Bila suatu saat Allah mengizinkanku untuk menikah, aku ingin menikah dengan seseorang yang bisa mendekatkanku dengan Rabbku. Aku ingin menikah dengan dia yang mencintai Rabbku dan Rabbnya dengan amat dalam.
Aku ingin menikah dengan dia yang menjadikan Rasul Shalallahu alaihi wa sallam sebagai satu-satunya panutan utamanya dalam menjalani kehidupan.
Aku ingin menikah dengan dia yang telah tertancap sangat dalam ketauhidan dalam hatinya. Yang kokoh dan tidak goyah Agama dan Manhaj nya.
Bila aku menikah nanti, aku ingin merajut mahligai rumah tangga dengannya yang Akhlaknya menawan, dihiasi dengan kebijaksanaan. Dia yang bisa mengingatkanku tentang hakikat kita diciptakan, dan yang mengingatkanku untuk tidak mencintainya dengan berlebihan. Karena cinta yang seutuhnya hanya dipersembahkan khusus untuk cinta Allah dan Rasul-Nya.
Aku ingin menikah denganya yang bisa membimbingku untuk menjadi istri shalihah dan bisa menyadarkanku tentang kehinaan dan kefanaan dunia, sehingga aku bisa menjadi istri yang qana’ah.
Aku ingin menikah denganya yang baik tutur katanya. Apa yang keluar dari lisanya adalah kalimat-kalimat bertabur hikmah yang suatu saat akan menegur dan menasehatiku dengan lembut ketika aku berbuat kesalahan.
Aku ingin suatu saat nanti menikah dengan seseorang yang mengerti kerapuhanku sebagai seorang wanita. Dan intinya, aku ingin menikah dengan seseorang yang telah Allah pilihkan untukku dan Insyaa Allah itulah yang terbaik dan aku ingin kelak aku mati di bawah keridhaan suamiku setelah keridhaan Allah.
“Dan bersabar lah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun dan berdiri.”(At-Thur : 48).***
(Yuni)











