Kepada Seorang Musafir

Suatu hari, seorang musafir menemui Rasulullah di sebuah masjid. Musafir itu meminta belas kasih Rasulullah karena bekal makanan dan seluruh hartanya telah habis. Namun, saat itu Rasulullah tidak memiliki makanan dan barang-barang yang bisa diberikan kepada si musafir.

Nabi Muhammad kemudian menyuruhnya untuk pergi ke rumahnya dengan maksud menemui Fatimah. “Pergilah ke tempat yang dicintai Allah dan Rasulnya. Dia lebih mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri, itu lah Fatimah, putriku.” Si musafir pun menemui Fatimah.

Sayangnya, Fatimah saat itu tidak memiliki makanan dan uang untuk diberikan kepada si musafir. Fatimah Az Zahra kemudian ingat ia memiliki kalung hadiah pernikahan dari sang suami. Dengan ikhlas, Fatimah menyedekahkan kalung tersebut.

Setelah menerima kalung dari Fatimah, musafir tersebut menemui Rasulullah dan menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Rasulullah pun sangat bangga kepada Fatimah.

Saat itu, salah satu sahabat Nabi, Amar bin Yassir turut mendengar cerita si musafir. Tanpa ragu, ia membeli kalung tersebut seharga 20 dinar ditambah sebuah pakaian dan seekor unta.

Alih-alih menyimpannya, Amar malah mengutus budaknya, Asham, untuk memberikan kalung tersebut kepada Fatimah. Ammar berkata, “Pergilah engkau menghadap Rasulullah dan katakan aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetapi budak Rasulullah.”

Fatimah sangat bahagia ketika menerima kalungnya kembali. Meski Amar telah berpesan bahwa Asham akan menjadi budak Rasulullah, Fatimah malah membebaskannya sebagai manusia merdeka.***

(Bayu)