Payung Dari Hati Mbah Suyati

Payung Dari Hati Mbah Suyati
Payung Dari Hati Mbah Suyati
Payung Dari Hati Mbah Suyati
Payung Dari Hati Mbah Suyati

Payung dari Hati Mbah Suyati – Di sudut Pasar Pakem yang ramai namun tak pernah benar-benar hangat bagi yang terpinggirkan, Mbah Suyati menggelar tikar tuanya. Di atasnya tertata rapi jajanan pasar—klepon, ongol-ongol, pisang aroma hasil kulakan dari Bu Selin di kampung seberang.

Sudah setengah hari berlalu, dan belum satu pun kue berpindah tangan.

Perutnya keroncongan. Sejak pagi buta, tak ada yang mengisi lambungnya kecuali seteguk air sisa semalam. Tapi bagi Mbah Suyati, rasa lapar bukan hal baru. Yang lebih menyesakkan adalah hutang dagangannya yang belum terbayar. Jika hari ini tak laku, esok ia tak bisa lagi berjualan.

Saat langit mendung menggantung rendah, angin membawa aroma hujan. Pasar mulai sepi. Pedagang menutup lapak, dan langit tumpah. Hujan deras mengguyur Pasar Pakem. Orang-orang berlarian mencari perlindungan.

Tiga Anak Kecil Dan Hujan Yang Menggugah Nurani

Di sela hiruk-pikuk itulah, Mbah Suyati melihat tiga sosok kecil berlari menembus derasnya hujan. Mereka berteduh di ujung pelataran pasar, mengigil sambil memeluk lutut. Anak-anak, pikir Mbah.

Tiga anak itu saling berdekapan. Yang tertua bernama El, delapan tahun di sebelahnya ada Nopang, tujuh tahun, dan yang paling kecil, Alan, baru enam. Ketiganya berasal dari panti asuhan di kampung seberang.

Tanpa izin ibu pengasuh, mereka kabur pagi tadi untuk “berpetualang” ke pasar, dengan niat mencari sisa makanan atau sekadar melihat dunia luar yang tak banyak mereka kenal.

Baca Juga:

Kini mereka basah kuyup, lapar, dan ketakutan. Tak ada satu sen pun di kantong mereka.

Tanpa banyak pikir, Mbah Suyati menutup keranjangnya dengan kain, lalu berjalan tertatih membawa tikarnya mendekati anak-anak itu.

“Astaghfirullah… Kalian menggigil begitu,” gumamnya sambil melepaskan syal tipisnya dan melilitkannya ke tubuh si kecil Alan.

“Nek, kami lapar… kami tersesat,” lirih Alan, matanya menatap dengan nanar.

Mbah Suyati duduk di samping mereka, membuka keranjangnya yang belum terjual.

“Ini jajanan nenek. Kalian makanlah. Rezeki Allah itu jalan-Nya aneh. Mungkin hari ini rezekiku memang buat kalian.” Suaranya bergetar, antara iba dan ikhlas. Ia tahu, jika jajanan ini habis, ia tak bisa mengganti modalnya. Tapi bagaimana mungkin ia membiarkan anak-anak sekecil ini kelaparan?

Mereka makan dalam diam, hanya isakan kecil dan ucapan terima kasih yang terdengar di sela hujan. Mbah Suyati mengusap kepala Nopang yang bersandar di lengannya. Di matanya yang keriput, mengambang tangis yang ia tahan.

Pelukan Hangat Dari Panti Asuhan

Satu jam kemudian, seorang ibu pengasuh panti datang tergopoh-gopoh. “YA ALLAH, anak-anak…!” teriaknya sambil memeluk mereka erat, Namanya bu Mugi.

Ia menoleh pada Mbah Suyati, “Terima kasih banyak, Mbah. Saya… saya tak tahu bagaimana membalasnya.”

Tapi Mbah hanya tersenyum samar. “Saya tidak punya anak, Bu. Allah menitipkan mereka ke saya hari ini. Sudah lebih dari cukup.”

Sebelum pulang, anak-anak itu mencium tangan Mbah Suyati satu per satu. Mata mereka sembab, tapi kali ini karena haru. Alan menatap Mbah dan berucap lirih, “Kami sayang Mbah…”

Seminggu berlalu. Tak ada yang berubah dari hidup Mbah Suyati kecuali tumpukan hutangnya. Bu Selin, sang pembuat jajanan, bersikap sabar, tapi tetap membutuhkan bayaran. “Mbah… saya paham niat Mbah nolong. Tapi saya juga butuh makan.”

Di malam itu, Mbah pulang ke gubuk kecilnya. Tak ada nasi, tak ada lauk. Hanya air panas dan setangkup rasa khawatir.

Ia duduk di lantai tanah, memandangi lampu minyak yang redup. Namun dalam keheningan itu, ia tak merasa sendiri. Ia memeluk dirinya sendiri dan berbisik, “Hari itu, aku lihat mata-mata anak yang bersinar lagi. Apa itu bukan sebaik-baiknya rezeki?”

Balasan Dari Langit Lewat Tangan Kecil

Beberapa hari kemudian, satu kejutan tak terduga datang. Anak-anak panti dan ibu pengasuh datang ke pasar dengan membawa kantong plastik berisi beras, minyak, dan bahkan setoples kecil gula kelapa.

“Ini dari anak-anak, Mbah,” ucap ibu itu. “Mereka menabung dari uang saku mereka. Katanya, ‘Buat Mbah yang pernah jadi malaikat waktu kami hilang.’”

Mbah tak bisa berkata apa pun. Tangisnya tumpah. Tangis haru, syukur, dan rasa bahwa ia, seorang tua sebatang kara, ternyata masih berarti untuk dunia.

Malam itu, gubuk kecil Mbah Suyati hangat oleh bubur dari beras pemberian anak-anak. Tapi yang lebih menghangatkan adalah ingatan akan pelukan, tawa kecil, dan ucapan polos: “Kami sayang Mbah.”

Karena kadang, yang paling kaya bukanlah yang punya harta melainkan yang tetap memberi, saat tak punya apa-apa.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Oleh: Ki Pekathik