Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 21

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8
Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 21

ومثل هذا العالم وإن صرف الناس عن الدنيا بلسانه ومقاله، فهو داع لهم إليها بأعماله وأحواله.

(١) لطيفة:

قال عبد الله بن المبارك: لولا خمسة ما اتجرت: السفيانان، والفضيل، وابن السماك، وابن علية.

وكان رضي الله عنه بصفاتهم تتأمل وبالغ بالإحسان إليهم، فقل له يوماً وقد ولى ابن علية القضاء، وقطع عنه بره، فتركب ابن ابن علية فلما دخل عليه فلم يرفع له رأساً، فقبب عليه ابن علية، فكتب ابن المبارك له هذه الأبيات:

يا جاعل العلم له بازياً      يصطاد أموال المساكين

احتلت للدنيا وزينتها        بحبالة تذهب بالدين

فصرت مجنوناً بها بعدما      كنت دواء للمجانين

أين رواياتك فيما مضى        عن ابن عون وابن سيرين

أين رواياتك في سيرنا        في ترك أبواب السلاطين

إن قلت أكرمت فذاً سابقى      إذ حمار العلم في الطين

فلما وقف على هذه الأبيات قام من مجلس القضاء فوطأ بساط..

Cara bacanya:

وَمِثْلُ هَذَا العَالِمِ وَإِنْ صَرَفَ النَّاسَ عَنِ الدُّنْيَا بِلِسَانِهِ وَمَقَالِهِ، فَهُوَ دَاعٍ لَهُمْ إِلَيْهَا بِأَعْمَالِهِ وَأَحْوَالِهِ

Dan ulama seperti ini meskipun ia memalingkan orang-orang dari dunia dengan lisannya dan ucapannya sebenarnya dia sedang mengajak mereka kepada dunia dengan perbuatannya dan keadaannya.

(١) لَطِيفَةٌ:

Kisah ringan penuh makna

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ المُبَارَكِ: لَوْلَا خَمْسَةٌ مَا اتَّجَرْتُ: السُّفْيَانَانِ، وَالفُضَيْلُ، وَابْنُ السَّمَّاكِ، وَابْنُ عُلَيَّةَ.

Abdullah bin al-Mubarak berkata: “Seandainya bukan karena lima orang ini, aku tidak akan berdagang: Sufyan ats-Tsauri dan Sufyan bin ‘Uyainah, al-Fudhayl bin ‘Iyadh, Ibn as-Sammak, dan Ibn ‘Ulayyah.”

وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِصِفَاتِهِمْ تَتَأَمَّلُ، وَبَالَغَ بِالإِحْسَانِ إِلَيْهِمْ، فَقِيلَ لَهُ يَوْمًا وَقَدْ وَلَّى ابْنُ عُلَيَّةَ القَضَاءَ، وَقَطَعَ عَنْهُ بِرَّهُ، فَتَرَكَّبَ ابْنُ عُلَيَّةَ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ لَمْ يَرْفَعْ لَهُ رَأْسًا، فَقَبَّلَ عَلَيْهِ ابْنُ عُلَيَّةَ، فَكَتَبَ ابْنُ المُبَارَكِ لَهُ هَذِهِ الأَبْيَاتِ

Beliau –semoga Allah meridhainya– merenungi sifat-sifat mereka dan sangat berbuat baik kepada mereka. Suatu hari, dikabarkan kepadanya bahwa Ibn ‘Ulayyah telah diangkat menjadi hakim (qadhi), dan dia pun menghentikan pemberian baiknya (sodakohnya) kepada Ibn ‘Ulayyah.

Lalu Ibn ‘Ulayyah naik kendaraan menuju Abdullah bin al-Mubarak. Ketika masuk ke rumahnya, al-Mubarak tidak menoleh kepadanya. Ibn ‘Ulayyah pun menghadapinya dengan penuh hormat, lalu al-Mubarak menuliskan syair ini untuknya:

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 19-20

الأَبْيَاتُ الشِّعْرِيَّةُ

Bait-bait syair

يَا جَاعِلَ العِلْمِ لَهُ بَازِيًا        يَصْطَادُ أَمْوَالَ المَسَاكِينِ

Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai burung elang,

yang menangkap harta orang-orang miskin,

احْتَلْتَ لِلدُّنْيَا وَزِينَتِهَا            بِحِبَالَةٍ تَذْهَبُ بِالدِّينِ

Engkau memperdayai dunia dan perhiasannya,

dengan jaring yang justru merusak agama.

