
Mahkota Merapi dan Tipu Daya Tupai – Di lereng Hutan Merapi, tersembunyi bunga langka: Anggrek Vanda Treecolour, di juluki warga hutan sebagai Mahkota Merapi Anggrek Pandaan.
Warnanya ungu keperakan, wangi semerbak, dan mekar hanya sekali setiap dua belas purnama, dan hanya tumbuh di lereng Merapi.
Karena sangat berharga, Mahkota Merapi di jaga oleh tiga makhluk terlatih: Si Tupai Cekatan bernama Lintar, Kucing Hitam Cerdik bernama Miu, dan Ayam Jago Gagah bernama Ruyuk.
Mereka bertugas menjaga bunga itu dari incaran pencuri, terutama geng tikus nakal: Tikus Kembar Jijai-Jijek, Tikus Komandan Promik, dan yang paling licik, Raja Tikus Mikiu.
Rencana Gila Pasukan Tikus
Pada suatu malam kabar berembus bahwa Mahkota Merapi mulai mengembang. Wangi harumnya menyebar ke seluruh hutan, termasuk ke sarang geng tikus.
“Wauw! Inilah waktunya kita petik bunga itu!” seru Raja Tikus Mikiu dengan gigi emasnya berkilat-kilat.
Mereka menyusun rencana gila: menyusup lewat akar pohon, mengecoh penjaga, dan membawa bunga dengan kereta tikus. Namun tentu saja, penjaga hutan Merapi bukan makhluk sembarangan.
Malam itu, Ruyuk berdiri gagah di gerbang pagar bambu berduri. Miu melompat dari satu dahan ke dahan lain, mengintai dengan mata menyala. Lintar, si tupai, melesat cepat, membawa lonceng kecil untuk memberi sinyal bahaya.
Baca Juga:

Kantong Semar Dan Penghuni Langit Merapi https://sabilulhuda.org/kantong-semar-dan-penghuni-langit-merapi/
Tiba-tiba…
KREEEEK sret sret sret!
Suara aneh dari arah utara. Ruyuk segera berkokok, “KUKURUYUUUK! ADA PENYUSUP!”
Namun saat mereka tiba di sana, hanya ada… goyangan ranting tertiup angin. Tak ada tikus, tak ada jejak.
Lintar mengernyit. “Ada yang aneh. Terlalu sepi.”
Dan benar saja. Saat penjaga sibuk ke utara… dari arah selatan, para tikus menggali terowongan rahasia!
Promik melambai, “Cepat! Dorong troli bunga!”
Mahkota Merapi sudah dalam jangkauan mereka… tinggal selangkah!
Namun… tiba-tiba…
blooop bul!
PengKhianatan Lintar Si Tupai
Troli meledak jadi semburan bedak gatal dan cabai bubuk!
“ITUUU PERANGKAP!” teriak Jijai-Jijek.
Dari balik pohon, Miu dan Ruyuk melompat. Lintar melayang turun dengan jaring daun berduri. Para tikus kalang kabut!
Namun… saat semuanya beres, dan tikus-tikus berhasil di tangkap, Lintar si tupai malah bertepuk tangan pelan.
“Hehe… terima kasih, sahabat-sahabatku.”
Miu dan Ruyuk menoleh heran.
“Lho, maksudmu apa?”
Lintar tertawa kecil. “Aku sudah bosan jadi penjaga bunga. Aku ingin terkenal. Maka, aku bocorkan rencana malam ini ke mikiu. Dan aku pasang perangkap sendiri supaya aku terlihat sebagai pahlawan!”
BUK!
Ruyuk menjatuhkan jambulnya. Miu mendesis marah.
“Kau pengkhianat, Lintar!”
Lintar tersenyum santai. “Bukan pengkhianat. Aku hanya… mencari sorotan.”
Kebenaran Dari Sang Mahkota Merapi
Tapi tiba-tiba, dari balik semak, muncullah suara berat dan tenang:
“Kalau begitu, kau tak butuh Mahkota Merapi… tapi panggung sandiwara.”
Semua menoleh.
Ternyata Mahkota Merapi adalah makhluk hidup!
Bunga Anggrek itu perlahan membuka kelopaknya dan berubah jadi sosok bidadari tua yang bijaksana.
“Aku bunga yang hidup. Aku memilih penjagaku. Dan yang tamak, akan kutolak.”
Lintar mendadak tak bisa bergerak! Ekor dan tubuhnya mengeras perlahan… menjadi pohon anggrek kecil!
Sementara itu, Ruyuk dan Miu menunduk hormat. Sang Bunga tersenyum lembut.
“Terima kasih, sahabat-sahabat sejati. Penjaga bukan soal siapa yang cepat, tapi siapa yang tulus menjaga.”
Dan sejak malam itu, pohon kecil berbentuk tupai tumbuh di dekat Mahkota Merapi… sebagai peringatan bahwa ketenaran yang di cari lewat pengkhianatan, hanya akan berakhir jadi hiasan yang membisu.
Baca Juga: Buku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud
Pengkhianatan demi ketenaran hanya akan menjadikan tokoh dalam cerita yang memalukan.
Oleh: Izzayumna













