Hari-hari terus berlalu, Resty terpaksa menjalani hidup seorang diri. Tanpa sanak saudara ia yakin bisa membiayai sekolahnya sampai perguruan tinggi yang akan ditempuhnya. Sepeninggal orang tuanya, ia jadi seseorang yang mandiri. Walaupun terkadang ia merasa berat menjalani hidupnya. Namun ia tidak pantang semangat, karena banyak tetangga yang memperhatikan Resty.
Sudah satu tahun lamanya orang tua Resty meninggal karena kecelakaan. Resty teringat saat ia menangis tersedu-sedu di samping jenazah ayah ibunya, entah bagaimana ia akan menjalani hidupnya. Para tetangga yang silih berganti, akan meninggalkan kelengangan di dalam rumahnya.
“Resty, kamu sedang apa nak?”, tanya salah seorang tetangga depan rumahnya yang membawa bingkisan untuk Resty.
“Sedang melihat burung bu” jawab Resty sekenanya.
“Aneh sekali hehehe. Ya sudah, ini buat kamu ya.”
“Terimakasih bu. Ibu baik sekali sama saya”. Tidak menimpali, Ibu itu hanya tersenyum tulus kepada Resty lalu keluar dari rumah Resty. ‘Alhamdulillah’ ucap Resty dalam hati.
Tiga tahun telah Resty jalani dengan kesendirian.
Ia sudah memasuki semester akhir dalam dunia perkuliahan. Tidak bisa dipungkiri, Resty sedang sibuk dengan skripsi nya. Ia membiayai sekolahnya seorang diri, ditambah beberapa beasiswa yang diperolehnya.
Beberapa bulan berlalu, tibalah saatnya yang ditunggu-tunggu oleh semua mahasiswa. Ya, itu adalah wisuda. Sedih yang mendalam ia rasakan karena disaat ia wisuda, tiada orang tua yang menemaninya. Berbeda dengan mahasiswa lainnya yang didampingi orang tuanya dengan perasaan bangga. Namun, Resty tidak sendiri, ia didampingi tetangganya. Tetangga itu sudah Resty anggap seperti ibu sendiri.
Satu bulir air mata menetes di pipi halusnya. Tiba-tiba ada seorang pria yang memberinya tisu. Entah siapa dia, Resty mengambil tisu yang diberinya.
“Terimakasih” ucap Resty disertai senyuman manis di bibirnya. Pria itu kembali ke kursinya dan meninggalkan senyuman. Ada rasa gugup ketika ia berbicara dengannya. Sebenarnya bukan baru pertama kali Resty bertemu dengan pria itu. Ia sering bertemu di organisasi kampus, namun belum begitu mengenalnya.
Tok…tok…tok… terdengar suara ketukan pintu di rumah Resty. terdiam sejenak, Resty menebak-nebak orang yang berada dibalik pintu. Tidak disangka, ternyata pria yang memberi tisu saat ia menangis saat wisuda. Tanpa menunggu lama, Resty mempersilahkan untuk duduk. Tidak lupa ia memanggil salah seorang ibu tetangga untuk menemaninya.
“Sebelumnya maaf, saya datang kesini tanpa sepengetahuan kamu. Namun, kedatangan saya kesini berniat untuk melamar kamu Resty”. Ucap pria itu lembut dan serius kepada Resty.
“Oh iya nama saya Reihan.” imbuhnya dengan gelak tawa. Ia sudah menebak kalau Resty lupa dengan namanya. Resty mengangguk dan menunduk tersipu.
Beberapa minggu kemudian, terjadilah pernikahan diantara keduanya. Mereka bahagia akan sebuah keluarga yang mereka bangun. ***
( Nisa )










