Renungan 8: Rasulullah ﷺ Meninggalkan Majlis Ketika Syaitan Masuk

Renungan 6: Sibuk Yang Melalaikan, Akibatnya Melupakan Allah
Renungan 6: Sibuk Yang Melalaikan, Akibatnya Melupakan Allah
Renungan 6: Sibuk Yang Melalaikan, Akibatnya Melupakan Allah
Renungan 8: Rasulullah ﷺ Meninggalkan Majlis Ketika Syaitan Masuk

Renungan 8: Rasulullah ﷺ Meninggalkan Majlis Ketika Syaitan Masuk – Dalam senyapnya majlis Nabi ﷺ, terhampar teladan yang tak tertandingi akhlaknya dari setiap tindak dan diamnya, kita menjumpai cahaya petunjuk yang menuntun jiwa.

Salah satu peristiwa yang begitu menggetarkan hati adalah ketika Rasulullah ﷺ memilih meninggalkan majlis demi menjaga kemurnian ruhani, saat syaitan menyelinap ke dalam percakapan lewat amarah dan caci maki.

Di sebuah sore yang damai, Rasulullah ﷺ duduk bersama sahabat karibnya, Abu Bakar as-Siddiq RA, sosok yang lembut hati dan teguh dalam iman.

Dalam suasana itu, langit terasa dekat, bumi tenteram dalam dzikir. Tidak ada ambisi dunia, hanya samudra hikmah yang mengalir tenang di antara dua hati yang bersatu karena Allah.

Namun, seperti halnya hidup, ketenangan itu diuji. Datanglah seorang lelaki dengan wajah penuh kebencian. Tanpa salam, tanpa adab, ia langsung melontarkan kata-kata kasar kepada Abu Bakar.

Lidahnya tajam laksana pisau, setiap ucapannya seperti anak panah yang di lepaskan dari busur syaitan. Abu Bakar hanya diam. Rasulullah ﷺ pun tersenyum karena yakin pada kehadiran malaikat yang mencatat dan membalas lebih adil daripada siapa pun.

Baca Juga:

Sabarnya Abu Bakar, Tenangnya Rasulullah ﷺ

Lelaki itu terus mencerca: “Engkau lemah! Tidak pantas di sisi Muhammad!” Tapi Abu Bakar tetap tenang, membiarkan sabar menjadi benteng. Rasulullah ﷺ tidak membalas. Tak ada kemarahan, hanya senyum damai yang terbit dari wajah yang telah disucikan wahyu.

Senyum itu adalah senyum tauhid: senyum mereka yang yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Setiap hinaan yang di tahan dengan sabar akan menjadi pahala. Setiap emosi yang di redam akan menjadi penguat ruh.

Saat Batas Kesabaran Diuji

Akhirnya, ketika hinaan mencapai puncaknya, Abu Bakar menjawab tak lebih dari sepatah dua kata. Seketika wajah Rasulullah ﷺ berubah. Senyumnya sirna. Baginda bangun dan meninggalkan majlis, tak berkata sepatah pun.

Abu Bakar RA pun segera menyusul dengan heran. “Wahai Rasulullah, kenapa engkau pergi?”

Jawaban baginda amat dalam, menembus kulit dan tulang, menyentuh inti fitrah manusia.

“Ketika engkau diam, malaikat menjawab bagimu. Tapi ketika engkau menjawab, syaitan pun masuk. Maka aku tidak mau duduk bersama syaitan.”

Makna dari Diamnya Rasulullah ﷺ

Diamnya Rasulullah ﷺ adalah pendidikan. Ketegasan beliau adalah pelajaran. Ia mengajarkan bahwa menjaga kemuliaan hati lebih penting daripada membalas serangan.

Beliau ingin kita paham: dalam majlis yang di huni syaitan, tak layak orang beriman menetap. Bukan berarti lari dari medan, tetapi memilih perang yang lebih tinggi perang jiwa.

Ketika kita di fitnah, di cerca, di sudutkan dalam doa, ada malaikat yang membela. Rasulullah ﷺ tidak mengandalkan lidah untuk membalas, tapi keimanan. Sebab balasan terbaik datang dari langit, bukan dari debat kosong di bumi.

Pelajaran untuk Zaman Sekarang

Di era media sosial, satu komentar bisa memicu ribuan balasan. Seringkali kita menjadi Abu Bakar yang tergoda membalas. Tapi sayangnya, tak ada Rasulullah ﷺ yang bangkit mengingatkan kita. Itulah sebabnya kita harus menghidupkan kisah ini dalam hati kita sendiri.

