
Akar sejarah:
Pelajaran dari peradaban Jawa “Sastra Jendra” – Sastra Jendra merupakan kata bentukan dari kata sastra, yang berarti “tulis”,”ilmu”, atau pengetahuan. Dan dari kata jendra yang terdiri atas ja dan indra yang berarti “raja” dan “indra” .
Berdasarkan etimologis, Sastra Jendra berarti ilmu pengetahuan Dewa Indra bisa juga di maknai ilmu pengetahuan raja. Kata lain dari raja aadalah nata yang berasal dari kata ni dalam Bahasa sanskerta yang artinya memimpin (MacDonall, 1979,211).
Indra atau nata bermakna orang yang berkedudukan memimpin orang banyak , raja atau nata adalah orang yang berkedudukan tinggi yang memimpin suatu Kerajaan.
Untuk menjadi pemimpin Jawa seseorang harus menguasai ajaran Sastra Jendra yang di dalamnya terkandung sifat dan watak seorang pemimpin sejati. Kata pemimpin di sini dalam pengertian yang luas setidaknya bermanfaat juga untuk memimpin diri sendiri(sri teddy, 2024,19).
1. Asal Usul Mistis – Ajaran Wahyu Leluhur
Ajaran Sastra Jendra tidak memiliki tanggal kelahiran seperti doktrin modern, karena ia lebih di kenal sebagai bagian dari wahyu leluhur yang di turunkan secara lisan dan batin dari generasi ke generasi.
Dalam kepercayaan Jawa, ajaran ini berasal dari Zaman Purwa masa ketika manusia hidup selaras dengan alam dan batin masih dekat dengan yang Ilahi.
Menurut tradisi, ajaran ini pertama kali di sebut dalam wayang purwa dan suluk-suluk kerohanian. Serta disebut sebagai ilmu yang hanya dapat di miliki oleh mereka yang sudah “lebur hawa nepsu”-nya. Dan siap menerima “ilmu sangkan paraning dumadi” (asal-mula dan tujuan hidup).
Dalam pandangan sakralitas kehidupan Masyarakat Jawa (kejawen) Sastra Jendra di percaya sebagai sarana untuk mencapai ketentraman dan ketenangan hidup.
Sastra Jendra memberikan nuansa kebatinan Jawa untuk menjalani kehidupan dengan tenang, aman, tentram, indah dan penuh makna. Beberapa konsep pemikiran yang terkandung didalamnya antara lain:
Sangkaning ngaurip atau asal mula kehidupan, paraning ngaurip atau tujuan kehidupan, wasananing ngaurip atau akhir kehidupan, manunggaling kawula Gusti atau kesatuan hamba dengan Tuhan, memayu hayuning bawana atau mempercantik kehidupan dunia, dan sebagainya.
Pemikiran tersebut bertujuan untuk kesempurnaan hidup, keluhuran budi dan keselamatan dunia dan akhirat (sri teddy, 2024, 20).
Semua pemikiran tersebut bersumber pada kearifan lokal yang telah lama dijalani para leluhur dan diturunkan melalui tuturan serta perilaku dalam hidup kata arif mengandung pengertian kejernihan batin dan piker dalam menghadapi persoalan hidup.
Dengan prinsip neng atau eneng (mengendap), ening atau hening (diam sepi) kebijaksanaan akan diperoleh dalam mengambil sikap dan Keputusan yang disebut wicaksana limpading budi. Orang yang sudah memiliki sifat seperti ini akan selalu bersikap adil pra marta, dan tidak bersikappilih kasih (sri teddy, 2024, 21).
Teori tidak penting bagi tujuan hidup orang jawa pada dirinya, yang lebih penting adalah situasi orang Jawa dalam menjalani praktek kehidupan yang bermakna (Magnis-Suseno, 2003:120 -121).
