Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 17-18

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8
Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 17-18

Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 17

وكان سفيان الثوري يقول:

«اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع، وقلب لا يخشع، وعمل لا يرفع، ودعاء لا يسمع»(1).

ومن قول مسلم:

«مررت ليلة أسري بي بأقوام تقرض شفاههم بمقاريض من نار، فقلت: من أنتم؟ قالوا: كنا نأمر بالخير ولا نأتيه، وننهى عن الشر ونأتيه»(2).

فإياك(3) يا مسكين أن تدمن لتزويره، فيذيقك بحبل غروره.

——

(1) أخرجه الإمام أحمد في مسنده، وابن حبان في صحيحه، والحاكم، عن أنس رضي الله عنه. وهو حديث صحيح، إلا أنه لم يذكر: “وقلب لا يخشع”.

(2) أخرجه ابن حبان عن أنس رضي الله عنه.

(3) وقد تكون “فإياك” للمحذور والمفعول، والإياك: وهو بدل من فعل، كأنك تقول: باعد أي: بينك وبين الأسد. والمعنى: حادر كل الحذر من أن تسكن إليه فهو أعدى الأعداء بعد النفس.

قال تعالى: ﴿وإن القطيعة لا يحسن عقدته﴾ من سورة يوسف، آية: ٥.

Cara baca:

وكان سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ يَقُولُ:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَقَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَعَمَلٍ لَا يُرْفَعُ، وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ».

Baca Juga: Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 15-16

Dari Sufyan Ats-Tsauri berkata:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, amal yang tidak diangkat, dan doa yang tidak didengar.”

وَمِنْ قَوْلِ مُسْلِمٍ:

«مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي بِأَقْوَامٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، فَقُلْتُ: مَنْ أَنْتُمْ؟ قَالُوا: كُنَّا نَأْمُرُ بِالْخَيْرِ وَلَا نَأْتِيهِ، وَنَنْهَى عَنِ الشَّرِّ وَنَأْتِيهِ».

Dan dalam perkataan Muslim:

“Aku melewati suatu kaum pada malam Isra’ku, bibir-bibir mereka digunting dengan gunting dari api. Maka aku bertanya: ‘Siapakah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu memerintahkan kebaikan, namun tidak melakukannya, dan melarang dari keburukan namun justru kami melakukannya.’”

فَإِيَّاكَ يَا مِسْكِينُ أَنْ تُدْمِنَ لِتَزْوِيرِهِ، فَيُذِيقَكَ بِحَبْلِ غُرُورِهِ.

Maka jauhilah wahai orang miskin (yang lemah dan bodoh)—untuk terus menerus dalam kepalsuannya (yakni kepura-puraan), maka ia akan mencicipkanmu tali-tipuan kesombongannya.”

—–

(١) أَخْرَجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ، وَابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ، وَالحَاكِمُ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ، إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يُذْكَرْ: “وَقَلْبٌ لَا يَخْشَعُ”.

(1) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, serta oleh al-Hakim, dari Anas raḍiyallāhu ‘anhu. Hadis ini shahih, kecuali bahwa lafaz “dan hati yang tidak khusyuk” tidak disebutkan dalam sebagian riwayat.

(٢) أَخْرَجَهُ ابْنُ حِبَّانَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

(2) Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Anas raḍiyallāhu ‘anhu.

(٣) وَقَدْ تَكُونُ “فَإِيَّاكَ” لِلْمَحْذُورِ وَالمَفْعُولِ، وَالإِيَّاكَ: وَهُوَ بَدَلٌ مِنْ فِعْلٍ، كَأَنَّكَ تَقُولُ: “بَاعِدْ” أَيْ: بَيْنَكَ وَبَيْنَ الأَسَدِ. وَالمَعْنَى:

حَاذِرْ كُلَّ الحَذَرِ مِنْ أَنْ تَسْكُنَ إِلَيْهِ، فَهُوَ أَعْدَى الأَعْدَاءِ بَعْدَ النَّفْسِ.

قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّ القَطِيعَةَ لَا يُحْسِنُ عُقْدَتَهُ﴾

مِنْ سُورَةِ يُوسُفَ، آيَةٌ: ٥.

