Belajar dari Tukang Ketoprak

Suatu malam ada seorang pegawai kantor yang baru saja pulang kerja.

“Pulang kantor, mampir dulu beli titipan mama. Kali ini dititipin ketoprak. “ Cakap pegawai tersebut sambil mencari tukang ketoprak .

Akhirnya ketemu gerobak ketoprak setelah mencari kemana-mana . “Kok ini gerobaknya kosong ngak ada penjualnya yang jaga.” Batin pegawai tersebut.

“Pak, ini tukangnya mana Pak? ” tanyanya ke penjual cucur di sebelahnya. “Oh, lagi sholat maghrib Pak. Sudah dari tadi, bentar lagi kayaknya datang” , jawabnya. “Mengingat ini pesenan mama, terpaksalah menunggu agak lama, kalo untuk diri sendiri mah sudah saya tinggal saja.” Batin pegawai tersebut.

Sedikit terlintas dalam hati, betapa banyak potensi pembeli yang akan hilang, kalo ditinggal lama begini. Tak berapa lama datanglah tukang ketoprak tersebut.

“Beli ketoprak Pak satu”, ucap pegawai tersebut. Entah mengapa tiba-tiba berubah pikiran, “Beli dua deh Pak”. Kemudian datanglah beberapa orang yang antri ingin membeli ketoprak. Entah dari mana mereka, tadi saya menunggu sendiri gak ada orang lain, tiba-tiba mereka datang memesan ketoprak.

Masya Allah tidak sedikit pedagang yang rela meninggalkan sholat demi menjaga dagangannya yang belum tentu ada orang beli. Apalagi jika pelanggan sedang ramai. Atau mungkin pegawai-pegawai kantoran rela menunda-nunda sholat bahkan meninggalkan sholat hanya karena alasan sibuk kerja, meeting dan lain sebagainya. Mereka seakan lupa kalo Allah lah yang mengatur rezeki.

Tukang ketoprak ini, dengan yakinnya meninggalkan jualannya untuk menunaikan sholat, seakan-akan ia lari meninggalkan rezekinya, sekembalinya dari sholat ternyata rezeki datang bak lebah mengerumuni bunga. Bahkan Allah pun menggerakkan hati saya sendiri untuk membeli lebih dari yang seharusnya.

Sungguh benar perkataanmu wahai Nabiku: “Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR Ibnu Hibban ) .

( Yani )