Cerita 9 Srigala I Rancak Dan Topeng Domba

dongeng anak cerita
Cerita 10: Pesta Dansa Bohongan di Hutan
dongeng anak cerita
Cerita 9 Srigala I Rancak Dan Topeng Domba

Cerita 9 Srigala I Rancak dan Topeng Domba – Di suatu pagi burung Pipit kecil sedang bersiul riang sambil terbang mengelilingi padang rumput. Ia melihat teman-temannya Kambing Momo, Ayam Ruyuk, dan Kelinci Lili sedang bermain petak umpet di dekat bukit bunga. Semua tampak gembira dan damai.

Namun jauh di balik semak yang rimbun, ibu serigala bernama I Rancak sedang mengintip dengan mata liciknya. Sudah lama ia ingin menangkap salah satu dari mereka untuk dijadikan santapan. Maka muncullah ide jahat di kepalanya.

“Hmm… Kalau mereka takut pada serigala… bagaimana kalau aku jadi domba manis saja?” gumamnya sambil menyeringai.

Keesokan harinya, muncul makhluk aneh di padang rumput. Ia berbulu putih, gendut, dan tampak jinak seperti domba. Tapi anehnya, suaranya agak serak dan jalannya miring. Pipit yang sedang mematuk biji bunga melihat si domba baru itu dan merasa ada yang aneh.

“Halo teman-teman! Namaku Domba Cadramawa,” kata makhluk itu dengan suara parau yang ditutupi dengan batuk palsu. “Aku domba pindahan dari Lembah Rawa Pening, ingin berteman dengan kalian semua!”

Kambing Momo langsung melompat girang. “Wah! Akhirnya ada domba juga di sini, selama ini cuma aku yang punya tanduk lucu!”

Ayam Ruyuk berkokok, “Ayo main ke rumahku! Ada jagung rebus hangat!”

Kelinci Lili mendekat sambil tersipu. “Domba Candramawa, kamu lucu sekali!”

Baca Dongeng Berikut:

Tapi Pipit tetap mencurigai suara dan cara bicaranya. Ia mengamati lebih dekat dari atas pohon. “Hmm… Domba mana ada yang suaranya seperti… AUMMM!” pikir Pipit.

Saat malam tiba, mereka mengajak Domba Candramawa menginap di rumah Momo. Tapi Pipit tak bisa tidur. Ia memutuskan terbang mengintai dari jendela.

Dan benar saja!

Begitu semua tertidur, si Domba melepaskan topengnya. Di balik bulu putih itu, muncullah wajah serigala dengan taring tajam—itulah I Rancak!

“Ha-ha-ha! Malam ini aku akan pesta daging kambing!” gumam I Rancak, menjilati bibir.

Pipit terkejut. Ia segera terbang ke sarang Sigung tua bernama Oma Rika, yang punya lonceng besar untuk darurat.

DENG! DENG! DENG!

Semua penghuni hutan terbangun. Momo, Ruyuk, dan Lili pun tersadar dan langsung kabur dari rumah. I Rancak kaget dan tergelincir karena bulu domba palsunya nyangkut di pintu.

Pasukan burung gagak, tikus penjaga, dan Miu si kucing patroli segera datang mengikat si I Rancak yang terjebak jaring perangkap Pipit.

Pipit menatap I Rancak dengan mata tajam. “Suaramu tak bisa bohong. Seekor serigala tetap saja serigala, meski berkostum domba.”

I Rancak meringis. “Huh! Cuma burung kecil, tapi bisa gagalkan rencanaku!”

Ruyuk tersenyum, “Kecil tapi jeli. Hati-hati kalau mau nipu kami!”

Sejak saat itu, hewan-hewan hutan belajar satu hal penting: penampilan bisa menipu, tapi suara hati tak pernah bohong.

Dan Pipit? Ia jadi pahlawan kecil yang selalu dipanggil jika ada yang mencurigakan—karena bukan ukuran tubuh yang membuatmu hebat, tapi ketajaman pikiran dan keberanian hati.

Baca Juga: Buku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Oleh: Izzayumna