Terakhir diupdate: 15 Februari 2026
Sabilulhuda, Yogyakarta – Setiap manusia terlahir ke dunia melalui perantara kedua orang tua. Mereka adalah sosok pertama yang hadir dalam hidup kita, yang mengorbankan tenaga, waktu, bahkan perasaan demi memastikan anaknya tumbuh dan bertahan.
Ada orang tua yang masih membersamai kita hingga hari ini, ada pula yang telah lebih dulu berpulang. Namun terdapat satu hal yang tak pernah berubah, yaitu jasa mereka tidak akan pernah terbalaskan.
Dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua bukan hanya sebagai nilai moral, tetapi sebuah perintah langsung dari Allah SWT. Islam menempatkan bakti kepada orang tua pada posisi yang sangat mulia, bahkan berdampingan dengan perintah mentauhidkan Allah.
Konsep ini dikenal dengan istilah birrul walidain, yakni segala bentuk kebaikan, penghormatan, dan kasih sayang kepada ayah dan ibu.
Baca Juga: Masih Bisa Berbakti! 7 Amalan Terbaik untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal
Makna Birrul Walidain dalam Kehidupan Sehari-hari
Secara sederhana, birrul walidain berarti berbuat baik kepada kedua orang tua, baik melalui ucapan, sikap, maupun perbuatan dalam keseharianya. Bentuknya tidak selalu harus materi.
Terkadang, sikap lembut, mendengar keluh kesah mereka, atau hanya sekedar hadir saat dibutuhkan sudah menjadi amal yang sangat besar nilainya.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 24:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.”
Ayat ini menegaskan bahwa kerendahan hati di hadapan orang tua adalah bagian dari keimanan.
Ulama dari generasi tabi’in, Urwah bin Zubair, menekankan bahwa seorang anak hendaknya selalu menaati orang tuanya selama tidak bertentangan dengan syariat. Jangan sampai ada sikap atau keputusan kita yang menyakiti hati mereka, walaupun hanya sedikit.
Baca Juga: Amalan Anak Shalih Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal
Prinsip Dasar, Jangan Menyakiti Hati Orang Tua
Ada satu kalimat yang sangat dalam maknanya:
“Kalau tidak mampu membuat orang tua bahagia, maka jangan sekali-kali membuat mereka sedih, marah, atau susah.”
Inilah pokok utama dari bakti kepada orang tua. Banyak orang merasa sudah berbakti karena memberi nafkah, padahal sikap dan ucapannya justru melukai perasaan ayah dan ibu. Padahal, luka batin orang tua sering kali lebih berat daripada kekurangan materi.
Dalam praktik kehidupan, Islam mengajarkan agar orang tua didahulukan dalam banyak hal. Utamakan kebutuhan mereka sebelum kebutuhan pribadi. Dahulukan kebahagiaan mereka sebelum kebahagiaan keluarga kecil kita.
Bukan berarti menelantarkan anak dan istri, tetapi menempatkan orang tua pada posisi terhormat sebagaimana mestinya.
Baca Juga: Bolehkah Anak Berselisih Dengan Orang Tua?
Fenomena Terbalik, Takut Istri, Lalai pada Orang Tua
Masyarakat sekarang ini tidak sedikit yang justru terjebak pada kondisi sebaliknya. Ada yang lebih takut kepada pasangan daripada kepada orang tuanya sendiri. Setiap keputusan selalu berpihak pada istri atau suami, sementara orang tua di nomorduakan. Dalam Islam, sikap seperti ini patut diwaspadai karena bisa menjadi pintu durhaka kepada orang tua.
Durhaka bukan hanya dengan membentak atau meninggalkan mereka. Mendahulukan kepentingan lain hingga mengabaikan orang tua, membuat mereka sedih, atau merasa tidak dihargai, juga termasuk bentuk kedurhakaan. Na’udzubillahi min dzalik, semoga kita dijauhkan dari sikap tersebut.
Baca Juga: Birrul Walidain: Kisah Bakti Uwais Alqarni kepada Ibunya
Kisah Teladan Tiga Orang dalam Gua
Salah satu kisah yang paling menyentuh tentang keutamaan berbakti kepada orang tua adalah cerita tiga orang yang terjebak dalam sebuah gua. Batu besar menutup pintu gua dan mereka tidak mampu keluar. Masing-masing bertawassul dengan amal terbaik yang pernah mereka lakukan.
Salah satu dari mereka berdoa dengan menyebut amal baktinya kepada kedua orang tua. Ia menceritakan bagaimana ia selalu mendahulukan ayah dan ibunya dalam memberi minum susu, bahkan rela menahan lapar anak-anaknya hingga orang tuanya bangun dan minum terlebih dahulu.
Ia berdiri semalaman, tidak membangunkan orang tuanya, dan tidak pula memberi susu kepada anak-anaknya sebelum kedua orang tuanya meminumnya.
Ia berdoa, “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan ini semata-mata mengharap ridha-Mu, maka bukakanlah celah batu ini.”
Dengan izin Allah, batu itu pun bergeser. Kisah ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua adalah sebab datangnya pertolongan Allah dan jalan menuju ridha Allah.
Baca Juga: “Wahai Anak! Angkat Derajat Orang Tuamu Di Surga Dengan Istighfar”
Relevansi Birrul Walidain di Zaman Modern
Di era modern seperti sekarang ini, tantangan berbakti kepada orang tua justru semakin besar. Kesibukan kerja, tuntutan ekonomi, dan dinamika rumah tangga sering dijadikan sebagai alasan untuk mengabaikan mereka.
Berbakti kepada orang tua tidak selalu harus dilakukan dengan waktu yang lama. Telepon singkat untuk menanyakan kabar, kunjungan rutin meski sebentar, atau perhatian yang tulus sudah sangat berarti dan bisa membuat hati mereka bahagia.
Dilansir dari situs Muslim.or.id, berbakti kepada orang tua termasuk amal yang pahalanya terus mengalir dan menjadi sebab dilapangkannya rezeki serta dipanjangkan umur. Ini menegaskan bahwa birrul walidain bukan hanya kewajiban, tetapi juga investasi akhirat.
Baca Juga: Bacaan Doa Kepada Kedua Orang Tua Arti Dan keutamaannya
Jalan Sunyi yang Penuh Cahaya
Berbakti kepada orang tua adalah jalan sunyi yang penuh cahaya. Mungkin tidak selalu dipuji manusia, tetapi sangat mulia di sisi Allah. Selama orang tua masih hidup, jangan tunda untuk berbuat baik. Dan ketika mereka telah tiada, doa dari seorang anak saleh menjadi hadiah terbaik yang tak akan pernah terputus.
Semoga kita semua dimampukan untuk menjadi anak yang berbakti, dijauhkan dari sifat durhaka kepada orang tua, dan digolongkan sebagai hamba yang mendapat ridha Allah melalui amal birrul walidain.
Baca Juga: Birrul Walidain: Kisah Kilab Bin Umaiyah Bin ‘Askar