Baca Juga:

Pelajaran dari peradaban Jawa “Sastra Jendra” episode 4 https://sabilulhuda.org/hikmah-ajaraan-jawa-sastra-jendra-episode-4/
2. Perkembangan dalam karya Sastra Jawa
Dalam sejarahnya yang lebih “berwujud”, ajaran Sastra Jendra mulai dikenal luas di lingkungan keraton Jawa, terutama pada masa Mataram Islam, antara abad ke-16 hingga ke-18.
Di sinilah para raja dan pujangga, seperti Sultan Agung, Sunan Kalijaga, Ki Ageng Suryomentaram, dan para empu keraton lainnya, mulai menerjemahkan ajaran spiritual luhur ke dalam simbol budaya: tembang, wayang, gamelan, dan arsitektur.
Sastra Jendra dianggap sebagai bagian dari “ilmu kawicaksananing ratu”, yaitu ajaran yang harus dipahami oleh pemimpin agar bisa memerintah dengan bijaksana dan suci.
Namun ilmu ini tidak dicatat secara vulgar, melainkan disamarkan dalam tembang macapat, suluk, serat, atau lakon wayang yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang telah “eling lan waspada”.
Dalam karya sastra ajaran sastra jendra ditulis secara lengkap sebagai Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.
Dapat dimaknai sebagai “ ilmu ketuhanan yang berisi usahas untuk menyelamatkan dunia, khususnya Upaya melepaskan diri dari sifat-sifat raksasa/angkara murka (Pradipta,2009:2).
Ajaran satra jendra juga dapat dijumpai dalam Kalangwan (Zoetmulder, 1983:96-101). Zoetmulder menerangkan dalam ikhtisar ini tentang tokoh Dasamuka dan saudaranya, dalam merebut kembali Kerajaan Alengka dari tangan para dewa.
Dasamuka dan saudara-saudaranya melakukan tapa brata sehingga dewa Brahma memberikan anugerah kepada para putra Wisrama.
Dalam kisah Serat Arjunasasrabahu atau serat Lokapala tulisan Sindusastra, menceritakan Dasamuka dari lahir sampai berhasil menjadi raja Alengka.
Sastra Jendra tidak dikemukakan secara terang, tetapi menjadi salah satu syarat Begawan Wisrama meminang Sukesi ibu dari Dasamuka, penjelasan Kapustakan Djawa (Poerbatjaraka 1958:143-144).
Silsilah Purwa Mawa Carita yang ditulis Padmosoekotjo menyebut keberadaan Dasamuka bersaudara melakukan pertapaan di Gunung Gohkarno(1981:27-430 untuk memperoleh kesaktian.
Agus Sunyoto juga menulis buku dalambentuk novel berjudul Rahvana Tattwa, mengupas secara jelas sebagai Sashtra Jinendra Vijnana yaitu ilmu rahasia para dewa. Inti ajarannya adalah proses penyingkapan kesadaran dari keberadaan manusia sebagai pancaran sejati dari ilahi.
Penguasaan ilmu rahasia langit ini menjadi jalan untuk manusia bisa berkomunikasi secara langsung dengan Tuhan. Tanpa melalui perantara para dewa yang menyebabkan kemurkaan dewa dan memberikan hukuman pada Wisrama dan sukesi.
Hingga melahirkan anak-anak yang berbeda dengan anak manusia biasa. Anak wisrama yaitu Dasamuka, Kombakarna, sarpakenaka dan Wibisana, adalah anak yang hebat luar biasa. Sejak kecil sudah di didik dengan ajaran sastra jendra hingga tuntas.
Demikian pula Sri Teddy menjelaskan secara epic dalam karyanya. Novel modern yang indah mengalir, dan mudah dihayati dalam judul Rahwana Putih: Sang Kegelapan Pemeram Cinta yang ditulis oleh SriTeddy Rusdi (2013).
