Terakhir diupdate: 15 Februari 2026
Sabilulhuda, Yogyakarta – Setiap memasuki bulan Syura atau Muharram dalam kalender Islam, suasana di kawasan Makam Raja Imogiri, Bantul, Yogyakarta, terasa berbeda. Ratusan hingga ribuan warga memadati kompleks pemakaman raja-raja Mataram Islam tersebut untuk menyaksikan sebuah ritual sakral yang hanya digelar setahun sekali, yakni tradisi Nguras Gentong.
Tradisi Nguras Gentong bukan hanya sebagai seremoni budaya biasa. Tetapi merupakan warisan budaya Keraton yang sarat makna spiritual, historis, sekaligus sosial. Ritual ini telah berlangsung turun-temurun sejak masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, pendiri sekaligus raja terbesar Kesultanan Mataram Islam pada abad ke-17.
Baca Juga: Makna Dari Tradisi Saparan Bekakak Gamping
Tradisi Nguras Gentong di Makam Raja Imogiri
Pelaksanaan Nguras Gentong biasanya digelar setiap Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon di bulan Syura. Penentuan hari tersebut mengikuti penanggalan Jawa yang masih dipegang teguh oleh pihak keraton.
Dalam prosesi ini, para Abdi Dalem dari Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta berjalan beriringan membawa dua pusaka sakral menggunakan tandu. Pusaka itu hanya dikeluarkan setahun sekali dan digunakan khusus untuk menguras empat gentong peninggalan Sultan Agung.
Keempat gentong tersebut bukan benda biasa. Dahulu, gentong-gentong ini digunakan sebagai tempat air untuk bersuci atau berwudhu bagi Sultan Agung dan para abdi dalem. Menariknya, empat gentong itu merupakan hadiah dari empat kerajaan besar pada masanya.
Yakni Palembang, Aceh, Siam (Thailand), dan Romawi. Fakta ini menunjukkan luasnya jaringan diplomasi dan pengaruh Mataram Islam di masa lalu.
Tak heran jika ritual budaya Yogyakarta ini selalu menyedot perhatian masyarakat. Selain nilai sejarahnya yang tinggi, tradisi ini juga menyimpan keyakinan spiritual yang kuat di tengah masyarakat.
Baca Juga: Tradisi Labuhan Merapi: Warisan Spiritual di Lereng Gunung
Air Gentong Membawa Berkah
Seiring berjalanya waktu, air dalam gentong itu di percaya dapat membawa keberkahan bagi siapa pun yang mengambilnya.
Warga yang datang harus rela mendaki ratusan anak tangga menuju makam hanya demi satu keyakinan yaitu mendapatkan keberkahan dari air gentong dan turut melestarikan budaya leluhur. Selain air gentong, warga juga ikut dalam pembagian nasi kenduri yang di sediakan pihak keraton.
Tak lupa Sepincuk nasi dengan sayuran dan potongan daging ayam menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur bagi masyarakatnya.
Meski ada yang percaya pada nilai spiritual dari air tersebut, sebagian warga lainnya lebih memandangnya sebagai bagian dari pelestarian budaya saja.
“Kita hanya nguri-uri budaya yang sudah lama di lakukan,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Tradisi ini menjadi bukti kuat bahwa budaya keraton tidak hanya sekedar simbol, tetapi juga hidup dalam praktik masyarakat. Nguras Gentong bukan hanya ritual fisik, tetapi juga bentuk penghormatan pada leluhur dan warisan bangsa yang tak ternilai.
Dengan di gelarnya tradisi ini setiap tahun, harapannya generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya asli Nusantara yang kaya makna.
Baca Artikel Berikut ini: Sejarah Peradaban Islam Indonesia













