Bolehkah mencicipi masakan ketika sedang puasa? Pada suatu majelis ada seseorang ibu yang menanyakan apakah boleh kita mencicipi makanan ketika berpuasa.
“Assalamu‘alaikum…Saya seorang ibu, memiliki 2 orang anak yang masih balita. Apakah puasa saya sah jika saya mencicipi masakan untuk anak-anak saya hanya sebatas lidah, dan kemudian saya keluarkan kembali karena saya takut keasinan atau kurang garam? Dan karena saya harus memasak bekal untuk anak-anak saya di pagi hari dan kemudian berangkat kerja.”
Setelah ibu tersebut menyampaikan pertanyaannya itu, ustadz yang pada saat itu mengisi kajian tersebut memberikan penjelasan mengenai pertanyaan si ibu tadi.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh, Diperbolehkan bagi orang yang puasa, baik lelaki maupun wanita, untuk mencicipi makanan jika ada kebutuhan. Bentuknya bisa dengan meletakkan makanan di ujung lidahnya, dirasakan, kemudian dikeluarkan, dan tidak ditelan sedikit pun.”
Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma;لَ
ا بَأسَ أَن يَذُوق الخَلَّ أو الشَيءَ مَا لَـم يَدخُل حَلقَه وهو صائم. رواه البخاري معلقا
“Tidak mengapa mencicipi cuka (sayur) atau makanan lainnya selama tidak masuk ke kerongkongan.” (HR. Al-Bukhari, secara mu’allaq).
Jika orang yang puasa menelan makanan yang dicicipi karena tidak sengaja, maka dia tidak wajib qadha, dan dia lanjutkan puasanya. Ini berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan dimaafkannya orang yang lupa dalam pelaksanaan syari’at.
Di samping itu, terdapat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;
من نسي وهو صائم ، فأكل أو شرب فليتم صومه ، فإنما أطعمه الله وسقاه “. متفق عليه
“Siapa saja yang lupa ketika puasa kemudian makan atau minum, maka hendaknya dia sempurnakan puasanya, karena Allah telah memberinya makan atau minum.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan;
“Mencicipi makanan terlarang bagi orang yang tidak memiliki hajat, akan tetapi hal ini tidak membatalkan puasanya.Adapun untuk orang yang memiliki hajat, maka hukumnya seperti berkumur-kumur.” (Majmu’ Fatawa, 25/266-267, Maktabah Syamilah).
Yang termasuk dalam mencicipi adalah adalah mengunyah makanan untuk suatu kebutuhan. ‘Abdur Rozaq dalam Mushonnaf-nya membawakan Bab ‘Seorang wanita mengunyah makanan untuk anaknya sedangkan dia dalam keadaan berpuasa dan dia mencicipi sesuatu darinya’.
‘Abdur Rozaq membawakan beberapa riwayat di antaranya dari Yunus dari Al-Hasan;
رَأَيْتُهُ يَمْضَغُ لِلصَّبِي طَعَامًا وَهُوَ صَائِمٌ يَمْضَغُهُ ثُمَّ يُخْرِجُهُ مِنْ فِيْهِ يَضَعَهُ فِي فَمِ الصَّبِي
“Aku melihat beliau mengunyah makanan untuk anak kecil, sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. Beliau mengunyah, kemudian beliau mengeluarkan hasil kunyahannya tersebut dari mulutnya, lalu diberikan pada mulut anak kecil tersebut.”
Berkata Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah;
لا يبطل الصوم ذوق الطعام إذا لم يبتلعه، ولكن لا تفعله إلا إذا دعت الحاجة إليه
“Mencicipi masakan (makanan) tidaklah membatalkan puasa seseorang apabila dia tidak menelannya. Akan tetapi sebaiknya hal tersebut tidak ia lakukan kecuali jika memang dibutuhkan.”(Majmu’ Al-Fatawa 19/357).
Sementara itu, Syaikh bin Baz rahimahullah pernah ditanya persoalan ini, dan beliau mengatakan:
لا حرج في ذلك، لا حرج أن المرأة تذوق الطعام، أو الرجل الطباخ لا حرج، كونه يذوقه هل هو مالح هل هو طيب ثم يلفظه لا يبتلع شيء، لكن يذوقه ثم يلقيه لا بأس في ذلك، لا في حق المرآة ولا في حق الرجل الطباخ، لا حرج في هذا بحمد لله
“Hal itu tidak mengapa. Tidak mengapa bagi seorang wanita atau seorang koki laki-laki mencicipi makanan. Mencoba rasanya apakah asin atau sudah matang, kemudian dia membuangnya dari mulutnya dan tidak menelannya. Sekedar mencicipinya lalu membuangnya dari mulutnya, itu tidak mengapa, baik bagi wanita maupun bagi pria yang berprofesi sebagai koki.Hal itu tidak mengapa, walhamdulillah,”.***
(Yuni)













