Rocky Gerung! Kritik Bukan Kebencian Tapi Tanggung Jawab Intelektual

Rocky Gerung! Kritik Bukan Kebencian Tapi Tanggung Jawab Intelektual
Rocky Gerung! Kritik Bukan Kebencian Tapi Tanggung Jawab Intelektual
Rocky Gerung! Kritik Bukan Kebencian Tapi Tanggung Jawab Intelektual
Rocky Gerung! Kritik Bukan Kebencian Tapi Tanggung Jawab Intelektual

Rocky Gerung! Kritik Bukan Kebencian Tapi Tanggung Jawab Intelektual – Rocky Gerung, seorang dosen filsafat dan juga pendaki gunung, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya kritik terhadap kekuasaan. Dalam sebuah video youtube, ia menegaskan bahwa kritik bukanlah bentuk kebencian, melainkan tanggung jawab moral dan intelektual demi menjaga akal sehat bangsa.

“Saya bukan politisi. Saya dosen dan pendaki gunung. Saya memilih terlibat dalam politik karena politik harus di asuh dengan akal sehat,” ujar Rocky. Ia menekankan bahwa kritik yang ia sampaikan tidak ditujukan kepada pribadi Presiden Jokowi sebagai manusia, melainkan kepada jabatan dan kebijakan yang di emban.

Mengkritik Jabatan, Bukan Personal

Rocky mengajak publik untuk memahami perbedaan antara personal dan institusi. Menurutnya, jabatan presiden adalah entitas publik yang boleh di kritik. “Saya menghina jabatan, bukan orangnya. Martabat hanya ada pada manusia, bukan pada kursi kekuasaan,” ucapnya.

Baca Juga:

Di Tempe Ada Kebenaran! Filosofi Akal Sehat Ala Rocky Gerung

Di Tempe Ada Kebenaran! Filosofi Akal Sehat Ala Rocky Gerung https://sabilulhuda.org/di-tempe-ada-kebenaran-filosofi-akal-sehat-ala-rocky-gerung/

Ia bahkan menyindir ketimpangan dalam ruang demokrasi, “Kenapa yang memuji Presiden tidak di marahi, tapi yang mengkritik justru di musuhi? Padahal keduanya adalah hak yang setara dalam demokrasi.”

Pengalaman Hidup

Dalam salah satu ceritanya, Rocky mengisahkan bagaimana ia selamat dari badai di Himalaya berkat kotoran yak yang hangat. Ini menjadi analogi bahwa tidak semua yang kotor itu tidak berguna. Sama seperti kritik, yang sering di anggap kotor atau menjatuhkan, padahal justru bisa menyelamatkan bangsa dari kebijakan yang salah.

Etikabilitas dan Intelektualitas Lebih Penting dari Elektabilitas

Rocky juga menyoroti tentang standar calon pemimpin bangsa. Baginya, penilaian awal seharusnya bukan elektabilitas, melainkan etikabilitas  dan intelektualitas. Elektabilitas bisa di beli, tetapi etika dan pengetahuan tidak bisa.

“Kalau seseorang ingin menjadi pemimpin, pertama-tama dia harus jujur dan beretika. Lalu, apakah dia mampu berpikir dan berdiskusi di panggung dunia? Itu yang penting,” tegasnya.

Kritik Adalah Hak Konstitusional

Rocky mengingatkan bahwa kritik terhadap presiden tidak bisa lagi di pidana karena pasal penghinaan presiden telah di hapus. “Saya tahu karena saya ikut perjuangkan penghapusan pasal itu sejak tahun 1998,” katanya.

Ia menegaskan, dalam demokrasi, jabatan publik bukan bagian dari tubuh personal seseorang. Kritik terhadap jabatan adalah bagian dari kontrol rakyat terhadap kekuasaan.

Rocky Gerung tetap konsisten memilih jalan sebagai kritikus. Ia bukan membenci pemerintah atau presidennya, tapi mengkritisi kebijakan yang menurutnya menyimpang dari akal sehat publik.

“Saya mencintai bangsa ini. Yang saya tidak cintai adalah politisi busuk, pejabat busuk. Bangsa ini abadi, sementara jabatan hanya lima tahun,” pungkasnya.

tonton video lengkapnya: PESAN 10 MENIT ROCKY GERUNG MENGGETARKAN HATI