فَصِرْتَ مَجْنُونًا بِهَا بَعْدَمَا    كُنْتَ دَوَاءً لِلْمَجَانِينِ

Engkau menjadi gila karenanya (dunia),

padahal dulu engkau adalah obat bagi orang-orang yang gila.

أَيْنَ رِوَايَاتُكَ فِيمَا مَضَى         عَنْ ابْنِ عَوْنٍ وَابْنِ سِيرِينِ

Ke mana semua riwayatmu yang dulu,

dari Ibn ‘Aun dan Ibn Sirin?

أَيْنَ رِوَايَاتُكَ فِي سِيرِنَا          فِي تَرْكِ أَبْوَابِ السَّلَاطِينِ

Ke mana pula jejak hidupmu seperti kami,

yang menjauhi pintu-pintu para sultan?

إِنْ قُلْتَ أَكْرَمْتَ فَذًا سَبَقَى         إِذْ حِمَارُ العِلْمِ فِي الطِّينِ        

Jika engkau berkata, ‘Aku memuliakan seorang terdahulu,’

ketahuilah, keledai ilmu kini terbenam dalam lumpur.”

فَلَمَّا وَقَفَ عَلَى هَذِهِ الْأَبْيَاتِ قَامَ مِنْ مَجْلِسِ الْقَضَاءِ، فَوَطَّأَ بَسَاطًا

Maka ketika ia membaca bait-bait syair ini, ia pun bangkit dari majelis kehakiman, lalu menginjak karpet (sebagai tanda pengunduran diri).

فَلَمَّا وَقَفَ عَلَى… → ketika ia membaca/memahami…

الْأَبْيَاتِ → bait-bait syair.

قَامَ مِنْ مَجْلِسِ الْقَضَاءِ → ia bangkit dari kursi kehakiman (meninggalkan jabatan qadhi).

فَوَطَّأَ بَسَاطًا → lalu menginjak karpet, dalam konteks klasik ini isyarat bahwa ia mengundurkan diri secara simbolis dari kehormatan/jabatan tersebut

Penutup kisah:

Tatkala Ibn ‘Ulayyah membaca bait-bait syair ini, ia segera turun dari kursi pengadilan dan menginjak karpet (sebagai tanda ia mundur dari jabatan qadhi).

Penjelasan:

Dalam dunia keilmuan Islam, terdapat satu fenomena yang patut direnungkan dengan hati jernih dan tajam: seorang alim (ulama) yang secara lahiriah memalingkan manusia dari dunia, namun secara batin mengajak mereka kepadanya. Inilah yang disindir tajam oleh para salaf dalam ungkapan penuh hikmah:

“وَمِثْلُ هَذَا العَالِمِ وَإِنْ صَرَفَ النَّاسَ عَنِ الدُّنْيَا بِلِسَانِهِ وَمَقَالِهِ، فَهُوَ دَاعٍ لَهُمْ إِلَيْهَا بِأَعْمَالِهِ وَأَحْوَالِهِ”

“Dan ulama seperti ini —meskipun ia memalingkan manusia dari dunia dengan lisannya dan ucapannya— sesungguhnya ia sedang mengajak mereka kepada dunia dengan perbuatannya dan keadaannya.”

Kalimat ini menghantam batin siapa pun yang ingin mencari kebenaran sejati. Karena ia berbicara tentang penyakit yang tersembunyi di balik jubah keulamaan: riya’, cinta dunia, dan kemunafikan yang terselubung di balik nasihat dan petuah keagamaan.

