
Renungan 6: Sibuk yang Melalaikan, Akibatnya Melupakan Allah – Kesibukan adalah bagian dari dinamika kehidupan manusia. Namun tidak semua kesibukan bernilai positif jika tidak diiringi dengan kesadaran dan niat yang lurus.
Seringkali, kesibukan yang tampaknya produktif justru menjauhkan seseorang dari Allah ﷻ. Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai “ghaflah” kelalaian hati yang fatal.
Seseorang bisa tersibukkan oleh pekerjaan, bisnis, keluarga, bahkan kegiatan sosial. Akan tetapi, jika semua itu menyita perhatian dan energi hingga membuatnya lupa kepada Allah, maka kesibukan tersebut menjadi bencana spiritual yang tersembunyi.
Nikmat Dunia yang Bisa Menipu
Islam tidak mengharamkan harta, jabatan, atau keluarga, itu adalah nikmat dan amanah. Namun ketika kecintaan terhadap dunia melampaui kecintaan kepada Pencipta dunia, maka nikmat berubah menjadi fitnah.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. Al-Hasyr: 19)
Baca Juga:

Renungan 5: Pijakan Spiritual Di Tengah Kerapuhan Manusia https://sabilulhuda.org/renungan-5-pijakan-spiritual-di-tengah-kerapuhan-manusia/
Ayat ini menjelaskan bahwa melupakan Allah akan berakhir dengan melupakan jati diri, asal usul, bahkan tujuan hidup. Orang seperti ini hidup hanya mengikuti arus duniawi, tanpa arah akhirat.
Hadits: Orang yang Paling Merugi
Rasulullah ﷺ bersabda:
“رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ”
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar, dan betapa banyak orang yang shalat malam namun tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali begadang.”
(HR. Ibnu Majah, no. 1690)
Maknanya: ibadah pun bisa kehilangan nilai bila dilakukan tanpa hati yang hadir. Apalagi kesibukan dunia yang tidak diiringi zikir dan kesadaran akan Allah. Maka, penting bagi manusia untuk terus menjaga hati dari penyakit lalai (ghaflah).
Dunia yang Memalingkan
Ketika seseorang terus-menerus disibukkan oleh perkara dunia—hingga menunda shalat, mengabaikan Al-Qur’an, bahkan kehilangan semangat untuk berdzikir—maka ia berada dalam zona bahaya.
Banyak orang mengira bahwa rezeki adalah tanda keberkahan, padahal bisa jadi itu justru ujian ketika di gunakan untuk melalaikan Allah.
Sebagaimana peringatan Rasulullah ﷺ:
“إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا فَقَّهَّهُ فِي الدِّينِ، وَإِذَا أَرَادَ بِهِ شَرًّا شَغَلَهُ بِالدُّنْيَا”
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan memberikan pemahaman agama kepadanya. Namun jika Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, maka Allah akan menyibukkannya dengan urusan dunia.”
(Lihat Tafsir Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa’id)
Cemburu yang Salah Arah
Kita cenderung merasa iri dengan pencapaian dunia orang lain rumah, mobil, karier. Namun jarang merasa iri pada mereka yang rutin tahajud, yang khatam Al-Qur’an, atau yang berilmu agama. Ini menunjukkan bahwa hati kita lebih terhubung dengan dunia daripada akhirat.
Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:
“لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا”
“Tidak boleh hasad (iri) kecuali kepada dua orang: Orang yang di beri harta lalu di gunakan untuk kebenaran, dan orang yang di beri hikmah (ilmu) lalu ia mengajarkan dan mengamalkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap kali bertambah usia, hakikatnya kita semakin dekat pada ajal. Tapi banyak yang menyambut ulang tahun dengan pesta, bukan dengan muhasabah. Lalu, apakah bekal ke akhirat juga bertambah seiring pertambahan usia?
Perjalanan Menuju Alam Kekal
Setiap manusia dalam perjalanan menuju kematian. Alam kubur itu nyata. Hari hisab itu nyata. Surga dan neraka pun benar adanya. Dan modal untuk melewati semua itu hanyalah: Iman, takwa, dan amal shalih.
Kesibukan yang menjauhkan dari Allah adalah musibah besar yang tak tampak. Maka marilah kita bersihkan hati, evaluasi waktu, dan luruskan niat. Jadikan dunia sebagai alat menuju akhirat, bukan tujuan yang melalaikan.
Baca Juga: Renungan Pagi Penyuluh Kristen “Hidup Harus Punya Pengharapan”
Doa Penutup
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، وَلَا تَشْغَلْنَا بِالدُّنْيَا حَتَّى نَنْسَاكَ، وَارْزُقْنَا قَلْبًا حَيًّا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَنَفْسًا خَاشِعَةً، وَعَمَلًا خَالِصًاوَخَاتِمَةً حُسْنَى، آمِينَ.
Artinya:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai. Jangan Engkau sibukkan kami dengan dunia hingga kami melupakan-Mu. Anugerahkan kepada kami hati yang hidup, lisan yang selalu berdzikir, jiwa yang khusyuk, amal yang ikhlas, dan akhir kehidupan yang baik. Aamiin.”
Oleh: Ki Pekathik













