Puasa Sunnah Asyura

Puasa Sunnah Asyura
Puasa Sunnah Asyura
Puasa Sunnah Asyura
Puasa Sunnah Asyura

Puasa Sunnah Asyura – Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) memiliki makna yang sangat penting dalam tradisi Islam. Bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai refleksi sejarah, keimanan, dan keberkahan.

Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang keutamaan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram jatuh bertepatan dengan hari jumat 4 juli dan sabtu 5 juli 2025. sejarahnya, tata cara pelaksanaannya, serta hikmah yang dapat dipetik oleh umat Muslim.

Sejarah Puasa Asyura: Dari Musa hingga Nabi Muhammad SAW

Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram telah memiliki akar sejarah yang panjang, jauh sebelum masa kenabian Muhammad SAW. Tradisi puasa ini bermula dari kisah Nabi Musa AS dan kaumnya, Bani Israil, yang diselamatkan oleh Allah SWT dari kejaran Firaun dan pasukannya.

Pada hari Asyura itulah, Allah membelah Laut Merah, memungkinkan Nabi Musa dan pengikutnya menyeberang dengan selamat, sementara Firaun dan bala tentaranya tenggelam. Sebagai bentuk syukur atas keselamatan tersebut, Nabi Musa AS dan kaumnya berpuasa pada hari itu.

Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi setempat juga berpuasa pada hari Asyura. Beliau kemudian menanyakan alasannya, dan mereka menjelaskan bahwa itu adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dari Firaun.

Baca Juga:

Mendengar hal tersebut, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Sejak saat itu, beliau memerintahkan umat Muslim untuk berpuasa pada hari Asyura.

Namun, Nabi Muhammad SAW juga menyadari bahwa berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram akan menyerupai praktik kaum Yahudi. Untuk membedakan dan menambahkan keutamaan, beliau menganjurkan untuk menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram, yang dikenal sebagai Puasa Tasu’a.

Anjuran ini di sampaikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, di mana Nabi SAW bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram).”

Sayangnya, beliau wafat sebelum sempat melaksanakan anjuran tersebut. Meski demikian, hadis ini menjadi dasar disunahkannya puasa Tasu’a.

Keutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura: Penghapus Dosa Setahun

Puasa Tasu’a dan Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Islam. Salah satu keutamaan yang paling menonjol adalah kemampuannya menghapus dosa-dosa setahun yang lalu. Hal ini di dasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Dan puasa Asyura (10 Muharram) dapat menghapus dosa setahun yang lalu.”

Meskipun hadis ini secara spesifik menyebut puasa Asyura, para ulama memahami bahwa berpuasa Tasu’a dan Asyura secara bersamaan akan lebih sempurna dan mendapatkan pahala yang lebih besar.

Kombinasi kedua puasa ini tidak hanya membedakan umat Muslim dari kaum Yahudi, tetapi juga menunjukkan kesempurnaan ibadah dan ketaatan kepada sunah Nabi SAW.

Selain sebagai penghapus dosa, puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk Tasu’a dan Asyura, memiliki keutamaan sebagai puasa terbaik setelah Ramadhan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.” (HR Muslim).

Ini menunjukkan betapa mulianya bulan Muharram dan betapa besar pahala yang di janjikan bagi mereka yang berpuasa di dalamnya.

Tata Cara Pelaksanaan Puasa Tasu’a dan Asyura

Pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura sama seperti puasa sunah lainnya. Berikut adalah rincian tata caranya:

1. Niat

Puasa Tasu’a dan Asyura di ucapkan dalam hati pada malam hari sebelum fajar menyingsing, atau bisa juga di ucapkan setelah fajar asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa (seperti makan atau minum) dan waktu siang masih panjang.

 Niat Puasa Tasu’a (9 Muharram):

   “Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Tasu’a lillahi ta’ala.”

   (Aku niat berpuasa sunah Tasu’a esok hari karena Allah ta’ala.)