(3) Kata “fa-iyyāka” bisa bermakna sebagai peringatan terhadap sesuatu yang dilarang (mahżūr) atau sebagai objek (maf‘ūl). Kalimat “iyyāka” merupakan pengganti dari suatu fi‘l (kata kerja), seperti engkau mengatakan: “bā‘id” yang berarti: jauhkanlah antara engkau dan singa.

Maksudnya: waspadalah dengan sepenuh hati agar engkau tidak condong kepadanya, karena ia adalah musuh paling berbahaya setelah dirimu sendiri.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan sesungguhnya perpecahan tidaklah baik ikatannya.” (QS. Yusuf: 5)

Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 18

فويل للجاهل حيث لم يتعلم مرة واحدة، وويل للعالم حيث لم يعمل بما علم ألف مرة

—-

وقال سيدنا عيسى عليه السلام: إني من تغضون الطريق للمصلحين وأنتم مقيمون مع المتجرين

وقال سيدنا عمر رضي الله عنه: وإني لأحرف ما أخاف على هذه الأمة المنافق العليم. قالوا: وكيف منافقا عليما؟ قال: عليم اللسان، جاهل القلب.

Cara baca:

فَوَيْلٌ لِلْجَاهِلِ حَيْثُ لَمْ يَتَعَلَّمْ مَرَّةً وَاحِدَةً، وَوَيْلٌ لِلْعَالِمِ حَيْثُ لَمْ يَعْمَلْ بِمَا عَلِمَ أَلْفَ مَرَّةٍ.

Maka celakalah orang yang bodoh karena ia tidak pernah belajar sekali pun, dan celakalah orang yang berilmu karena ia tidak mengamalkan ilmunya seribu kali.

Ungkapan ini menyindir dua golongan:

1. Orang jahil yang tidak mau berusaha belajar meski sekali.

2. Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya  walau sudah tahu berkali-kali.

وَقَالَ سَيِّدُنَا عِيسَىٰ عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنِّي مِمَّنْ تَغُضُّونَ الطَّرِيقَ لِلْمُصْلِحِينَ، وَأَنْتُمْ مُقِيمُونَ مَعَ الْمُتَجِرِينَ.

Dan Nabi Isa عليه السلام berkata:

“Aku termasuk orang yang kalian halangi jalannya para pembawa perbaikan, padahal kalian sendiri justru menetap bersama para pedagang dunia (orang-orang yang mencari untung semata).”

وَقَالَ سَيِّدُنَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: وَإِنِّي لَأَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَىٰ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُنَافِقَ الْعَلِيمَ.

قَالُوا: وَكَيْفَ مُنَافِقٌ عَلِيمٌ؟

قَالَ: عَلِيمُ اللِّسَانِ، جَاهِلُ الْقَلْبِ.

Dan Sayyidina Umar رضي الله عنه berkata:

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umat ini adalah seorang munafik yang alim (berilmu).”

Mereka bertanya: “Bagaimana bisa ada munafik yang alim?”

Ia menjawab: “Lisannya berilmu, namun hatinya bodoh.”

Pelajaran dan nasehat:

Catatan makna:

Ucapan Nabi Isa menggambarkan sindiran pada kaum yang menghalangi jalan kebaikan, tapi justru bersekongkol dengan orang-orang yang mengejar dunia.

Ucapan Umar bin Khattab menyoroti bahaya orang munafik yang pintar berbicara, tapi tidak memiliki ketulusan dan ketakwaan di hati.

Ilmu yang tak membuahkan amal, hati yang kosong dari khusyuk, amal tanpa ketulusan, serta doa yang terlempar tanpa kehadiran jiwa semuanya adalah bentuk kehilangan yang paling halus namun paling dalam.

Dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah ﷺ diperlihatkan kaum yang disiksa karena mereka memerintahkan kebaikan tetapi tidak melaksanakannya, dan melarang kejahatan tetapi melakukannya.

Ini adalah cermin bagi siapa pun yang lisannya berilmu tetapi amalnya tak menyertainya kontradiksi yang menciptakan luka sosial dan spiritual.

Maka datanglah peringatan yang tajam: “Jauhilah, wahai insan, dari keterikatan pada kepura-puraan, karena ia akan mengikatmu dengan tali-tipuan kesombongan.” Sebuah kalimat yang tegas betapa sering kita merasa berada di jalan kebaikan, padahal kaki masih berpijak di dunia kedustaan.