Kita harus jadi Rasul bagi diri sendiri—yang tahu kapan harus diam, kapan harus mundur, dan kapan menjaga diri dari arena yang telah di nodai syaitan.

Kekuatan Hakiki

Senyuman Rasulullah ﷺ bukan tanda lemah. Itu cermin jiwa yang kokoh. Orang lemah mudah marah, tapi yang kuat tahu kapan diam adalah senjata paling tajam. Abu Bakar meski di kenal sebagai sahabat terdekat, tetap di ingatkan oleh baginda. Karena bahkan yang terdekat pun bisa tergelincir oleh emosi jika syaitan berhasil menyusup.

Mundur tidak selalu berarti kalah. Adakalanya itu tanda kemenangan ruhani. Rasulullah ﷺ tidak ingin duduk dalam majlis yang telah berubah menjadi gelanggang syaitan. Maka, beliau pergi. Dan itu adalah pengajaran paling kuat bahwa integritas spiritual lebih berharga dari gengsi dunia.

Kekuatan Memilih Diam

Diam bukan karena kalah. Ia adalah perlawanan dalam bentuk tertinggi. Ketika seseorang mampu menahan diri dari membalas hinaan, ia sedang menang melawan dirinya sendiri—musuh paling sulit di dunia.

Apa yang membuat Rasulullah ﷺ bisa tetap tersenyum dalam badai makian? Karena beliau yakin: Allah melihat. Allah membela. Dan kalau Allah berpihak pada kita, untuk apa peduli dengan opini manusia?

Memelihara Marwah Islam

Rasulullah ﷺ tidak hanya menjaga marwah dirinya, tetapi marwah Islam. Beliau tak ingin Islam di asosiasikan dengan amarah, caci maki, atau debat kusir. Karena Islam adalah cahaya, dan cahaya tak boleh di nodai kegelapan.

Zaman sekarang, orang merasa harus selalu menang bicara. Harus menjawab, harus mematahkan hujah. Tapi Rasulullah ﷺ memperlihatkan bahwa kadang kita hanya butuh tersenyum dan berpaling. Itu lebih mulia, lebih suci.

Di tengah bisingnya dunia, teladan ini menjadi oase bagi jiwa yang haus akan ketenangan. Kita tidak perlu ikut arus debat. Kita tidak perlu selalu menjawab. Kadang, meninggalkan majlis adalah jihad tersendiri. Apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ adalah ibadah karena akhlak beliau adalah bagian dari risalah.

Maka meniru akhlak itu adalah bentuk ibadah pula. Kita di ajak untuk berjuang melawan syaitan bukan dengan pedang, tapi dengan kesabaran, keheningan, dan keyakinan.

Sumber yang sering di kaitkan:

Dalam Musnad Ahmad, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Bakar RA ketika beliau membalas ucapan orang yang mencacinya:

“Ketika engkau diam, malaikat menjawab untukmu. Namun ketika engkau membalas, syaitan pun datang.”

Riwayat ini di sebutkan oleh sebagian ulama sebagai bagian dari Musnad Ahmad bin Hanbal, meskipun tidak selalu di sebutkan dalam redaksi lengkap seperti yang beredar secara populer.

Dalam Al-Adab Al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, hadits ini tidak di temukan secara eksplisit dalam bentuk narasi lengkap seperti yang Asus tuliskan. Namun, kitab ini memang memuat banyak hadits tentang menahan amarah, menjaga lisan, dan keutamaan diam, yang sejalan dengan makna kisah tersebut.

Riwayat ini sering dikutip dalam ceramah dan tulisan-tulisan hikmah, namun para ulama hadits menyebutkan bahwa sanad dan matannya tidak di temukan secara lengkap dalam satu riwayat sahih yang muttasil.

Oleh karena itu, ia lebih tepat di sebut sebagai atsar atau kisah hikmah yang bersumber dari beberapa riwayat yang di gabungkan.

Beberapa Riwayat Yang Di Gabungkan

Hadis:

‏إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

Riwayat: HR. Bukhari no. 1894, Muslim no. 1151

Artinya:

“Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan berlaku bodoh. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.”

