Budaya  

Budaya Turki Yang Menjaga Martabat Orang Lapar

Budaya Turki Yang Menjaga Martabat Orang Lapar
Budaya Turki Yang Menjaga Martabat Orang Lapar
Budaya Turki Yang Menjaga Martabat Orang Lapar
Budaya Turki Yang Menjaga Martabat Orang Lapar

Budaya Turki yang Menjaga Martabat Orang Lapar – Di tengah hiruk pikuk kota Istanbul yang ramai, atau di gang-gang kecil di kota Bursa, Konya, hingga desa-desa Anatolia yang tenang, ada sebuah tradisi mulia yang telah hidup ratusan tahun di tengah masyarakat Turki.

Sebuah budaya yang tidak riuh, tidak mengundang sorotan media, namun diam-diam menyelamatkan banyak perut yang lapar dengan cara yang terhormat.

Budaya itu di kenal dengan nama:

“Askıda Ekmek” (dibaca: As-khuh-dah Ek-mek)

Artinya secara harfiah: “Roti yang Di gantung”.

Apa Itu Askıda Ekmek?

Secara sederhana, Askıda Ekmek adalah tradisi membeli dua roti saat seseorang membeli untuk dirinya sendiri.

Satu roti di bawa pulang, dan satu lagi “digantungkan” atau di titipkan kepada toko roti untuk diberikan secara cuma-cuma kepada orang yang membutuhkan, siapa pun yang lapar dan tak punya cukup uang.

Tradisi ini sudah ada sejak era Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman). Ia lahir dari pemahaman mendalam bahwa menolong sesama adalah bagian dari iman, dan bahwa memberi bantuan tak harus menyakiti harga diri penerimanya.

Baca Juga:

Bagaimana Praktiknya?

Di toko-toko roti tradisional Turki, papan kecil bertuliskan “Askıda Ekmek Var” (Ada Roti yang Di gantung) biasanya di pasang di depan toko.

Seorang pembeli datang, membeli dua roti:

“Satu untuk saya, satu Askıda.”

Toko mencatat atau menggantung secara simbolik di papan bahwa ada 1, 2, atau 3 roti “di gantung”.

Kemudian, siapa pun yang lapar, bahkan jika ia tak punya satu sen pun, bisa masuk dan berkata:

“Askıdan bir ekmek alabilir miyim?” (Bolehkah saya ambil satu roti dari gantungan?)

Toko akan memberinya roti  tanpa tanya, tanpa syarat, tanpa menilai.

Nilai Kemanusiaan dan Martabat

Tradisi ini bukan sekadar memberi makanan. Ada nilai luhur yang di junjung tinggi dalam Askıda Ekmek:

1.Tidak mempermalukan orang miskin

 Si penerima bisa mengambil roti seperti pembeli biasa. Tak ada perbedaan. Harga dirinya tetap terjaga.

2. Berbagi secara sukarela, bukan instruksi negara

Ini bukan program pemerintah, tapi gerakan budaya, yang di lakukan oleh masyarakat atas dasar kepedulian dan iman.

3. Rasa kebersamaan dan solidaritas sosial

Dalam masyarakat Turki, di yakini bahwa rezeki seseorang harus “mengalir”. Bila kita punya lebih, maka harus ada bagian untuk mereka yang lapar.

Sedekah diam-diam

Budaya ini sejatinya lahir dari ajaran Islam yang kuat dalam kehidupan masyarakat Turki, terutama:

“Tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu.”

— (Hadis riwayat Bukhari-Muslim, tentang sedekah yang ikhlas)

Dan juga perintah al-Qur’an:

وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِينًا وَيَتِيمًۭا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang di sukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.”

(QS. Al-Insan: 8)

Askıda Ekmek adalah bentuk sedekah tersembunyi, tanpa publikasi, tanpa kamera, namun berpahala besar.

Inspirasi untuk Dunia

Tradisi Askıda Ekmek kini menjadi inspirasi banyak negara. Di kota-kota Barat pun muncul gerakan serupa: suspended coffee di Italia, pending meal di Australia, dan sebagainya.

Namun esensi Askıda Ekmek tetap tak tergantikan: memberi dengan kasih, tanpa mengusik harga diri.

Kita Bisa Menjadi Pelaku Kebaikan

Budaya seperti Askıda Ekmek menunjukkan bahwa sebuah bangsa bisa besar bukan hanya karena kekuatan militernya, tapi karena kekuatan kasih sayangnya.

Di tengah dunia yang makin egois, budaya seperti ini mengingatkan kita:

“Jika kamu punya dua roti, berikan yang satu pada saudaramu yang lapar. Karena yang kamu beri itu, sesungguhnya akan kembali padamu dengan bentuk yang lebih indah.”

Mungkin kita tidak tinggal di Turki,

tapi kita bisa membawa semangat Askıda Ekmek

kampung kita,

warung dekat rumah,

ke hati kita yang ingin selalu peduli.

Baca Juga: Upacara Sedekah Laut, Wujud Syukur Nelayan Gesing

Oleh: Ki Pekathik