
Tangis Nopang dan Pahlawan-Pahlawan Kecil – Namanya Nopang. Di usia 4 tahun, ia belum bisa berkata-kata tubuhnya belum mampu merespon karena keterbatasan sejak lahir. Ia mengalami autisme dengan gangguan bicara dan regulasi emosi yang berat.
Ia mudah tantrum, menjerit berjam-jam, dan tidak bisa menyampaikan apapun lewat kata semuanya hanya keluar lewat tangis.
Orang tuanya sudah mencoba segalanya: terapi okupasi, terapi wicara, diet khusus, bahkan ruqyah. Tapi biaya terapi semakin mencekik. Dengan hati yang berat, mereka menyerahkan Nopang ke sebuah panti anak berkebutuhan khusus di kaki Gunung Merapi.
“Maafkan kami, Nak… Kami bukan menyerah, tapi kami hanya ingin kamu dirawat oleh orang-orang yang bisa lebih sabar dari kami…”
Fase Pertama kedatangan
Di panti sederhana inilah Nopang bertemu Bapak Wirya dan Bu Ugi sepasang suami istri yang ramah. Nopang tinggal di panti diasuh dikamar suami istri ini. Namun karena keterbatasannya menangani anak tanrum dan berkebutuhan khusus ini, pak wirya menghadap kiai Haidan pengasuh pondok disamping panti, meminta nasehat cara mengatasi tantrum ini.
Baca Juga:

SARAH! SIKECIL CENTIL NAN CERIA PELIPUR HATI https://sabilulhuda.org/sarah-sikecil-centil-nan-ceria-pelipur-hati/
Kiai Haidan bukan terapis, bukan pula ahli pendidikan khusus. Ia hanya orang biasa yang suka lelaku prihatin. Pengasuh pondok panti yang sudah hidup di sana sejak lahir, membesarkan puluhan anak-anak dengan sabar tanpa banyak bicara.
Nopang biar tidur di Panti bersama kalian tetapi kalau siang biarlah main bersama anak lainnya dipondokku. Kalian berdua urus makan dan mandinya Nopang, aku coba mohon petunjuk Gusti Allah untuk perkembangan Nopang.
Hari-hari pertama, Nopang menangis sampai berjam-jam. Bahkan ketika malam sudah larut, ia masih melolong di pojok ruangan.
Anak-anak lain mulai kesal.
Termasuk Aan, anak 4 tahun yang cerdik dan iseng, serta El, bocah 5 tahun yang tak kalah jail.
Awalnya, mereka mengejek:
“Nopang bocah cengeng! Cuma bisa HUUAAA terus!”
“Eh El, ayo kita hitung berapa jam dia nangis hari ini!”
Mereka melempari Nopang dengan bantal, mengikat bonekanya di pohon, bahkan pernah mencelupkan sendalnya ke ember air sabun.
Anehnya, Kiai Haidan tak pernah marah. Ia hanya mengawasi dari kejauhan. Para pengurus panti sempat bertanya, “Kenapa tidak dihentikan?”
Pak Haidan hanya menjawab,
“Tunggu. Air deras kadang perlu dihantam batu agar tahu arah alirannya.”
Fase Kedua Pelajaran menangis
Hari itu sudah seminggu berlalu. Nopang kembali menangis. Tangis yang panjang, keras, menusuk dada semua orang di rumah itu. Tapi tak ada yang berani menegurnya lagi.
Hingga akhirnya Pak Haidan mendekati Nopang. Duduk bersila di hadapannya.
“Sudah capek belum, Nangisnya?”
“Kalau mau nangis, boleh. Tapi mulai sekarang, sekali nangis harus pakai cara ya.”
Nopang yang matanya sembab, hanya memandang kosong.
“Pertama, gaya Huaaa sekeras kerasnya! tiga kali. Lalu, pelankan jadi Hiiiii…! Panjang tapi tidak keras tiga kali. Terakhir, pendek-pendek saja: Huhuhu! tiga kali. Kalau belum puas, ulang dari awal.”
Tangis Nopang berhenti sejenak. Ia menatap. Lalu… mencoba.
“Huaaa… huaaa… huaaa…”
“Hiiii… hiii… hiii…”
“Huhuhu… huhuhu… huhuhu…”
Dan begitulah setiap hari.
Tangis itu perlahan berubah menjadi ritual gerak dan suara. Alan dan El kini menirukan, mengejek gaya tangis itu sambil tertawa, tapi lama-kelamaan… mereka justru ikut mengatur irama.
“Ayo Nopang, kalau nangis jangan lupa gaya dua, hiii… hiii… hiii…!”
