّهُ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَرْدٌ لَا مِثْلَ لَهُ، صَمَدٌ لَا ضِدَّ لَهُ، مُنْفَرِدٌ لَا نِدَّ لَهُ، وَاحِدٌ قَدِيمٌ لَا أَوَّلَ لَهُ، أَزَلِيٌّ لَا بَدَايَةَ لَهُ، مُسْتَمِرُّ الْوُجُودِ لَا آخِرَ لَهُ، أَبَدِيٌّ لَا نِهَايَةَ لَهُ،

Dia menampakkan diri kepada mereka dalam zat dan perbuatan-Nya dengan keindahan sifat-sifat-Nya yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang mendengarkan dengan kesadaran penuh.

Dia mengenalkan diri-Nya kepada mereka bahwa Dia adalah Tuhan Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, tunggal tanpa tandingan, tempat bergantung yang tidak memiliki lawan, yang menyendiri tanpa pesaing, satu yang azali tanpa permulaan, abadi tanpa awal, terus ada tanpa akhir, kekal tanpa batas.

 قَيُّومٌ لَا انْقِطَاعَ لَهُ، دَائِمٌ لَا انْصِرَامَ لَهُ، لَمْ يَزَلْ وَلَا يَزَالُ مَوْصُوفًا بِنُعُوتِ الْجَلَالِ، لَا يَفْنَى عَلَيْهِ بِالِانْقِضَاءِ وَتَصَرُّمِ الْآبَادِ، وَانْقِرَاضِ الْآجَالِ، بَلْ هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ، وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ، وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

Dia adalah Yang Menegakkan segala sesuatu tanpa terputus, yang senantiasa ada tanpa henti. Dia senantiasa dan akan tetap disifati dengan sifat-sifat keagungan.

Tidak bisa binasa karena berlalunya zaman dan habisnya waktu. Bahkan, Dia adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Tampak dan Yang Tersembunyi. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Penjelasan:

Menuju Hidayah

Sebelum seorang hamba mengetuk hidayah sejati,  terlebih dahulu harus menanamkan pondasi yang kokoh dalam agamanya: dua kalimat syahadat.

Dasar akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, jalan keselamatan yang dilalui oleh para nabi, sahabat yang mulia, dan ulama yang diwarisi cahaya kebenaran. Dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali, pembahasan tentang hidayah dimulai dari pondasi keyakinan kalimat syahadat yang agung.

1. Menyambut Cahaya dengan Puji-Pujian

ٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ ٱلْمُبْدِئِ ٱلْمُعِيدِ، ٱلْفَعَّالِ لِمَا يُرِيدُ،

Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Maha Memulai dan Mengulang, Yang Maha Berbuat sesuai kehendak-Nya,

Makna: Allah yang menciptakan dari ketiadaan, dan mengembalikan segala sesuatu setelah fana, sesuai kehendak-Nya yang mutlak.

Kalimat pujian ini adalah cahaya bagi ruh yang sedang mencari arah. Allah adalah al-Mubdi’—Dia yang menciptakan segalanya dari tiada. Dan Dia pula al-Mu‘īd—yang mampu mengembalikannya.

Menghidupkan kembali yang mati, menghidupkan hati yang lalai, dan membangkitkan ruh yang tenggelam dalam kelam. Allah menciptakan kita dari ketiadaan dan suatu hari kelak akan mengembalikan kita kepada-Nya, dalam keadaan hidup dan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan semua niat dan perbuatan.

Dan Dia, al-Fa‘‘āl limā yurīd—berbuat sekehendak-Nya, bukan karena dipaksa, bukan karena perlu. Allah tidak membutuhkan makhluk, tetapi makhluk yang sangat membutuhkan-Nya. Inilah dasar kesadaran spiritual yang memerdekakan manusia dari penyembahan terhadap sesama makhluk.

2. Dzat Pemilik Arsy yang Maha Agung

ذِي ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدِ، وَٱلْبَطْشِ ٱلشَّدِيدِ،

Pemilik ‘Arsy yang Mahaagung, dan Pemilik kekuatan yang dahsyat,

Makna: Allah Mahatinggi, Mahakuasa, tidak ada yang dapat menghalangi kehendak dan kekuatan-Nya.