Kisah yang Menggugah: Abdullah bin al-Mubarak dan Ibn ‘Ulayyah

Untuk memperjelas ungkapan ini, para ulama meriwayatkan kisah yang disebut لَطِيفَةٌ  kisah ringan namun penuh makna. Kisah ini melibatkan dua tokoh besar:

Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama zuhud, mujahid, dan pedagang sukses yang wara’; serta Ibn ‘Ulayyah, seorang ahli hadits yang kemudian terjerat dalam pusaran jabatan duniawi.

Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata:

“لَوْلَا خَمْسَةٌ مَا اتَّجَرْتُ: السُّفْيَانَانِ، وَالفُضَيْلُ، وَابْنُ السَّمَّاكِ، وَابْنُ عُلَيَّةَ.”

“Seandainya bukan karena lima orang ini, aku tidak akan berdagang: Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, al-Fudhayl bin ‘Iyadh, Ibn as-Sammak, dan Ibn ‘Ulayyah.”

Mereka adalah poros utama keilmuan dan ketakwaan. Namun keadaan berubah ketika Ibn ‘Ulayyah menerima jabatan sebagai qadhi (hakim negara).

Abdullah bin al-Mubarak yang dulu menghormatinya, kini memutus bantuan dan silaturahmi  bukan karena dendam, melainkan karena kecewa atas pilihan hidup sang alim.

Kejatuhan Moral Sang Ulama

Ibnu ‘Ulayyah, yang merasa terasing karena diputus hubungannya, mencoba mengunjungi Abdullah bin al-Mubarak. Ia menaiki kendaraannya dan mendatangi rumahnya. Namun, al-Mubarak tak sudi mengangkat kepala untuk memandangnya.

Sebuah sikap diam yang sangat berbicara: bahwa pengkhianatan terhadap nilai zuhud dan ilmu bukanlah hal kecil.

Sebagai bentuk nasihat yang tajam namun penuh cinta, al-Mubarak menuliskan syair berikut bait-bait syair Tajam untuk Para Ulama Pencinta Dunia

يَا جَاعِلَ العِلْمِ لَهُ بَازِيًا

يَصْطَادُ أَمْوَالَ المَسَاكِينِ

Wahai yang menjadikan ilmu seperti elang,

yang menangkap harta kaum miskin.

Syair ini menelanjangi praktik penggunaan ilmu untuk kepentingan pribadi dan pengaruh, dengan menjadikan ilmu agama sebagai alat manipulasi dan penguasaan ekonomi atas rakyat kecil.

احْتَلْتَ لِلدُّنْيَا وَزِينَتِهَا

بِحِبَالَةٍ تَذْهَبُ بِالدِّينِ

Engkau menipu demi dunia dan perhiasannya,

dengan jaring yang justru merusak agamamu sendiri.

Di sini terlihat bagaimana seseorang bisa memperindah ucapannya, bersolek dengan nasihat, namun sebenarnya menipu dunia dengan topeng agama, hingga jaring yang ia lempar untuk dunia justru menjerat agama dari dalam jiwanya sendiri.

فَصِرْتَ مَجْنُونًا بِهَا بَعْدَمَا

كُنْتَ دَوَاءً لِلْمَجَانِينِ

Engkau menjadi gila karenanya (dunia),

padahal dulu engkau adalah obat bagi mereka yang gila.

Abdullah bin al-Mubarak mengingatkan bahwa Ibn ‘Ulayyah dulu adalah penawar bagi orang-orang yang terjebak dunia. Namun kini ia sendiri menjadi korban yang terjatuh dalam kegilaan cinta dunia.

أَيْنَ رِوَايَاتُكَ فِيمَا مَضَى

عَنْ ابْنِ عَوْنٍ وَابْنِ سِيرِينِ

Ke mana riwayatmu dulu dari Ibn ‘Aun dan Ibn Sirin?

أَيْنَ رِوَايَاتُكَ فِي سِيرِنَا

فِي تَرْكِ أَبْوَابِ السَّلَاطِينِ

Ke mana kisahmu yang dulu seperti kami,

yang menjauhi pintu-pintu para sultan?

