4 Dampak Negatif dari Begadang

  1. Otak jadi lemot

Para peneliti telah menemukan bahwa akibat kurang tidur dapat menyebabkan kewaspadaan dan konsentrasi otak menurun. Tak heran jika setelah berjam-jam (atau bahkan berhari-hari) tidak tidur nyenyak, kamu jadi suka bingung sendiri, gampang lupa, dan sulit berpikir jernih. Dalam dunia medis, kondisi gangguan berpikir akibat otak yang kelelahan ini sering disebut sebagai brain frog. Tapi kamu mungkin lebih familiar dengan istilah lemot. Otak yang lemot membuatmu kesulitan mengambil keputusan penting.

Meski terkesan sepele, brain fog ini tidak boleh disepelekan. Brain fog bisa jadi merupakan gejala awal dari penyakit demensia.

  1. Gampang lupa

Ketika kamu mengantuk, kamu cenderung gampang lupa. Selain karena konsentrasi dan fokus otak yang memburuk, akibat kurang tidur, ingatan juga perlahan memburuk.

Pasalnya selama tidur, saraf-saraf dalam otak yang menyimpan ingatan semakin diperkuat. Seorang ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland di Amerika Serikat (AS), dr. Avelino Verceles, mengatakan, “Saat tidur, otak merekam berbagai hal yang telah kita pelajari dan alami seharian ke dalam ingatan jangka pendek.”

  1. Sulit menerima informasi baru

Kurang tidur bisa memengaruhi kemampuan kamu untuk memahami informasi baru lewat dua cara. Pertama, kamu akan menjadi tidak fokus sehingga sulit untuk menerima informasi baru. Dengan begitu, kamu tidak dapat belajar dengan efisien.

Kedua, seperti yang telah disebutkan di atas, kurang tidur berdampak pada kemampuan tidur. Daya ingat yang lemah akan mempersulit kamu untuk menyimpan informasi baru yang kamu pelajari ke dalam ingatan.

  1. Memicu penyakit mental

Kurang tidur memang bukan penyebab langsung dari gangguan kejiwaan. Meskipun begitu, beragam penelitian menemukan adanya potensi besar kemunculan beberapa penyakit mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan bipolar sebagai akibat kurang tidur.

Sebuah penelitian di Michigan, AS, mengamati seribu orang berusia 21 hingga 30 tahun. Hasilnya, mereka yang mengidap insomnia pada wawancara pertama memiliki risiko empat kali lebih besar menderita depresi ketika diwawancara lagi tiga tahun setelahnya. Studi lain menemukan bahwa masalah gangguan tidur terjadi sebelum munculnya depresi. Selain itu, penderita depresi yang mengalami insomnia akan lebih sulit disembuhkan dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami insomnia.

Akibat kurang tidur juga dapat memicu gangguan kecemasan. Satu studi melaporkan bahwa sekitar 27 persen pasien dengan gangguan kecemasan diawali dengan insomnia yang membuat seseorang susah tidur.

( sumber: #tentang psikologi )

( Ayu Putry )