 Niat Puasa Asyura (10 Muharram):

   “Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Asyura lillahi ta’ala.”

   (Aku niat berpuasa sunah Asyura esok hari karena Allah ta’ala.)

Jika seseorang ingin menggabungkan niat kedua puasa tersebut, bisa juga dengan niat umum puasa sunah Muharram. Namun, lebih baik di niatkan secara spesifik untuk mendapatkan keutamaan masing-masing.

2. Waktu Pelaksanaan

 Puasa Tasu’a: Di laksanakan pada tanggal 9 Muharram.

 Puasa Asyura: Di laksanakan pada tanggal 10 Muharram.

Disunahkan untuk berpuasa keduanya (9 dan 10 Muharram) untuk mendapatkan keutamaan yang lebih sempurna dan membedakan diri dari kaum Yahudi. Jika tidak memungkinkan berpuasa keduanya, di sarankan untuk tetap berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Beberapa ulama juga menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 11 Muharram sebagai tambahan, sehingga berpuasa selama tiga hari berturut-turut (9, 10, dan 11 Muharram). Ini di sebut juga sebagai puasa Asyura tiga hari.

3. Hal-hal yang Membatalkan Puasa

Hal-hal yang membatalkan puasa Tasu’a dan Asyura sama dengan puasa lainnya, yaitu: makan dan minum dengan sengaja, berhubungan intim, muntah dengan sengaja, haid atau nifas bagi wanita, dan murtad.

Hikmah di Balik Puasa Tasu’a dan Asyura

Selain keutamaan pahala yang besar, puasa Tasu’a dan Asyura mengandung banyak hikmah yang mendalam bagi umat Muslim:

1. Mensyukuri Nikmat Allah

Puasa Asyura adalah bentuk syukur atas pertolongan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan kaumnya. Ini mengajarkan umat Muslim untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan pertolongan Allah dalam setiap aspek kehidupan.

2. Menghidupkan Sunah Nabi Muhammad SAW

Dengan melaksanakan puasa Tasu’a dan Asyura, umat Muslim secara langsung menghidupkan sunah Nabi Muhammad SAW. Ini adalah wujud cinta dan ketaatan kepada beliau, serta upaya untuk meneladani akhlak dan ibadah beliau.

3. Membedakan Diri dari Kaum Lain

Anjuran untuk berpuasa Tasu’a (9 Muharram) adalah upaya Nabi Muhammad SAW untuk membedakan identitas umat Muslim dari kaum Yahudi. Ini mengajarkan pentingnya menjaga identitas keislaman dan tidak meniru tradisi agama lain yang bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Mengingat Sejarah dan Keteguhan Iman

Kisah Nabi Musa AS dan Firaun mengajarkan tentang pentingnya keteguhan iman dalam menghadapi cobaan dan kezaliman. Puasa Asyura menjadi pengingat akan perjuangan para nabi dan rasul dalam menegakkan agama Allah.

5. Melatih Disiplin Diri dan Kesabaran

Puasa, dalam bentuk apa pun, melatih disiplin diri, kesabaran, dan pengendalian hawa nafsu. Ini adalah latihan spiritual yang penting untuk membentuk pribadi Muslim yang lebih baik.

6. Memperoleh Ampunan Dosa

Keutamaan puasa Asyura sebagai penghapus dosa setahun yang lalu adalah motivasi besar bagi umat Muslim untuk melaksanakannya. Ini menunjukkan rahmat Allah SWT yang luas kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan beribadah.

Penutup

Puasa Tasu’a dan Asyura adalah dua amalan sunah yang sangat di anjurkan di bulan Muharram. Dengan sejarahnya yang kaya, keutamaannya yang besar sebagai penghapus dosa. Dan hikmahnya yang mendalam, puasa ini menjadi kesempatan emas bagi umat Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menghidupkan sunah Nabi Muhammad SAW, serta mengambil pelajaran berharga dari sejarah para nabi. Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk meraih keberkahan dan ampunan dari Allah SWT.