adat  

Misteri Dan Makna Malam Satu Suro

Misteri Dan Makna Malam Satu Suro
Misteri Dan Makna Malam Satu Suro

Terakhir diupdate: 15 Februari 2026

Sabilulhuda, Yogyakarta – Pernahkah kamu merasakan ketika malam yang begitu sunyi, tetapi malah merasakan sesuatu yang berbeda? Begitulah kira-kira suasana saat malam Satu Suro. Malam pertama bulan Suro dalam kalender Jawa yang bersamaan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah.

Malam ini bukan sekedar pergantian tanggal, tetapi sebuah pintu spiritual yang mengajak kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan menyelami kembali jati diri kita.

Sejarah tentang malam satu suro

Menurut catatan sejarah, malam Satu Suro di tetapkan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram Islam yang memerintah dari 1613 – 1645.

Dalam penetapan satu suro,beliau memadukan kalender Saka dengan Hijriyah menjadi kalender Jawa, untuk mempersatukan rakyatnya untuk menggempur belanda di Batavia.

Dari penggabungan itu, maka tanggal 1 Suro pun lahir bertepatan dengan 1 Muharram, kemudian menjadi momen sakral yang mengikat pada tradisi Jawa dan nilai-nilai agama Islam.

Uniknya, kata “Suro” sendiri berasal dari “Asyura” (dari bahasa Arab yang artinya “sepuluh”), yang merujuk pada tanggal 10 Muharram saat cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali wafat.

Tetapi di Jawa, maknanya meluas, bulan Suro di anggap sebagai waktu “eling lan waspada” (ingat dan waspada), di mana manusia di ajak untuk introspeksi diri dan mendekatkan pada Sang Pencipta.

Baca Artikel Berikut:

Hikmah Ajaraan Jawa “SASTRA JENDRA” episode 4

Pelajaran dari peradaban Jawa “Sastra Jendra” (episode 5) https://sabilulhuda.org/pelajaran-dari-peradaban-jawa-sastra-jendra-episode-5/

Adat dan kebiasaan saat malam satu suro

Setiap daerah di Jawa punya caranya sendiri dalam merayakan Malam Satu Suro, tetapi semuanya sarat dengan makna:

Tapa Bisu dan Mubeng Beteng (Yogyakarta).

Warga khususnya jogja akan berjalan mengelilingi benteng Keraton Yogya tanpa alas kaki. Ini adalah metafora perjalanan batin—menelusuri lorong waktu sambil merenung: “Apa yang sudah kulakukan setahun ini?”

Kirab Kebo Bule (Solo).

Berbeda dengan jogja, di kota solo terdapat Kerbau albino keturunan Kyai Slamet, kemudian di arak mengelilingi kota. Konon, kotorannya di percaya dapat membawa berkah. Ritual ini mengingatkan kita tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.

Jamasan Pusaka.

Keris, gamelan, dan benda pusaka lain akan di mandikan dengan air yang di campur dengan bunga. Memandikan pusaka ini Bukan hanya membersihkan fisiknya saja, tetapi juga menyucikan dari nilai sejarah dan warisan budaya.

Bubur Suro

Adalah Bubur putih biasanya terbuat dari beras kemudian di campur dengan tujuh jenis kacang. Yang  melambangkan tujuh hari dalam seminggu. Kemudian dari setiap suapan adalah doa agar rezeki tidak pernah putus sepanjang tahun.

Dengan demikian, malam Satu Suro mengajarkan kita bahwa seiring dengan kemajuan zaman, ada ruang sunyi untuk bercermin. Ia seperti lentera tua yang tetap menyala, mengingatkan kita untuk “mulai lagi, tapi dengan lebih bijak”.

Seperti kata orang Jawa: “Sing penting eling, ora keling.” (Yang penting ingat, jangan sampai lupa).

Selamat tahun baru Jawa. Semoga tahun ini membawa lebih banyak cahaya untuk kita semua.

Baca Juga: Tradisi Suro Wujud Implementasi Kerukunan