Dalil-dalil Pahala Tanpa Batas Bagi Orang yang Berpuasa

Orang yang berpuasa dengan sabar dalam ketaatan, menahan syahwat, meninggalkan makan dan minum karena Allah, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar : 10)

Berkata Sulaiman bin Qashim rahimahullah:

“Setiap amalan dapat diketahui ganjarannya kecuali kesabaran.” Kemudian beliau membaca ayat:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10) Yaitu, seperti air yang tercurah deras.” (‘Idatush Shabirin, Ibnul Qayyim, hal.73)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali, hingga tidak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya, karena tidak bisa diukur dengan bilangan. Bahkan juga, pahala sabar termasuk perkara yang maklum di sisi Allah tanpa bisa dibatasi, tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Kesabaran itu pahalanya tanpa batas.” (Syarah Riyaadish Shaalihin, 1/126)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.’ Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari, no.1904, Muslim, no.1151)

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka aku berkata kepada beliau: “(Wahai Rasulullah), tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat aku ambil darimu.” Maka beliau menjawab: “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)-nya.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Shahih Sunan An-Nasa’i, 2/122)

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwasannya seorang mukmin di bulan Ramadhan mengumpulkan dua jihad sekaligus melawan hawa nafsunya: 1. Berjihad di siang hari dengan berpuasa. 2. Berjihad di malam hari dengan tarawih.Maka barangsiapa yang mengumpulkan dua amalan jihad ini, menunaikan haknya, dan bersabar dalam menjalaninya, maka dia akan meraih pahala penuh tanpa perhitungan,”.***

(Yuni)