Dia adalah Pemilik ‘Arsy yang Mahamulia. Kekuasaan-Nya tidak terbatas, tidak terikat ruang dan waktu. Arsy adalah lambang keagungan, dan Allah mengaturnya bukan dengan duduk atau bertempat, tetapi dengan keagungan yang tiada tanding.

Dialah yang menggenggam segala sebab, yang jika Dia menghendaki sesuatu, hanya berkata: “Kun!” maka terjadilah.

3. Sang Pembimbing Hamba Pilihan

ٱلْهَادِي صَفْوَةَ ٱلْعَبِيدِ، إِلَى ٱلْمَنْهَجِ ٱلرَّشِيدِ، وَٱلْمَسْلَكِ ٱلسَّدِيدِ،

Yang memberi petunjuk kepada hamba-hamba pilihan-Nya, menuju jalan yang lurus dan jalur yang benar,

Makna: Hidayah adalah anugerah istimewa, diberikan kepada hamba-hamba yang bersih dan ikhlas.

Allah membimbing hamba-hamba pilihan-Nya menuju jalan yang lurus. Hidayah adalah cahaya yang sangat mahal, dan Allah memberikannya kepada siapa yang Ia kehendaki.

Siapa yang menerima hidayah itu, maka ia berjalan dalam ketenangan. Ia dipilih oleh Allah untuk mengenal-Nya, menyembah-Nya, dan menyucikan jiwanya.

Bimbingan ini tidak jatuh begitu saja. Ia diberikan kepada mereka yang bersyahadat dengan tulus, yang menjaga akidahnya dari racun keraguan dan syubhat. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk (menerima) Islam.” (QS. Al-An’am: 125)

4. Warisan Hidayah Lewat Risalah dan Sahabat

ٱلْمُنْعِمِ عَلَيْهِمْ بَعْدَ شَهَادَةِ ٱلتَّوْحِيدِ، بِحِرَاسَةِ عَقَائِدِهِمْ، عَنْ ظُلُمَاتِ ٱلتَّشْكِيكِ وَٱلتَّرْدِيدِ،

Yang menganugerahi mereka (hamba-Nya) setelah syahadat tauhid, dengan penjagaan atas akidah mereka dari kegelapan keraguan dan kebimbangan,

Makna: Orang yang bersyahadat dengan benar akan dijaga oleh Allah dari keraguan dan penyimpangan iman.

ٱلسَّابِقِ لَهُمْ إِلَى ٱتِّبَاعِ رَسُولِهِ ٱلْمُصْطَفَى ﷺ، وَٱقْتِفَاءِ آثَارِ صَحْبِهِ ٱلْأَكْرَمِينَ، ٱلْمُكَرَّمِينَ بِٱلتَّأْيِيدِ وَٱلتَّسْدِيدِ،

Yang mendahulukan mereka untuk mengikuti Rasul-Nya yang terpilih ﷺ, dan meniti jejak para sahabatnya yang mulia, yang dimuliakan dengan pertolongan dan bimbingan,

Makna: Jalan keselamatan adalah mengikuti Rasul dan para sahabat dengan penuh cinta dan penghormatan.

Allah mendahulukan mereka—para sahabat dan pengikut Rasulullah ﷺ—dalam menerima warisan hidayah. Mereka bukan hanya mendengar, tapi melihat langsung bagaimana Rasulullah ﷺ hidup dalam wahyu. Mereka tidak hanya menghafal ayat, tetapi menghidupkannya dalam laku.

Meniti jalan mereka bukanlah keterbelakangan, tapi kemuliaan. Karena dalam jejak langkah mereka ada keberkahan, dan dalam pengamalan mereka ada cahaya yang membimbing. Akidah yang lurus tidak dilahirkan dari tafsir liar atau logika semata, tapi dari keteladanan para pewaris nabi.

