Besar Pengorbanannya

Sinar matahari begitu menyengat di dasar kulit. Semua anak kelas dua pulang ke rumah dengan wajah yang lesu. Begitu juga dengan Riana, dengan muka cemberut ia masuk kedalam kamar setelah bersalaman dengan ayah ibunya. Ia masih merasa kesal dengan kejadian kemarin malam.

    Riana terdiam di kamarnya seorang diri. Ia tidak mau makan, namun perutnya begitu lapar karena sedari tadi pagi belum makan. Tiba-tiba ada suara mengetuk puntu dari balik pintu.

“Sudahlah Ri, Emak kau seperti itu tandanya sayang kepadamu. Tidak ada maksud lain.” Begitulah ucap Bapak untuk menenangkan hati Riana.

“Tidak Pak, Emak tak sayang kepadaku.” Dengan hati dongkol, Riana mengelak perkataan bapaknya. Matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis.

    Bapak mendekati Riana dan menceritakan kejadian yang menimpa dia dan Emaknya tujuh tahun yang lalu, ketika Emak masih berdagang di pasar. Bapak bercerita ketika Emak dan Riana di pasar. Pada saat itu, tiba-tiba ada kebakaran di pasar. Semua orang berhamburan keluar pasar dan mencari segera mengambil air di sungai seberang pasar. Waktu itu, Riana masih umur satu setengah tahun, emak kesana-kemari mencari Riana namun yang didapat hanya nihil. Emak harus memutari pasar karena pada saat itu Riana sedang diajak tetangga sebelah. Entah kemana orang itu, Riana sudah merengek karena sesak dadanya. Tanpa memperdulikan dagangannya, Emak segera menyelamatkan Riana. Sampai-sampai, Emak hampir tertiban kayu yang sudah terbakar.

     Begitulah cerita Bapak kepada Riana, sangat menghayati sampai Riana meneteskan air mata. Segera mungkin Riana menemui Emak yang sedang mencuci gelas di belakang rumah.

    Tanpa meminta maaf pun, seorang ibu telah memaafkan anaknya. Begitu juga dengan Emak. Setelahnya, Emak memeluk Riana dengan pelukan yang menghangatkan.

    Begitu besar pengorbanan Emak kepada anaknya, tidak akan bisa seorang anak mengganti semua pengorbanan yang telah Emak berikan. Sepatutnya sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, kita harus menghormati keduanya terutama orang yang telah melahirkan kita.***

(NISA)