Derajat: Shahih (muttafaq ‘alaih – Bukhari dan Muslim)

Hadis:

كَانَ رَجُلٌ يُسِبُّ أَبَا بَكْرٍ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْجَبُ وَيَتَبَسَّمُ، فَلَمَّا رَدَّ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ، غَضِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ، فَلَحِقَهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَانَ يُسِبُّنِي وَأَنْتَ جَالِسٌ، فَلَمَّا رَدَدْتُ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ غَضِبْتَ وَقُمْتَ، قَالَ: كَانَ مَعَكَ مَلَكٌ يَرُدُّ عَنْكَ، فَلَمَّا رَدَدْتَ عَلَيْهِ حَضَرَ الشَّيْطَانُ، فَلَمْ أَكُنْ لِأَجْلِسَ مَعَ الشَّيْطَانِ

Riwayat: HR. Abu Dawud no. 4896, Ahmad 2/436.

Artinya:

“Seorang lelaki mencaci Abu Bakar sementara Nabi ﷺ duduk. Nabi pun merasa kagum dan tersenyum. Ketika Abu Bakar membalas sebagian ucapannya, Nabi marah dan berdiri. Abu Bakar menyusul beliau dan berkata:

‘Wahai Rasulullah, orang itu mencaciku, dan engkau duduk, tapi ketika aku membalas sebagian ucapannya, engkau marah dan berdiri.’ Nabi bersabda: ‘Saat engkau diam, ada malaikat yang membalas untukmu. Namun saat engkau membalas, syaitan hadir, maka aku tidak mau duduk bersama syaitan.’”

Derajat: Hasan – di nilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 220

Hadis:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَتَوَضَّأْ

Riwayat: HR. Abu Dawud no. 4784, Ahmad no. 21335

Artinya:

“Sesungguhnya marah itu dari syaitan. Dan syaitan di ciptakan dari api, sedangkan api dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.”

Derajat: Hasan  di sahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 1259

Doa agar Kita Bisa Meneladani

Semoga kisah ini menjadi cermin bagi hati-hati kita yang sering panas oleh debat dan provokasi. Juga kita memiliki keberanian spiritual untuk memilih diam daripada membalas, untuk mundur daripada tercemar. Semoga kita bisa mencintai diam sebagaimana Rasulullah mencintainya dalam kemuliaan.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ. وَارْزُقْنَا لِينَ الْقَلْبِ كَلِينِ نَبِيِّكَ، وَصَبْرًا كَصَبْرِ رَسُولِكَ، وَقُدْرَةً عَلَى الْإِعْرَاضِ عَنِ الْجَاهِلِينَ،

وَحِفَاظًا عَلَى قُلُوبِنَا مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيَاطِينِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ كَلَامِنَا الصَّمْتَ، وَخَيْرَ صَمْتِنَا التَّفَكُّرَ، وَخَيْرَ تَفَكُّرِنَا الْعِبْرَةَ، وَخَيْرَ عِبْرَتِنَا الْعَمَلَ الصَّالِحَ الَّذِي يُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ. وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا فِي الدُّنْيَا شَهَادَةً: أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Allaahummaj‘alnā mina alladzīna yastami‘ūna al-qawla fayattabi‘ūna aḥsanah.

Warzuqnā līna al-qalbi kalīni nabiyyika, Waṣabran kaṣabri rasūlika, Waqudratan ‘ala al-i‘rāḍi ‘ani al-jāhilīn, Waḥifāẓan ‘alā qulūbinā min wasāwisi ash-shayāṭīn Waj‘al khayra kalāminā aṣ-ṣamta, Wakhayra ṣamtinā at-tafakkura Wakhayra tafakkurinā al-‘ibrah, Wakhayra ‘ibratinā al-‘amala aṣ-ṣāliḥa alladzī yuqarribunā ilayka. Waj‘al ākhira kalāminā fī ad-dunyā shahādatan: An lā ilāha illā Allāh, Muḥammadun rasūlullāh. Allāhumma ṣalli ‘alā sayyidinā Muḥammad, Wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn, Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Karuniakan kepada kami kelembutan seperti kelembutan Nabi-Mu, Kesabaran seperti kesabaran Rasul-Mu.

Kemampuan berpaling dari orang-orang bodoh, Penjagaan atas hati kami dari bisikan-bisikan setan, Jadikanlah sebaik-baik perkataan kami adalah diam. Dan sebaik-baik diam kami adalah perenungan, Dan sebaik-baik perenungan kami adalah pelajaran.

Dan sebaik-baik pelajaran kami adalah amal saleh yang mendekatkan kami kepada-Mu. Jadikanlah akhir perkataan kami di dunia adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas junjungan kami Nabi Muhammad,

juga kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Baca Juga: Renungan Pagi Penyuluh Kristen “Hidup Harus Punya Pengharapan”

Oleh: Ki Pekathik