5. Mengenal Allah lewat Sifat dan Nama-Nya

وَٱلْمُتَجَلِّي لَهُمْ فِي ذَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، بِمَحَاسِنِ أَوْصَافِهِ، ٱلَّتِي لَا يُدْرِكُهَا إِلَّا مَنْ أَلْقَى ٱلسَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ،

Dan Yang menampakkan diri kepada mereka dalam Dzat dan perbuatan-Nya, dengan sifat-sifat-Nya yang indah, yang tidak dapat dipahami kecuali oleh mereka yang mendengarkan dengan hati yang hadir,

Makna: Allah bisa dikenal lewat ciptaan-Nya, namun pemahaman yang sejati hanya diraih oleh hati yang khusyuk.

Allah menampakkan keagungan-Nya melalui ciptaan-Nya dan perbuatan-Nya. Siapa pun yang mengamati langit malam, gerak awan, atau desir angin akan menangkap isyarat: ada Kekuasaan Agung di balik semua itu. Tapi hanya hati yang khusyuk, yang benar-benar mendengar dengan jiwa, yang bisa merasakan kehadiran Tuhan.

Sifat-sifat-Nya begitu agung:

Ia esa tanpa sekutu.

Ia tunggal tanpa serupa.

Ia abadi tanpa permulaan dan tanpa akhir.

Ia tidak berubah, tidak fana, tidak terbagi.

Ia tidak menyerupai makhluk, dan tidak bisa digambarkan oleh akal sempit manusia.

6. Satu, Tunggal, dan Tidak Beranak

ٱلْمُعَرِّفِ إِيَّاهُمْ فِي ذَاتِهِ: أَنَّهُ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَرْدٌ لَا مِثْلَ لَهُ،

Yang memperkenalkan diri-Nya kepada mereka: bahwa Dia adalah Esa, tiada sekutu bagi-Nya, Tunggal yang tiada yang menyerupai-Nya,

Makna: Tauhid sejati adalah meyakini keesaan Allah secara total, tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk.

Inilah titik tolak akidah tauhid: Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Bukan satu dari dua, atau bagian dari tiga. Bukan bagian dari wujud lain, bukan hasil dari sesuatu. Ia Fard, sendiri dalam keagungan-Nya. Tidak ada yang serupa, tidak ada yang menyerupai.

Inilah yang membedakan tauhid dengan konsep-konsep ketuhanan yang diselewengkan. Allah bukan bagian dari alam semesta. Dia yang menciptakan waktu, tempat, dan ruang, dan tidak terikat oleh semuanya itu.

7. Kekekalan dan Keabadian Tanpa Awal dan Akhir

صَمَدٌ لَا ضِدَّ لَهُ، مُنْفَرِدٌ لَا نِدَّ لَهُ،

Tempat bergantung yang tiada lawan bagi-Nya, yang Maha sendiri dan tiada tandingan bagi-Nya,

Makna: Allah tidak berlawanan, tidak bersaing, dan tidak membutuhkan perbandingan atau pembanding.

وَاحِدٌ قَدِيمٌ لَا أَوَّلَ لَهُ، أَزَلِيٌّ لَا بِدَايَةَ لَهُ،

Satu yang Maha Dahulu, tidak ada permulaan bagi-Nya; Azali, tidak memiliki awal,

Makna: Allah ada sebelum segala sesuatu tanpa awal, dan keberadaan-Nya tidak bermula.

مُسْتَمِرُّ ٱلْوُجُودِ لَا آخِرَ لَهُ، أَبَدِيٌّ لَا نِهَايَةَ لَهُ،

Yang terus-menerus ada, tidak berakhir; Abadi yang tiada akhir bagi-Nya,

Makna: Allah akan terus ada selamanya, dan keberadaan-Nya tidak pernah hilang.

Dalam akidah Ahlus Sunnah, Allah tidak bisa disamakan dengan makhluk yang bermula dan berakhir. Dia Azali, tidak bermula. Dia Abadi, tidak berakhir. Allah tidak dilahirkan, tidak berubah, tidak menjadi sesuatu yang lain.

