
Sumayyah! wanita syahid pertama di Islam – Sumayyah binti Khayyat adalah budak dari Abu Hudzaifah. Ia dinikahkan oleh Abu Hudzaifah dengan Yasir karena tumbuhnya rasa sayang yang ada di jiwa Abu Hudzaifah.
Dari pernikahan tersebut, Allah SWT menghadirkan buah hati yang menambah kebahagiaan di keluarga Sumayyah. Ammar merupakan anak mereka yang kemudian memberikan jalan mereka untuk menuju keimanan kepada Allah SWT.
Sumayyah Wanita Dari Keluarga Islam Yang Pertama
Ammar ketika beranjak dewasa mendengar berita tentang Islam, dan karena hidayah Allah SWT ia bertemu dengan Rasulullah SAW di Arqam. Karena semasa hidupnya selalu dikelilingi dengan kegelapan dan dalam keadaan tidak beriman.
Ia merasa tenteram dengan ajaran baru ini lalu memeluk Agama Islam. “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” kata Ammar di hadapan Rasulullah SAW.
Baca Juga:

Teladan Ketabahan dari Rumah Fatimah az-Zahra https://sabilulhuda.org/teladan-ketabahan-dari-rumah-fatimah-az-zahra/
Setelah masuk Islam Ammar lalu mengajak ayah dan ibunya untuk memeluk agama Islam. Tanpa pikir panjang dan karena hati keduanya yang bersih, kedua orang tua Ammar (Yasir dan Sumayyah) langsung menerima dan melafalkan dua kalimat syahadat.
Hingga akhirnya keluarga kecil itu menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW karena masuk Islam.
Penyiksaan Dan keteguhan hati Sumayyah
Keislaman dari keluarga Sumayyah diketahui oleh Bani Makhzum dan mengancam membunuh mereka karena merasa dikhianati, kecuali keluarga mereka kembali menyembah berhala. Karena kedudukan keluarganya yang masih lemah di dalam struktur masyarakat Makkah.
Mereka menjadi sasaran siksaan oleh Bani Makhzum. Mulai dari diseret di jalanan dan dipaksa berjemur di bawah terik sinar matahari di padang pasir tanpa diberi minum hingga dicambuk berkali-kali yang membuat bukan hanya keringat yang menetes tetapi darah.
Ketika sedang berlangsungnya penyiksaan terhadap keluarga Sumayyah Rasulullah SAW lewat dengan perasaan iba dan sedih karena tidak bisa menolong ketika melihat mereka disiksa dengan sangat kejam. “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga!” ucapan inilah yang membuat hati Keluarga Yasir teguh.
Syahidah pertama
Pada suatu ketka Abu Jahal lewat di hadapan Keluarga Sumayyah yang sedang di siksa. Abu Jahal menyiksa dengan sangat kejam dan menghardik dengan kata-kata yang sangat kotor. Namun, Sumayyah tetap teguh dengan memegang Agama Allah SWT dengan terus menyebut Tuhan Yang Maha Esa.
Hal tersebut membuat Abu Jahal semakin kesal dan emosinya memuncak hingga tak segan Abu Jahal mengambil tombak dan menyasar tubuh mulia Sumayyah hingga menjemput ajalnya. Sumayyah menjadi wanita pertama yang syahid di jalan Allah.
Tak lama kemudian suaminya, Yasir menyusul menghadap Rabb semesta alam di atas kobaran api sambil mengucapkan “Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Sumayyah dan Yasir di gambarkan sebagai orang-orang yang di janjikan oleh Allah kehidupan yang lebih baik. Sesuai dengan Suah An-Nahl ayat 41,
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka di aniaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.”
Jaminan orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah surga. Sebagaimana di jelaskan dalam surat An Nisa ayat 74 berikut ini:
Artinya: “Karena itu, hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan) akhirat berperang di jalan Allah. Dan barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka akan Kami berikan pahala yang besar kepadanya.” (Q.S An Nisa: 74)
Teladan yang bisa diambil
Keutamaan membela kebenaran: Kisah Sumayyah binti Khayyat adalah contoh nyata tentang keteguhan iman dan keberanian dalam menghadapi penindasan. Ia tidak hanya menjadi inspirasi bagi umat Islam pada zamannya, tetapi juga bagi generasi-generasi berikutnya.
Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakadilan dan penindasan, kisah Sumayyah mengingatkan kita tentang pentingnya mempertahankan keyakinan dan nilai-nilai kebenaran, meskipun harus menghadapi risiko yang besar.
Pentingnya kesetiaan pada Agama: Dengan ketabahan hati keluarga Sumayyah serta taat mereka kepada ajaran Islam, mereka tidak gentar dengan siksaan yang di lakukan bani Makhzum dan Abu Jahal. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang melihat kejadian tersebut tidak mampu berbuat apa-apa.
Perjalanan hidup Sumayyah yang luar biasa ini di angkat agar orang-orang Muslim yang hidup kemudian hari bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran bahwa iman seseorang dan perjuangan dakwahnya tidaklah tanpa risiko.
Baca Artikel Berikut: Kemuliaan Akhlak Nabi Muhammad SAW III : Hari-Hari Terakhir Rasulullah SAW
Dalam sejarah umat Islam, perjuangan atau jihad itu harus di lakukan secara total, bukan separuh saja. Perjuangan atau jihad bukan hanya di lakukan dengan semangat saja, tetapi juga dengan segala yang kita miliki, yaitu harta, jiwa, raga, dan hati, semata-mata untuk kepentingan jalan Allah.
Tentang jihad semacam ini, di jelaskan oleh Allah SWT: (Q.S. As-Shof ayat 10-11). Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mau-kah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui)