Ditegaskan pula oleh Sayyiduna Isa عليه السلام dan Sayyiduna Umar رضي الله عنه:

“Kalian menghalangi para pembawa perbaikan, tetapi hidup bersama para pencari dunia.”

“Yang paling aku takutkan adalah munafik yang alim: fasih lisannya, namun kosong hatinya.”

Kalimat yang mencambuk kesadaran:

Pelajaran mendalam:

Ilmu adalah cahaya, tapi tanpa amal dan keikhlasan, ia menjadi bayangan semu. Ilmu adalah amanah. Ia bukan sekadar pengetahuan, tapi tanggung jawab.

Khusyuk bukan sekadar sikap fisik, tapi perjumpaan batin dengan Allah.

Kepura-puraan adalah jebakan halus bagi orang yang berpenampilan shalih namun lupa akan amanah jiwa. Jangan sampai lidah pintar tapi amal kosong karena itu akan menjadi hujjah atas diri sendiri di akhirat.

Bahaya yang nyata bukan hanya dari kebodohan, tapi dari kepandaian yang tersesat oleh nafsu.

Ada orang yang tidak memperbaiki keadaan, malah menghalangi para pembaharu. Dan ironisnya, mereka justru bersahabat akrab dengan para pencari dunia (al-mutajirīn).

Nasihat:

Jangan jadi penghalang jalan dakwah dan perbaikan sosial.

Jika belum bisa berkontribusi, setidaknya jangan mengganggu atau menyepelekan.

Hati-hati dengan bersikap netral dalam situasi yang butuh keberpihakan pada kebenaran.

Bahaya Munafik yang Pandai Bicara

وَإِنِّي لَأَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَىٰ هَذِهِ الْأُمَّةِ: الْمُنَافِقَ الْعَلِيمَ… عَلِيمُ اللِّسَانِ، جَاهِلُ الْقَلْبِ.

Artinya:

“Dan sungguh, yang paling aku khawatirkan atas umat ini adalah orang munafik yang berilmu… lisannya pintar, namun hatinya bodoh.” Inilah ucapan sayyidina Umar bin Khotob

Munafik yang paling membahayakan adalah yang pintar secara lisan, tapi kosong batinnya dari iman dan kejujuran. Ia bisa membalikkan fakta, menyihir pendengar dengan kata-kata, tapi menyesatkan umat.

Nasihat:

Jangan terpesona pada kefasihan seseorang tanpa meneliti akhlak dan kejujuran batinnya.

Didik diri untuk menyatukan antara ilmu, hati yang bersih, dan amal nyata.

Ukur keilmuan bukan hanya dari kata-kata, tapi dari buah sikap dan kontribusinya.

Penutup Renungan

Ketiga kutipan di atas memberikan cermin diri:

Apakah kita termasuk yang menunda amal padahal sudah tahu?

Apakah kita diam atau bahkan ikut menghalangi kebaikan?

Apakah kita berilmu di lidah tapi kering di hati dan perbuatan?

Ilmu yang tak diamalkan menjadi beban. Amal yang tak berdasar ilmu bisa tersesat. Tapi ilmu yang diamalkan dengan hati bersih, itulah cahaya.

الدُّعَاءُ :

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَقُلُوبَنَا خَاشِعَةً، وَأَعْمَالَنَا صَالِحَةً، وَأَلْسِنَتَنَا صَادِقَةً، وَنُفُوسَنَا مُخْلِصَةً.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يُنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ، وَلَا مِمَّنْ يَقُولُ وَلَا يَعْمَلُ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُ أَحْسَنَهُ.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Artinya dalam:

Ya Allah, jadikanlah ilmu kami sebagai ilmu yang bermanfaat, hati kami hati yang khusyuk, amal kami amal yang saleh, lisan kami lisan yang jujur, dan jiwa kami jiwa yang ikhlas.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak didengarkan.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya sendiri, atau orang yang hanya pandai berkata namun tidak mengamalkannya. Jadikanlah kami termasuk orang yang mendengarkan nasihat dan mengikuti yang terbaik darinya.

Aamiin, ya Rabbal ‘aalamiin.