Betapa dalam renungan ini. Saat manusia khawatir kehilangan, Allah adalah Dzat yang tak akan pernah hilang. Ketika manusia gelisah akan masa depan, Allah adalah Yang Memegang Takdir. Hanya kepada-Nya seorang mukmin menggantungkan harapan.

8. Sumber Keberlangsungan Segala Sesuatu

 قَيُّومٌ لَا ٱنْقِطَاعَ لَهُ، دَائِمٌ لَا ٱنْصِرَامَ لَهُ،

Yang Maha Berdiri Sendiri dan menopang segalanya, tanpa henti; Yang Maha Kekal, tanpa putus,

Makna: Allah menopang seluruh makhluk. Dia tidak tidur, tidak lelah, dan tidak sirna.

Allah adalah al-Qayyūm—Yang Maha Berdiri Sendiri dan Menopang segala sesuatu. Segala yang ada berdiri karena Dia, dan tanpa Dia semuanya akan lenyap. Tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan dan pengaturan-Nya.

Kehidupan, kematian, rezeki, bahkan bisikan hati, semuanya diketahui dan dikendalikan oleh Allah. Itulah mengapa seorang hamba yang mengenal Tuhan-Nya tidak pernah merasa benar-benar sendiri. Di setiap kepasrahan, ada pelukan kasih sayang Tuhan yang Qayyūm.

9. Tidak Berubah dan Tidak Binasa

لَمْ يَزَلْ وَلَا يَزَالُ مَوْصُوفًا بِنُعُوتِ ٱلْجَلَالِ،

Dia senantiasa dan akan terus disifati dengan sifat-sifat keagungan,

Makna: Allah tetap dengan segala sifat-Nya yang agung, tanpa berubah dan berganti.

لَا يَفْنَى عَلَيْهِ بِٱلِٱنْقِضَاءِ وَتَصَرُّمِ ٱلْآبَادِ، وَٱنْقِرَاضِ ٱلْآجَالِ،

Tidak binasa karena berakhirnya zaman dan habisnya waktu, atau lenyapnya makhluk,

Makna: Segala yang fana akan lenyap, tapi Allah tetap abadi.

Allah tetap dalam sifat keagungan-Nya selamanya. Waktu tidak memakan-Nya. Perubahan tidak menyentuh-Nya. Kiamat, kematian makhluk, dan habisnya segala yang fana—semuanya tidak menyentuh-Nya. Sebab Dia bukan bagian dari ciptaan, dan tidak tunduk pada hukum-hukum alam yang Ia ciptakan.

10. Dialah Awal, Akhir, Lahir, dan Batin

بَلْ هُوَ ٱلْأَوَّلُ وَٱلْآخِرُ، وَٱلظَّاهِرُ وَٱلْبَاطِنُ، وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

Bahkan Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Makna: Allah meliputi segala sesuatu. Ia awal dari segalanya, akhir dari segalanya, tampak dalam ciptaan-Nya, dan tersembunyi dalam rahasia Dzat-Nya.

Dia adalah Awal sebelum segala sesuatu, Akhir setelah semuanya sirna. Zahir yang terlihat dalam ciptaan-Nya, dan Batin yang tak bisa dijangkau oleh nalar dan imajinasi. Inilah ayat dari Al-Qur’an (QS. Al-Hadid: 3) yang menjadi puncak kesadaran akidah:

هُوَ ٱلْأَوَّلُ وَٱلْآخِرُ وَٱلظَّـٰهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Dua kalimat ini adalah pintu keselamatan dunia dan akhirat. Syahadat mengangkat kita dari kegelapan menuju cahaya, dari kebingungan menuju kejelasan, dari keterikatan dunia kepada kemerdekaan ruh.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَنَوِّرْ صُدُورَنَا بِنُورِ التَّوْحِيدِ، وَاحْفَظْ عَقِيدَتَنَا مِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ وَضَلَالٍ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ عَلَى كَلِمَةِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ.

“Ya Allah, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, terangilah dada kami dengan cahaya tauhid, lindungilah akidah kami dari segala syubhat dan kesesatan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang wafat dalam kalimat: Lā ilāha illa Allāh, Muhammadun Rasūlullāh.”

Oleh: Ki Pekathik