
Perjalanan Sa’ad bin Abi Waqqash ke China dan Makamnya yang Abadi – Di antara para sahabat besar Rasulullah ﷺ, Sa’ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه dikenal sebagai pemanah ulung, panglima agung, dan seorang sahabat yang mulia.
Ia adalah satu dari sepuluh orang yang di jamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ semasa hidupnya. Namanya harum dalam sejarah ekspansi Islam ke luar jazirah Arab, dan salah satu kisah yang membekas kuat adalah dugaan perjalanan dakwahnya ke negeri yang jauh — China.
Walaupun dalam literatur sejarah utama tidak semua ulama menyepakati detail kepergian Sa’ad ke China, namun kisah ini hidup dan tumbuh dalam tradisi Islam Tiongkok, di dukung oleh jejak makam dan narasi lisan yang di wariskan turun-temurun oleh Muslim Hui di negeri itu.
Awal Misi Diplomatik dan Dakwah
Sejarah Islam mencatat bahwa Islam pertama kali masuk ke daratan Tiongkok pada masa pemerintahan Kaisar Tang, khususnya Kaisar Gaozong, sekitar tahun 650 M. Pada masa itu, Khalifah ketiga Utsman bin Affan رضي الله عنه mengutus sebuah delegasi diplomatik untuk membawa pesan Islam ke kaisar Tiongkok.
Baca Juga:

Sa’ad Bin Abi Waqqas Sang Pemanah Terbaik Dan Perisai Di Perang Uhud https://sabilulhuda.org/saad-bin-abi-waqqas-sang-pemanah-terbaik-dan-perisai-di-perang-uhud/
Delegasi ini di pimpin oleh sahabat mulia: Sa’ad bin Abi Waqqash, yang juga merupakan paman Rasulullah ﷺ dari garis ibu.
Menurut sumber-sumber China dan tradisi lokal Muslim, Sa’ad datang ke kota pelabuhan Guangzhou (Kwangchow), yang pada masa itu telah menjadi pusat perdagangan yang ramai. Ia tidak datang sebagai penakluk, melainkan sebagai utusan damai, menyampaikan pesan keadilan, ketauhidan, dan peradaban Islam.
Kaisar Tang menyambut utusan Islam itu dengan rasa penasaran dan hormat. Sebuah catatan kuno menyebutkan bahwa Sa’ad berdialog panjang dengan para pemuka istana tentang prinsip-prinsip Islam: tentang satu Tuhan yang tidak beranak dan tidak di peranakkan, tentang keadilan sosial, dan akhlak mulia.
Kaisar, yang di kenal bijaksana, tidak memeluk Islam, tetapi memberikan izin kepada umat Islam untuk tinggal dan menyebarkan ajaran mereka di wilayah Guangzhou.
Masjid Pertama di China
Sebagai bentuk sambutan dan toleransi, Kaisar Tang memberi izin kepada Sa’ad bin Abi Waqqash dan rombongan untuk membangun tempat ibadah. Dari sinilah berdiri Masjid Huaisheng — yang secara harfiah berarti “Mengingat Sang Nabi” — di kota Guangzhou.
Masjid ini di percaya sebagai masjid tertua di China dan salah satu yang tertua di dunia. Bangunannya yang unik mencerminkan perpaduan arsitektur Arab klasik dan lokal Tionghoa.
Masjid Huaisheng hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi simbol masuknya Islam secara damai di China. Meskipun banyak di renovasi, masjid ini tetap menjadi saksi bisu dari kedatangan Islam lebih dari 1300 tahun yang lalu.
Pengaruh dan Penyebaran Islam
Sa’ad bin Abi Waqqash di kenal tidak hanya sebagai panglima, tetapi juga sebagai dai yang sabar dan arif. Ia tidak memaksakan Islam kepada masyarakat lokal. Ia membina komunitas Muslim awal dari para pedagang Arab dan Persia yang telah lebih dahulu datang ke China.
Mereka menjadi cikal bakal komunitas Muslim Hui, yang hari ini tersebar di banyak wilayah di China.
Kedekatan Sa’ad dengan rakyat setempat membuatnya di hormati. Ia di anggap sebagai “penyebar cahaya Timur Tengah di tanah Timur Jauh”. Beberapa kisah menyebutkan bahwa setelah menyelesaikan tugas diplomatiknya, Sa’ad tidak kembali ke Madinah.
Melainkan memilih tinggal dan wafat di China — suatu pilihan hidup yang tak biasa, penuh pengorbanan.