Dua bait ini menggugah: di mana idealisme lama, semangat keilmuan dan keteladanan dari salaf? Dulu sang alim menjauhi penguasa, kini malah duduk di sisi mereka. Dulu mengutip nasihat tentang waraknya salaf, kini mencontohkan sebaliknya.

إِنْ قُلْتَ أَكْرَمْتَ فَذًا سَبَقَى

إِذْ حِمَارُ العِلْمِ فِي الطِّينِ

Jika engkau berkata, ‘Aku hanya memuliakan orang dahulu,’

ketahuilah, keledai ilmu kini terbenam dalam lumpur.

Sebuah sindiran getir: alasan untuk berdekatan dengan penguasa sering dibungkus dengan dalih kebaikan dan loyalitas, padahal pada hakikatnya — ilmu telah dilacurkan.

Pertobatan dan Keinsafan

Apa yang terjadi setelah Ibn ‘Ulayyah membaca bait-bait ini?

فَلَمَّا وَقَفَ عَلَى هَذِهِ الْأَبْيَاتِ قَامَ مِنْ مَجْلِسِ الْقَضَاءِ، فَوَطَّأَ بَسَاطًا

“Ketika ia membaca bait-bait ini, ia bangkit dari majelis kehakiman dan menginjak karpet (sebagai tanda pengunduran diri).”

Ia sadar. Ia malu. Ia bertobat. Ia mundur. Tidak ada debat. Tidak ada pembelaan. Syair yang jujur telah menembus benteng nafsunya dan menggugah sisi imannya. Dan begitulah seharusnya seorang alim sejati: ketika disindir kebenaran, ia menerima dan berubah.

Cermin Bagi Ulama Hari Ini

Kisah ini menjadi cermin tajam bagi para ulama, da’i, penceramah, ustadz, dan tokoh agama di setiap zaman, terutama di zaman ketika:

Ilmu menjadi alat karier dan panggung popularitas.

Dakwah dibungkus sponsorship dan kepentingan politik.

Lisan menasihati zuhud, tapi gaya hidup menunjukkan glamor.

Pengaruh di medsos lebih dicari daripada keberkahan ilmu.

Betapa banyak hari ini “alim dunia” yang berkata “jangan cinta dunia” tetapi hidup dengan kemewahan, memposting gaya hidup elite, dan sibuk membangun citra. Padahal, yang dibutuhkan umat adalah keteladanan, bukan retorika.

Meneladani Abdullah bin al-Mubarak

Sosok Abdullah bin al-Mubarak menjadi pelita yang jarang padam. Ia adalah pedagang sukses, namun hidup dalam kesederhanaan. Ia adalah ulama besar, namun tak tergiur kedudukan. Ia menasihati bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan integritas dan ketegasan sikap.

Ketika temannya menyimpang, ia menegur bukan dengan caci maki, tetapi dengan bait syair yang penuh makna tetapi tidak mempermalukan. Inilah bentuk hikmah yang sejati: amar makruf yang indah, nahi mungkar yang penuh cinta.

Kembali kepada Kejujuran Ilmu

Dunia tidak akan terselamatkan oleh ceramah semata, tetapi oleh ulama yang hatinya bersih, lisannya jujur, dan amalnya konsisten.

Sebagaimana syair tadi menjadi pintu tobat bagi Ibn ‘Ulayyah, semoga kisah ini menjadi pintu muhasabah bagi kita semua: bahwa jangan sampai kita menjadi orang yang memalingkan orang dari dunia dengan lisan, tetapi justru mengajak mereka kepada dunia dengan amal kita.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ عَلِمَ فَعَمِلَ، وَوُعِظَ فَاعْتَبَرَ، وَوَعَظَ فَازْدَجَرَ، وَلَا تَجْعَلْ عِلْمَنَا وَبَالًا عَلَيْنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ

artinya:

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ketika mengetahui, mereka mengamalkannya; ketika diberi nasihat, mereka mengambil pelajaran; dan ketika memberi nasihat, mereka pun menjaga diri. Dan janganlah Engkau jadikan ilmu kami sebagai petaka atas kami pada hari kami berjumpa dengan-Mu.”

Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Oleh: Ki Pekathik