
Cerita 24: Ayam Ruyuk dan Sepatu Kaca Warisan Nenek – Di sebuah desa bernama Blongoklandia, tinggallah seekor ayam jago yang sangat… modis berlebihan bernama Ruyuk. Setiap pagi, saat ayam lain masih ngulet, Ruyuk sudah mandi uap serai dan ngetes lipstik rasa cacing.
Ruyuk bukan ayam sembarangan. Ia percaya satu hal dalam hidup:
“Kalau gak bergaya, hidup sia-sia!”
Saking gayanya, suatu hari Ruyuk menemukan sepatu kaca di loteng kandang. Katanya sih, itu warisan dari Nenek Ruwi—ayam generasi pertama yang katanya dulu pernah nari balet bareng Merak Jawa.
Begitu melihat sepatu itu, mata Ruyuk langsung berkaca-kaca.
Lalu berkaca beneran, buat ngaca.
Lalu berkaca pecah karena kakinya nyangkut di pot bunga.
“Ini dia… takdirku! Sepatu kaca! Aku akan pakai ini ke pesta ulang tahun Kucing Miu!” katanya sambil pasang alis dari rumput laut kering.
Masalahnya satu:
Sepatu itu… ukuran manusia.
Hak 7 cm, model stiletto, dan… bau lem tikus karena udah lama.
Baca Juga:

Cerita 23: Kepiting Dan Ibu Katak Penjaga Ratusan Anak https://sabilulhuda.org/cerita-23-kepiting-dan-ibu-katak-penjaga-ratusan-anak/
Tukang Sepatu Daun Talas
Tapi Ruyuk pantang menyerah. Ia pergi ke tukang servis sepatu, Pak Ulat Hendra, yang buka usaha kecil di bawah daun talas.
“Aku mau pasang sepatu ini, Pak. Biarin deh agak sempit. Demi gaya!” kata Ruyuk.
Pak Ulat cuma garuk antena.
“Dek Ruyuk… ini sepatu, bukan perahu. Kaki ayam itu tiga jari, bukan pisang!”
Tapi Ruyuk nekat. Dia masukin kakinya.
Satu kaki: Muat.
Dua kaki: Ngilu.
Langkah pertama: “KREEEKKK!!”
Langkah kedua: “PLAK!!”
Langkah ketiga: “BRUUUUUKKK!!”
Langkah keempat?
Masuk selokan.
Semua serangga yang lagi pacaran langsung bubar karena dikira ada gempa.
Tapi Ruyuk tidak menyerah. Dengan badan basah dan rambut jambul penuh ganggang, dia datang ke pesta Kucing Miu.
Musik berdentum. Lampu kelap-kelip. Semua menari.
Ruyuk masuk ruangan.
“TAK… TAK… TAK…”
Hak sepatunya menggelegar kayak drum marching band.
Semua mata memandang. Ada yang kagum, ada yang bingung, ada yang takut ini ayam kerasukan diva dangdut.
Lalu… saat semua diam…
Hak sepatu patah.
Ruyuk terpental.
Mendarat di kue ulang tahun berbentuk ikan sarden.
“DUAAARRR!!”
Krim meledak, lilin masuk hidung Miu, dan bebek Weki tiba-tiba kejang karena terlalu banyak tertawa sambil bersin.
Legenda Ayam Jatuh di Kue
Ruyuk berdiri. Jambulnya jadi es krim stroberi.
Semua diam. Lalu…
Tertawa.
Terbahak.
Terkencing.
Terguling.
Ruyuk mengangkat sayap dan berkata dengan lantang:
“Aku gagal gaya… tapi sukses jadi legenda!”
Kadang, jadi lucu tanpa sengaja lebih dikenang daripada keren tapi nyungsep.
Jadilah dirimu sendiri, bahkan kalau itu berarti nyangkut di kue orang.
Baca Juga: Buku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud
Oleh: Izzayumna













