Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu. (Manhajus Sawiy)
Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa: “Ya Allah,tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya, dan tidak seorang pun yang menyampaikan kekurangan guruku kepadaku “.
(Lawaqihul Anwaaril Qudsiyyah). Beliau juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzib:
عقوق الوالدين تمحوه التوبة
وعقوق الاستاذ لا يمحوه شيء البتة
Durhaka kepada orang tua dosanya bisa dihapus oleh taubat, tapi durhaka kepada Ustazmu, (Gurumu), maka tidak ada satu pun yang dapat menghapusnya.
Al Habib Abdullah Al Haddad berkata “Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati sang guru kepadanya. Seandainya seluruh Wali dari Timur dan Barat Ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridho kembali.“***













