Cerita 5: Pipit Yang Mau Jadi Elang

dongeng anak cerita
Cerita 10: Pesta Dansa Bohongan di Hutan
dongeng anak cerita
Pipit Yang Mau Jadi Elang

Cerita 5 Pipit yang Mau Jadi Elang – Di hutan bukit Plawangan lereng  Merapi yang rindang, hiduplah seekor burung pipit kecil. Ia bertubuh mungil, berbulu coklat, dan bersuara merdu.

Ketika melihat si elang Jawa terbang gagah menukik melayang, cuprit terkagum kagum betapa gagahnya si elang: ia ingin jadi elang.

“Lihatlah mereka,” desah Pipit sambil menatap langit. “Elang gagah, terbang tinggi, semua burung segan. Sedangkan aku? Hanya burung kecil yang cuma bisa nyicit!”

Teman-temannya si bebek Weki, ayam Ruyuk, dan kucing Miu—selalu menyemangati Pipit.

“Kamu lucu dan pintar, bisa terbang bisa melompat lompat lincah di tanah. Hinggap di daun padi dan rumput, sedang elang lamban di tanah, tidak bisa hinggap di bulir padi di sawah!” seru Weki.

“Kamu bisa menyanyi indah,” ujar Ruyuk.

“Dan kamu cepat terbang!” tambah Miu.

Tapi Pipit tetap ingin lebih.

Suatu hari, ia mendengar kabar dari burung gagak tua, Tuwik, tentang sebuah ramuan ajaib di atas Merbabu, yang konon bisa mengubah burung kecil menjadi elang.

“Beneran bisa?” tanya Pipit, matanya berbinar.

Baca Dongeng Anak Berikut:

dongeng anak cerita

Dongeng anak pengantar tidur cerita 4 Weki Bebek yang Tak Bisa Berhenti Ngik Ngok https://sabilulhuda.org/weki-bebek-yang-tak-bisa-berhenti-ngik-ngok/

Petualangan Pipit Mencari Jati Diri

“Konon, ramuan itu di buat dari madu petir dan bulu naga. Tapi ingat, jalan ke sana… sangat berbahaya.”

Namun Pipit sudah bulat tekad. “Aku akan ke sana!”

Maka di mulailah petualangan Pipit. Ia melewati rawa berbau keju basi, hampir di sambar ular Branang, dan di kejar pasukan tikus Promik yang ingin mencuri bekalnya.

Tapi Pipit pantang mundur. Ia akhirnya tiba di puncak Merbabu, menemukan gua tua, dan bertemu seekor burung hantu berjanggut panjang.

“Apa kau penjaga ramuan ajaib?” tanya Pipit.

“Aku adalah penjaga semua keinginan bodoh,” jawab burung hantu sambil mengelus jenggotnya.

Pipit terkejut. “Maksudmu?”

“Kau ingin jadi elang. Tapi pernahkah kau bertanya, mengapa Tuhan menciptakanmu sebagai pipit?”

Pipit tercekat. Ia menunduk.

“Minumlah ramuan ini,” ujar burung hantu, memberinya botol kecil bercahaya biru. “Tapi ingat, bukan tubuhmu yang akan berubah, tapi hatimu.”

Pipit minum. Tidak ada sayap elang yang tumbuh. Ia tetap kecil, tetap coklat, tetap Pipit. Tapi… ada yang berbeda.

Saat ia pulang, ia mendengar jeritan. Di bawah lembah, Weki terperosok ke jurang! Pipit tanpa ragu menyambar tali dari tasnya dan terbang menukik. Dengan kelincahan dan kecepatan luar biasa, ia mengikatkan tali ke paruh dan sayap Weki. Dengan teknik yang hanya pipit mungil bisa lakukan, ia menyelamatkan sahabatnya.

“Wah, kamu seperti elang!” seru Ruyuk.

Pipit tersenyum. “Bukan. Aku hanya pipit… tapi aku belajar menjadi diriku sendiri.”

Baca Juga: Buku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud

Ramuan yang di minum Pipit bukan ramuan ajaib yang mengubah tubuh, melainkan pengubah cara pandang. Ia tetap pipit, tapi kini merasa cukup dan bangga menjadi dirinya sendiri. Justru karena tubuhnya kecil dan cepat, ia bisa melakukan sesuatu yang elang besar tidak bisa: menyelamatkan sahabat dengan cara yang unik.

Oleh: Izzayumna