“Loh kamu salah gaya ketiga! Huhuhu, bukan huuuaa lagi!”
Tanpa disadari, Nopang mulai belajar mengendalikan suara. Ia mulai mengenali ritme, intonasi, dan durasi napas, bahkan Ketika tidak menangis pun nopal berulang-ulang melafalkan haaa hii hii hii hu hu hu lama kelaman menjadi seperti nyanyian bernada. Satu tahun berlalu, dan…
Fase Ketiga: mulai jelas berucap
Hari demi hari berlalu Nopang mulai belajar mengeja kata sekalipun belum jelas, tetapiketika tantrum malah menjadi lucu ucapannya, akhirnya nopang menjadi malu Ketika marah. Dia mulai terbiasa mengendalikan diri tidak mudah tantrum.
Alan sedang main bola, dan bolanya mental ke arah Nopang. Bocah itu berdiri diam. Alan berteriak:
“PANG! Ambil bolanya dong!”
Dan… untuk pertama kalinya, Nopang menjawab.
Dengan suara parau tapi panjang dan jelas:
“Oke… tunggu alan aku teendang kekamu ya tangkaplah!”
Alan melongo. El melompat kegirangan.
“Nopang ngomong!!! Woy, dia jawab! Dia bisa bicara jelas”
Sejak saat itu, suara Nopang tak bisa dihentikan. Ia seperti air bah yang menemukan celah, mengalir deras. Ia menyebutkan nama-nama teman, menyanyi lagu anak, bahkan berani berbicara di depan tamu panti.
Tantrumnya berkurang drastis. Ia jadi lebih tenang, lebih percaya diri, lebih hidup.
Fase Keempat: Orang Tua Kembali
Setelah dua tahun berlalu, orang tua Nopang datang kembali. Mereka hampir tak percaya melihat anak yang mereka tinggalkan kini berbicara fasih, berjalan tegak, dan bermain dengan anak-anak lain.
Ibunya memeluk sambil menangis:
“Nopang… Nak, kamu bisa bicara sekarang…! Kamu bisa senyum…”
Ayahnya menatap Bapak Wiryo, tercengang:
“Bapak pakai ilmu apa? Banyak dokter tidak berhasil… Tapi Bapak bisa…”
Bapak Wiryo tersenyum kecil, ya dibiarkan bergaul dengan anak-anak jahil itu tiap hari,
“Yang menyembuhkan Nopang itu… bukan saya. Tapi Alan dan El. Pahlawan kecil yang tiap hari bikin Nopang tantrum.”
Mereka terdiam.
“Saya hanya ajari satu hal ilmu dari Kiai Haidan: tiga gaya tangis. Tapi itu bukan sekadar gaya. Itu latihan hidup. Anak-anak dengan autisme itu butuh perintah yang konkret dan berulang. Tangis itu saya ubah jadi latihan aktivasi motorik.”
Lalu ia menambahkan sambil menunjuk langit:
“Setiap hari, Nopang tanpa sadar menggerakkan tiga saraf motorik: otot bibir, otot rongga mulut, dan otot laring. Lalu syaraf bagian otak bekerja bersama mengatur suara, arah udara, posisi lidah. Ia mengulangnya… setiap hari.”
“Dan akhirnya… dia percaya pada dirinya sendiri. Itu yang membuatnya bisa berbicara.”
Kini Nopang sudah bisa membaca dan senang belajar menggambar. Ia bilang ingin jadi pelukis. Atau guru. Atau… “ayah yang bisa mengajarkan gaya tangis ke anak-anak lain.”
Aan dan El masih suka mengganggu, tapi kini mereka disebut tim terapi jail oleh para pengasuh.
Dan setiap kali ada anak baru yang tantrum, mereka akan berkata:
“Tenang. Di sini nangis boleh. Tapi ada syarat.”
“Tiga gaya ya… Huaaa… hiii… huhuhu!”
Penutup yang Menggetarkan
Setiap anak memiliki caranya sendiri untuk menemukan cahaya. Bagi Nopang, tangis adalah pintu menuju bicara. Bagi Aan dan El, jail adalah bentuk cinta yang menyembuhkan.
Karena sesungguhnya, kesembuhan bukan selalu hasil dari terapi mahal atau metode medis mutakhir. Tapi bisa juga datang dari kasih, ketekunan, dan kebijaksanaan sederhana… dalam bentuk tiga gaya tangis.
Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak
“Dalam dunia yang mengukur segalanya dengan logika dan angka, kadang cinta dan air mata bisa menjadi bahasa paling ilmiah untuk menyentuh jiwa.”
Oleh: Ki Pekatik







