
Kantong Semar dan Penghuni Langit Merapi – Di lereng Gunung Merapi, terhampar lembah kecil yang tersembunyi. Di sana tumbuh ratusan kantong semar, tanaman unik khas Merapi dengan bentuk seperti kantong minum.
Mereka adalah tanaman pemakan serangga!. Namun jangan khawatir, bukan karena jahat, melainkan karena tanah tempat tumbuh mereka miskin unsur hara. Jadi mereka harus sedikit “kreatif” itulah peran yang digariskan Tuhan untuknya.
Salah satu kantong semar yang paling besar dan anggun bernama Semari. Ia terkenal sabar dan bijaksana. Tapi juga sedikit suka menggoda. Semari punya aroma manis seperti madu, dan setiap pagi mengeluarkan uap harum yang bikin lalat, lebah, bahkan kupu-kupu penasaran.
Suatu hari datang seekor lalat Bernama Lati, dengan gaya terbang yang centang-perenang dan suara “zzzzzz” yang bising.
“Aha! Wanginya madu! Wah, ini pasti sarapan gratis!” seru Lati sambil menggosok-gosok kaki depan dengan rakus.
Ia hinggap di pinggiran kantong Semari berseru “Lho, kok dalam banget ya?”. Tapi karena sudah ngiler duluan, Latu pun langsung plop! terjun ke dalam.
“Wuiiiih! Licin! Eh! Eh! Eh! toltoltoltolong! Liciiiin!” Latu panik. Semari hanya terkekeh pelan. “ hehehe ada sarapan pagi nih”
“Lho, kok kamu masuk sendiri? Kamu pikir ini kolam renang?” goda Semari.
“Bukan! Aku kira ini mangkuk madu! Aku… aku cuma mau coba sedikit… ya setoples…” Latu meratap. Sahut semari “Aku hanya akan makan serangga yang serakah saja, satu toples itu seperti habiskan lendirku hingga aku mati”
Baca Juga:

Petualangan 4 Sahabat Mencari Tengsek Sulaiman https://sabilulhuda.org/perjalanan-4-sahabat-mencari-tensek-sulaiman/
“Kumakan kamuya dari pada aku yang mati hehehehe”
Lati merintih memohon” Jangan Semari aku tidak akan ambil lendirmu banyak, maafkan dan lepaskan aku, aku tidak jadi mengambil lender manismu cukup yang sudah terlanjur menempel dikaki dan sayapku”.
Semari dengan bijak menjawab ”Baiklah tidak aku tutup pintu keluar silahkan kamu pergi dari kantongku, kuberi kesempatan beberapa saat, cepatlah pergi sebelum aku berubah pikiran”.
Tak lama kemudian datang Lebah bernama Lesi, si perfeksionis pembersih sarang. Ia sangat rapi dan anti kuman. Melihat lalat kejebak, Lesi langsung melayang turun, bersedekap dengan tatapan menilai.
“Wah, Lati. Lagi-lagi kamu tidak membaca label. Ini kantong semar, bukan kedai sarapan!” kata Lesi sambil menggeleng-gelengkan antenanya.
“Tolongin aku dong! Kamu kan bisa terbang!” seru Lati.
Lesi mengerutkan dahi. “Hmmm. Kamu kan juga bisa terbang, tapi kamu itu lalat, kamu suka makan sampah jangan serakahambnilmakanan yang bukan jatahmu, dan kamu barusan menyentuh lendir lengket. Itu sangat… sangat tidak higienis.”
“Waduuuh… kamu mau ceramahin aku atau nolongin aku?” jerit Lati.
Lesi mendesah. “Baiklah. Tapi hanya karena aku benci melihat sesuatu tidak pada tempatnya.” Ia mengeluarkan seutas benang madu dari kantong perutnya, melemparkannya ke dalam, dan mulai menarik Lati keluar sambil bergumam, “Nanti harus cuci tiga kali ya, ceroboh amat.”
Belum sempat Lati benar-benar naik, muncullah kupu-kupu cantik bernama Kiki, yang bersayap biru-ungu bercorak pelangi. Ia terbang ringan sambil menyanyikan lagu bunga.
“Hei! Ada keributan apa nih?” tanya Kiki ceria.
“Kantong semar jebakan!” teriak Lati.
“Lalat serakah masuk mulut kantong!” timpal Lesi.
“Oh, Semari?” kata Kiki sambil tertawa kecil. “Ia memang suka menggoda, tapi tak pernah jahat. Dia hanya, menjalankan fungsinya, iya to.”
Kiki pun mendekati kantong Semari. “Hai, Kak Semari, boleh aku bantu selamatkan dua makhluk keras kepala ini?”
Semari tersenyum ramah. “Silakan, asal kamu tidak ikut-ikutan loncat.”
Kiki pun mengepakkan sayapnya pelan, menaburkan serbuk dari sayap yang harum dan lembut. Lendir licin di mulut kantong jadi mengering sedikit. Lesi pun berhasil menarik Lati keluar dengan mudah.
“YESSSS! BEBAS!” Latu melompat sambil peluk-peluk Lesi. Tapi Lesi langsung semprotkan semprotan bunga dari sayapnya.
“Jangan peluk-peluk aku, lalat! Kamu belum disterilkan!”
Kiki tertawa geli, sementara Semari mengeluarkan aroma manis lagi.
“Besok pasti ada serangga lain yang masuk lagi,” katanya sambil mengangguk pelan.
“Semari, kamu itu memang tanaman pintar,” kata Kiki.
“Ah, aku hanya diam, dan makananku yang datang padaku,” jawab Semari sok bijak.
Hari itu ditutup dengan tawa dan sedikit pelajaran: bahwa rakus bisa mencelakakan, bersih boleh asal jangan sok suci, dan kebaikan kadang hadir dari makhluk bersayap warna-warni yang datang tanpa pamrih.
Baca Juga: Buku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud
Sejak saat itu, Lati selalu melihat kantong semar dari jauh sambil gemetar. Lesi selalu membawa tisu disinfektan di kantong madu, dan Kiki? Ia tetap cantik, baik hati, dan jadi sahabat semua makhluk lembah Merapi.
Oleh: Izzayumna













