
KH. Hasyim Asy’ari! Pendiri Nahdlatul Ulama dan Benteng Islam Nusantara – Dalam sejarah panjang perjuangan umat Islam di Indonesia, nama KH. Hasyim Asy’ari bagaikan mercusuar yang menerangi zaman.
Beliau bukan hanya ulama besar, tapi juga mujahid ilmu, penjaga akidah, dan pejuang kemerdekaan yang keikhlasannya membentuk fondasi kokoh bagi umat Islam di tanah air.
Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, KH. Hasyim Asy’ari mewariskan semangat kebangsaan yang bersumber dari iman, ilmu, dan akhlak.
Awal Kehidupan dan Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari
KH. Hasyim Asy’ari lahir pada tanggal 10 April 1875 M (24 Dzulqa’dah 1287 H) di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan anak ketujuh dari KH. Asy’ari, seorang ulama terkemuka, dan cucu dari ulama besar yang mendirikan pesantren.
Sejak kecil, Hasyim menunjukkan kecerdasan luar biasa. Pada usia 15 tahun, ia telah mengkhatamkan berbagai kitab kuning dan menimba ilmu ke berbagai pesantren ternama seperti Pesantren Wonokoyo, Pesantren Langitan, dan Pesantren Siwalan Panji.
Baca Juga:

Buya Hamka: Ulama, Sastrawan, dan Penjaga Nur Bangsa https://sabilulhuda.org/buya-hamka-ulama-sastrawan-dan-penjaga-nur-bangsa/
Dalam usia yang masih muda, ia telah menguasai berbagai disiplin ilmu agama seperti fikih, tafsir, hadis, nahwu, dan tasawuf.
Pada usia 20-an, KH. Hasyim Asy’ari memutuskan untuk menunaikan ibadah haji sekaligus melanjutkan studi ke Makkah. Di sana ia belajar kepada ulama-ulama besar Hijaz, termasuk Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Ulama asal Indonesia yang menjadi Imam Masjidil Haram dan guru besar fikih Syafi’i. Di Makkah, KH. Hasyim dikenal sebagai santri yang tekun, kritis, dan memiliki akhlak yang tinggi.
Mendirikan Pesantren Tebuireng
Sepulang dari Makkah tahun 1899, KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya membawa ilmu, tapi juga membawa semangat perubahan. Ia mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang, yang kelak menjadi pusat pembaruan pendidikan Islam di Jawa.
Di masa itu, pesantren sering dipandang kaku dan eksklusif. Tapi KH. Hasyim membawa nuansa baru. Beliau menekankan pentingnya akhlak, kedisiplinan, dan keterbukaan dalam menuntut ilmu. Pesantren Tebuireng menjadi magnet ilmu bagi ribuan santri dari seluruh penjuru Nusantara.
Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, Tebuireng menjadi wadah pembentukan karakter dan perlawanan intelektual terhadap penjajahan. KH. Hasyim mengajarkan bahwa jihad melawan kebodohan sama pentingnya dengan jihad melawan penjajah.
Lahirnya Nahdlatul Ulama
Pada awal abad ke-20, muncul berbagai tantangan terhadap tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, terutama dari gerakan modernis dan kolonialisme Belanda. Dalam konteks itu, KH. Hasyim Asy’ari merasa perlu menyatukan kekuatan ulama pesantren untuk menjaga ajaran Islam yang moderat dan membela hak-hak umat.
Maka pada 31 Januari 1926, lahirlah Nahdlatul Ulama (NU) yang berarti “Kebangkitan Ulama”. KH. Hasyim Asy’ari ditetapkan sebagai Rais Akbar (pemimpin tertinggi) organisasi tersebut. NU lahir dari ruh cinta tanah air dan kesadaran untuk menjaga Islam Nusantara yang santun, toleran, dan berpijak pada tradisi keilmuan.
KH. Hasyim Asy’ari menanamkan prinsip tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), i’tidal (keadilan), dan tawassuth (moderat) sebagai dasar NU. Organisasi ini bukan sekadar alat sosial, tapi juga wadah spiritual dan perjuangan untuk kemaslahatan umat.
Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan
Di masa pendudukan Jepang dan menjelang kemerdekaan, peran KH. Hasyim Asy’ari tak tergantikan. Beliau dikenal sebagai ulama yang tegas dalam menolak kedzaliman. Ketika Jepang memaksa umat Islam untuk seikeirei (membungkuk ke arah matahari sebagai bentuk penghormatan kepada Kaisar Jepang).
KH. Hasyim menentangnya karena bertentangan dengan tauhid. Akibat sikap tegas itu, ia ditangkap dan disiksa oleh tentara Jepang.
Namun penderitaan tidak membuat beliau mundur. Bahkan ketika kemerdekaan telah diproklamasikan, KH. Hasyim mengeluarkan fatwa monumental Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945. Yang menyerukan wajibnya jihad melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan.
Fatwa ini menjadi semangat besar dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Para santri, kiai, dan rakyat bersatu mempertahankan tanah air dengan tekad dan iman.
Karena peran besarnya, tanggal 22 Oktober kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional, sebagai penghormatan terhadap perjuangan ulama seperti KH. Hasyim Asy’ari.
Baca Juga: Kementerian Agama dan Bung Hatta (Jejak Sejarah Tokoh Bangsa)
Warisan Keilmuan dan Karya KH.Hasyim Asy’ari
KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ulama ensiklopedis. Ilmunya tidak hanya mendalam, tapi juga aplikatif. Ia menulis banyak kitab, di antaranya:
Adabul ‘Alim wal Muta’allim – tentang etika guru dan murid.
Ziyadat Ta’liqat ‘ala Qawaid al-Tashil – komentar dalam bidang nahwu.
al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin – tentang kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah – tentang prinsip-prinsip akidah.
Karya-karya KH. Hasyim Asy’ari menjadi rujukan dalam pesantren dan institusi pendidikan Islam hingga hari ini. Beliau mengajarkan pentingnya adab, ketekunan dalam ilmu, dan keseimbangan antara dzikir dan pikir.
Wafatnya Sang Pejuang
KH. Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 (7 Ramadhan 1366 H) di Pesantren Tebuireng, Jombang. Kepergiannya membawa duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Namun warisan beliau tetap hidup: pesantren-pesantren terus berkembang.
NU tumbuh menjadi ormas besar yang menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin, dan nilai-nilai perjuangan beliau tetap menjadi inspirasi.
Pada tahun 1964, pemerintah Indonesia menetapkan beliau sebagai Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan dalam berbagai institusi pendidikan, jalan raya, bahkan museum. Tapi yang paling utama, KH. Hasyim Asy’ari hidup dalam hati umat Islam Indonesia sebagai simbol keikhlasan, ilmu, dan perjuangan.
“Ya Allah, ampunilah Sayyiduna Haji Hasyim Asy’ari, angkat derajatnya di tempat yang tinggi di sisi-Mu. Jadikanlah apa yang telah beliau sumbangkan untuk Islam dan kaum muslimin sebagai cahaya di kuburnya.
Dan kumpulkanlah kami bersamanya di surga yang penuh kenikmatan, bersama para nabi, orang-orang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh. Sungguh, mereka adalah sebaik-baik teman. Amin.”
Oleh: Ki Pekathik