Makam Sa’ad bin Abi Waqqash di Guangzhou
Salah satu peninggalan yang menguatkan narasi ini adalah makam Sa’ad bin Abi Waqqash yang terdapat di Guangzhou, tepatnya di atas sebuah bukit yang kini menjadi bagian dari kompleks pemakaman Muslim di wilayah Yuexiu.
Di lokasi tersebut, terdapat sebuah bangunan makam yang di hormati dan di jaga oleh komunitas Muslim lokal. Di atas nisannya tertulis dengan kaligrafi Arab nama Sa’ad bin Abi Waqqash, di sertai pujian dan doa.
Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai apakah itu benar-benar makam Sa’ad bin Abi Waqqash, namun tradisi lokal begitu meyakini hal tersebut. Setiap tahun, ribuan Muslim China dan wisatawan Muslim dari seluruh dunia datang berziarah, membaca doa, dan mengenang jasa sang penyebar Islam pertama di tanah China.
Kompleks makam itu tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga pusat pembelajaran Islam. Banyak anak-anak Muslim Hui belajar Al-Qur’an di sekelilingnya, mengaji dan menghafal, seperti seolah mereka duduk di sisi sahabat besar yang telah membawa risalah Rasulullah ﷺ ke ujung Timur dunia.
Kesaksian Sejarah dan Simbol Peradaban
Meskipun ada sejarawan yang berpendapat bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash wafat di Madinah dan tidak pernah pergi ke China secara pribadi, namun kisah perjalanannya hidup kuat dalam hati umat Islam di China. Beberapa ahli sejarah menilai bahwa delegasi Islam ke China memang di pimpin oleh keturunan atau murid dari Sa’ad, dan kemudian namanya di lekatkan sebagai penghormatan atas pengaruhnya.
Namun bagi masyarakat Muslim Tiongkok, kisah ini adalah bagian dari jati diri mereka. Sa’ad bukan sekadar utusan, tapi simbol awal peradaban Islam di negeri mereka. Namanya di kenang dalam kitab-kitab lokal, khutbah Jumat, hingga nama jalan dan sekolah Islam.
Bahkan pemerintah China sendiri mengakui pentingnya Masjid Huaisheng dan Makam Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai bagian dari situs warisan budaya yang di lindungi. Ini menjadi bukti nyata bahwa Islam telah hidup berdampingan dengan peradaban Tionghoa sejak berabad-abad lalu.
Pelajaran dari Perjalanan Sang Sahabat
Perjalanan Sa’ad bin Abi Waqqash ke China, baik secara langsung ataupun melalui delegasi, menyimpan pelajaran penting bagi umat Islam masa kini. Ia bukan datang membawa pedang, tetapi membawa damai dan ilmu. Bukan untuk menundukkan negeri lain, melainkan untuk memperkenalkan kebenaran dengan kebijaksanaan.
Dalam era modern yang penuh prasangka terhadap Islam, kisah ini mengajarkan bahwa Islam sejak awal telah mengajarkan toleransi, dialog, dan peradaban. Bahwa para sahabat Nabi ﷺ bukan hanya pejuang medan perang, tapi juga duta-duta peradaban dan akhlak.
Sa’ad bin Abi Waqqash telah menorehkan sejarah, bukan hanya dengan panah di medan Qadisiyyah, tapi juga dengan cinta dan ilmu di tepi pelabuhan Guangzhou. Jejaknya tak hanya tertulis di lembaran sejarah, tapi juga di masjid-masjid, makam, dan hati jutaan Muslim di Timur Jauh.
Penutup: Jejak yang Tak Terhapus Waktu
Hingga kini, Masjid Huaisheng tetap berdiri — tempat di mana azan pertama kali di kumandangkan di China. Dan makam Sa’ad bin Abi Waqqash terus di ziarahi — menjadi bukti bahwa Islam datang membawa rahmat ke seluruh alam, termasuk di negeri yang jauh dari Madinah.
Entah Sa’ad benar wafat di sana atau tidak, yang pasti namanya telah menjadi cahaya dalam sejarah Tiongkok. Ia hidup dalam doa anak-anak Muslim di Guangzhou, dalam syair-syair Imam lokal, dalam hening malam para muazin yang mengumandangkan takbir dari menara masjid tertua itu.
Baca Juga: Jabal Uhud Saksi Bisu Perang Uhud
Dan demikianlah, cahaya Islam, yang dahulu di bawa dengan tulus oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, akan terus menyinari dunia — dari pasir Madinah hingga ke perbatasan langit Timur Jauh.
Oleh: Ki Pekathik













