
Pelajaran Serat Sastra Jendra dari Adegan Harga Kailasa 1 – Naskah diambil dari Aksiologi Serat Sastra Jendra Karya: Sri Teddy Rusdy, 2024, hal 36-37.
Lakon Bima sekti
Dhalang Ki Timbul Cermo Manggolo
Adegan Harga Kaelasa
Begawan Bima Sekti bercengkerama dengan Begawan Mayangkara atau Anoman (Gendhing Bondhet Pelog 5).
Dikisahkan bahwa selepas Bima atau Werkodara mendapatkan ngelmu dan wejangan dari Dewa Ruci, ia lalu bersemayam di Pertapaan Harga Kaelasa untuk mengamalkan ilmunya kepada murid-muridnya, para cantrik.
Walaupun Bima Sena tidak berubah dari segi wujud dan diri pribadinya, namun semua orang tidak ada yang mengetahui jati diri Bima Sena. Yang diketahui hanyalah adanya seorang pendeta bernama Begawan Bima Sekti.
Hanya Anomanlah yang tahu jati diri Bima Sekti, maka segeralah ia mendatangi sang begawan untuk mengetahui lebih mendalam maksud dan tujuan Bima Sena menjadi seorang pendeta di Harga Kaelasa.
Baca Juga:

Pelajaran Dari Peradaban Jawa Sastra Jendra Episode 26 https://sabilulhuda.org/pelajaran-dari-peradaban-jawa-sastra-jendra-episode-26/
[Gendhing Suwuk – Dalang Suluk Plencung Jugag Pelog 5]
Laras: Pelog lima (5)
Jenis: Gendhing Suwuk (penutup), di sertai suluk dalang
Fungsi: Penutup adegan penting, biasanya mengantar suasana menuju akhir lakon atau puncak kontemplasi tokoh.
Ulasan Singkat:
Gendhing Suwuk ini di mainkan dalam laras Pelog 5, yang memiliki nuansa sakral, sendu, dan mendalam. Biasanya di gunakan sebagai musik pamungkas atau penutup dalam pagelaran wayang kulit, khususnya ketika seorang tokoh utama mengalami transformasi batin, memasuki alam gaib, atau menuju kematian.
Suluk dalang “Plencung Jugag” mengandung tembang kontemplatif dengan irama yang pelan dan melankolis. Suluk ini di lantunkan dengan gaya mijil atau durma, membangun suasana haru atau lirih, menyentuh dimensi spiritual dari lakon.
Liriknya sering kali bertema kesadaran diri, keinsafan, takdir, dan kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa.
Pelog 5 memberikan warna khas: kesan magis, tidak duniawi, dan penuh rasa haru. Biasanya mengiringi suluk seperti:
“Jugag plencung jroning ati, wus lumrah kang tumindak, tan kena mung nyandhak rasa, wus pinesthi dadi…”
Artinya kira-kira: “Lonceng batin telah berdentang, yang terjadi telah sewajarnya, tak bisa di cegah rasa ini, karena telah di gariskan takdir…”
Gendhing Suwuk – Suluk Plencung Jugag Pelog 5 adalah bentuk musikal yang kaya rasa dan filosofi, sebagai penutup adegan dan membuka pintu batin menuju perenungan, menyampaikan pesan bahwa hidup adalah perjalanan menuju kehendak Tuhan.
Suara suluk dalang berpadu dengan gamelan membentuk pengalaman spiritual yang menyentuh penonton, menjadikan lakon bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan.
[Ana pandhita kinarya wangsit, pindha kombang ngajabing tawang, susuh angin ngendi nggone, lawan galihing kangkung, watesing langit jalanidhi, isining wuluh wunwang, ong, lan gigiring punglu, tapaking kuntul anglayang, manuk mabur uluké ngungkuli langit hong.]
Makna Lahiriah:
Tembang ini menyajikan gambaran seorang pandhita (resiguru, pertapa, tokoh spiritual) yang menjadi saluran wangsit atau petunjuk ilahi. Ia di umpamakan seperti bunga yang terapung di langit, entah berasal dari mana angin membawanya. Batinnya bening seperti galih kangkung (inti tanaman kangkung yang lunak dan ringan), terbebas dari beban dunia.
Ia melampaui batas langit dan samudra, mengandung makna dan rahasia (wuluh wunwang). Di temani oleh mantra suci “Ong”, serta kekuatan tak terlihat (gigiring punglu), ia menapaki jalan seperti kuntul yang melayang di langit—seolah-olah lebih tinggi dari langit itu sendiri.