Ilmu rahasia langit kekeraning para dewa tidak seharusnya diajarkan pada sembarang manusia, tetapi Begawan Wisrawa telah tuntas dalam penguasaan ilmu itu. Dengan penuh tanggung jawab mengajarkan kepada Sukesi putri raja Alengka dan telah purna diwejangkan kepada Sukesi.
Demikian kata sastra jendra yang terkenal sebagai Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Disebutkan pertama kali dalam Serat Arjuna Sasrabahu yang di gubah oleh Ngabehi Sindu Sastra. Pujangga dari Surakarta yang hidup sezaman dengan Yasadipura I dan Yasadipura II.
Termaktub dalam pupuh Sinom sebagai berikut:
“Sastra Jendra Hayuningrat, Pangruwating Barang Sakalir,
Kapungkur sagung rarasan, ing kawruh tan wonten malih, wus kawengku sastradi,”
Sastra Jendra Hayuningrat, ilmu agung demi keselamatan jagat,
merupakan pengetahuan tertinggi yang dahulu pernah dibicarakan,
dan kini tak ada tandingannya lagi, telah terangkum dalam Sastra ini.
“Pungkas-pungkasing kawruh, ditya diyu raksasa, myang sato sining wanadri,
lamun weruh artine kang Sastra Jendra.”
Inilah puncak segala pengetahuan, bahkan raksasa, makhluk halus,
dan segala hewan buas pun akan menjadi jinak,
jika memahami makna sejati dari Sastra Jendra ini.
“Rinuwat dening Bathara, sampurna patinireki,
atmane wor lan manusa, manusa kang wus linuwih,
yen manusa udani, wor lan dewa patinipun, jawata kang minulya,”
Telah disucikan oleh para Dewa, sempurnalah ajaran ini.
Roh manusia dan makhluk halus pun akan tersucikan.
Manusia yang telah mencapai kesempurnaan,
akan melampaui roh dan dewa, menyatu dengan hakikat ketuhanan yang mulia.
“Mangkana Prabu Sumali, duk miyarsa tyasira andhandhang satra.”
Maka Prabu Sumali pun, setelah mendengarnya,
hatinya tergetar, dan ia pun sangat mendambakan ilmu suci ini.
Makna dari petikan ini secara keseluruhan menggambarkan bahwa Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah puncak ilmu spiritual yang sangat sakral.
Ia mampu menyucikan manusia, menjinakkan nafsu dan kekuatan gelap, dan menyempurnakan jiwa menuju kesatuan ilahi. Bahkan para raja dan makhluk adikodrati pun tunduk dan hormat kepada ilmu ini.
Makna simbolik “Sastra Jendra Hayuningrat, Pangruwating Barang Sakalir”:
• Sastra Jendra adalah ilmu agung, bukan hanya teks atau sastra biasa, tapi “pengetahuan suci” yang berasal dari asal-mula kehidupan.
• Hayuningrat berarti “keindahan dan keselamatan jagat” — baik dunia lahir maupun batin.
• Pangruwating Barang Sakalir berarti “pembersih segala sesuatu” — yaitu kekuatan ajaran ini yang mampu meruwat atau membebaskan semua makhluk dari kesengsaraan dan dosa.
Mengandung makna:
Ilmu ini bukan hanya teori, tapi daya spiritual yang bisa menyembuhkan luka batin, mengubah jiwa, dan menyatukan manusia dengan asal ilahinya.
Makna simbolik “Kapungkur sagung rarasan, ing kawruh tan wonten malih, wus kawengku sastradi”
• Kapungkur sagung rarasan berarti dulu semua orang membicarakan ilmu ini,
• ing kawruh tan wonten malih artinya sekarang tidak ada lagi ilmu yang sebanding,
• wus kawengku sastradi menunjukkan bahwa semua kebijaksanaan itu kini terkandung dalam satu ajaran: Sastra Jendra.
Mengandung makna:
Ini menyiratkan bahwa ajaran ini telah dilupakan atau tersembunyi, namun ia tetap menyimpan inti semua kebijaksanaan lama baik dari dewa, leluhur, maupun bumi.