Makna Batiniah:
Mari kita rinci tiap bait untuk menyelami makna filosofis dan mistiknya:
1. “Ana pandhita kinarya wangsit”
Ada seorang pandhita yang di jadikan saluran wangsit (ilham spiritual)
Makna:
Pandhita di sini bukan sekadar manusia biasa. Ia menjadi wasilah (perantara) antara langit dan bumi, antara dunia fana dan kebenaran ilahiah. Ini menggambarkan manusia yang telah sampai pada maqam welas asih, kebijaksanaan, dan penyaksian spiritual.
2. “Pindha kombang ngajabing tawang”
Bagaikan bunga yang mengambang di langit
Makna:
Pandhita itu tidak terikat dunia, namun tetap indah dan lembut. Seperti bunga di angkasa, ia hidup di antara dua dimensi, tak tersentuh tanah, tapi juga tak hilang ke langit. Ini adalah gambaran kesadaran tinggi: berada tapi tidak melekat.
3. “Susuh anging ngendi nggone, lawan galihing kangkung”
Bersarangnya pun tak tentu dari mana angin datang, hatinya serupa inti kangkung
Makna:
Jiwa pandhita mengalir seperti angin, tak terbatasi arah atau batas. Hatinya lembut, bersih, dan lentur—seperti galih kangkung, simbol kesucian batin yang tidak kaku dan tidak berat, namun kuat dalam daya dayung kehidupan.
4. “Watesing langit jalanidhi”
Ia melampaui batas langit dan samudra
Makna:
Pencerahan spiritual yang di capai bukan sekadar pengetahuan duniawi, tapi melampaui batas langit (langit = akal) dan samudra (samudra = perasaan/materi). Ini menunjukkan bahwa ia telah sampai pada pencerahan ruhani (ma’rifat).
5. “Isining wuluh wunwang”
Ia mengandung sari dan keharuman makna
Makna:
Pandhita membawa hikmah dan rasa, bukan sekadar kata. Wuluh adalah sari atau isi buah, wunwang adalah keharuman. Ia menyebar cahaya dan kesejukan batin kepada sekitarnya, tak hanya dengan ajaran, tapi dengan keberadaan dirinya.
6. “Ong, lan gigiring punglu”
Dengan mantra suci Ong, dan kekuatan gaib yang mengiringinya
Makna:
“Ong” adalah suara primordial, dalam tradisi Hindu–Buddha–Kepercayaan Jawa, suara ini adalah getaran awal penciptaan. Sedangkan gigiring punglu bisa di maknai sebagai kekuatan tak terlihat—mungkin malaikat, energi spiritual, atau ilham suci. Pandhita ini berjalan bersama kekuatan ketuhanan, bukan dengan kekuatan dirinya sendiri.
“Tapaking kuntul anglayang, manuk mabur uluké ngungkuli langit hong”
Seperti burung kuntul yang melayang, terbangnya melebihi langit, ‘hong’
Makna:
Burung kuntul melambangkan kejernihan, kesabaran, dan keteguhan dalam terbang tinggi. Ia tidak terburu-buru, tapi tetap melesat. “Ngungkuli langit” berarti melampaui keterbatasan manusia biasa. Kata “hong” di akhir adalah seruan spiritual, kadang di gunakan untuk menyimbolkan penyatuan dengan Yang Maha Ada. Ini adalah manunggaling kawula lan Gusti.
Petikan ini adalah simbol dari perjalanan spiritual menuju puncak kesadaran Ilahi, di mana manusia (pandhita) yang bersih batinnya dan terbebas dari ikatan duniawi menjadi wasilah turunnya hikmah Tuhan.
Ia hidup di tengah dunia tapi tak terikat dunia, terbang melewati batas langit dan samudra dalam jiwanya, menjadi bunga spiritual yang mengharumkan semesta dengan laku suci, dengan kekuatan dari “Ong” (Tuhan), dan melampaui keterbatasan raga menuju cahaya hakikat.
Jika engkau ingin menjadi seperti “pandhita kinarya wangsit”,
maka sucikanlah batinmu, lembutkan hatimu,
dan jangan melekat pada dunia.
Jadilah bunga yang tetap harum,
meski terapung di langit yang tak bersandar.
Terbanglah dengan jiwa yang ringan,
hingga engkau mendengar “Hong” dalam sunyi:
suara yang memanggilmu pulang ke asalmu.
Baca Juga: Rekontekstualisasi Hukum Agama dan Fikih Mutlak Dilakukan untuk Cegah Konflik
Oleh:Ki Pekathik