• Weruh artine Sastra Jendra berarti “memahami maknanya” bukan sekadar membaca, tapi menghayati secara rohaniah.
Mengandung makna:
Siapa pun yang menyelami ajaran ini akan menundukkan nafsu dan kegelapan batin. Ia akan menjadi damai dan tercerahkan.
Makna simbolik “Pungkas-pungkasing kawruh, ditya diyu raksasa, myang sato sining wanadri, lamun weruh artine kang Sastra Jendra.”:
• Ditya diyu raksasa adalah lambang hawa nafsu, amarah, ketamakan, kekuatan kegelapan.
Sato sining wanadri adalah simbol naluri kekuatan liar dalam diri akan menjadi sahabat.
Mengandung Makna: Siapa pun yang menyelami ajaran ini akan menundukkan nafsu dan kegelapan batin. Ia akan menjadi damai dan tercerahkan. Bahkan kekuatan liar dalam diri akan menjadi sahabat.
Makna simbolik “Rinuwat dening Bathara, sampurna patinireki, atmane wor lan manusa, manusa kang wus linuwih”:
• Rinuwat dening Bathara = disucikan oleh para dewa → ini artinya bahwa ajaran ini berasal dari dimensi ilahiah, bukan buatan manusia biasa.
• Atmane wor lan manusa = roh halus dan manusia disucikan oleh ajaran ini.
• Manusa kang wus linuwih = manusia yang telah unggul secara batiniah, yang telah selesai dengan dunia materi.
Mengandung makna:
Ilmu ini adalah jalan penyucian. Bukan hanya tubuh, tapi roh kita dibersihkan. Yang sungguh menghayatinya, akan melampaui batas manusia biasa.
Makna simbolik “Yen manusa udani, wor lan dewa patinipun, jawata kang minulya”:
• Manusa udani = manusia yang sadar, tercerahkan, bangkit rohaninya.
• Wor lan dewa patinipun = bahkan makhluk halus dan dewa pun kalah dalam kemuliaan dibanding manusia yang sadar sejati.
• Jawata kang minulya = ia menyatu dengan sifat ketuhanan yang mulia.
Mengandung makna:
Manusia yang benar-benar eling lan waspada, yang menyatu dengan ilmu Sastra Jendra, tidak hanya menjadi suci tapi mencapai tingkatan ketuhanan: ia menjadi perwujudan kasih Tuhan di dunia.
Makna simbolik “Mangkana Prabu Sumali, duk miyarsa tyasira andhandhang satra.”:
• Prabu Sumali adalah raja raksasa yang dalam kisah wayang merupakan kakek Rahwana — mewakili sosok duniawi, penuh kekuasaan dan ambisi.
• Miyarsa tyasira andhandhang satra = saat mendengar ajaran ini, hatinya tergetar, ingin memiliki ilmu ini.
Baca Juga: Wayang ‘Lalu Nasip’ dalam Bingkai Moderasi Beragama
Mengandung makna:
Bahkan mereka yang penuh kekuasaan dan kesesatan pun, jika mendengar ajaran sejati, bisa tersentuh. Inilah daya pancar dari ilmu suci: membangkitkan kerinduan jiwa siapa pun untuk pulang pada cahaya Tuhan
Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu bukan sekadar filsafat atau sastra kuno, tetapi ilmu kesempurnaan jiwa, yang menyatukan manusia dengan asal ilahi.
Ia membersihkan, menyembuhkan, dan menuntun manusia melewati kegelapan batin menuju cahaya sejati.
Ajaran ini bisa dihayati dalam bentuk laku batin, seperti:
• Eling lan waspada (kesadaran dan kewaspadaan)
• Sabar, ikhlas, dan mawas diri
• Rasa syukur dan rendah hati
• Penghayatan atas kasih dan kebijaksanaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. (bersambung).
Oleh: Ki Pekathik





