“Darinya Kita Belajar….” pada Seorang Bapak Penjual Roti Maryam atau Canai

 Sudah sebulan ini kulihat bapak penjual roti Maryam atau canai di pinggir jalan depan apotik K-24. Beliau menggunakan motor dan keranjang  untuk berdagang. Aku sering menengokkan kepalaku saat aku mau keluar dari gang kecil di kampungku. Ingin rasanya aku membeli dagangannya. Entahlah… rasanya ada yang menarik dari pedagang itu.

`Sudah beberapa hari ini tidak kulihat pedagang itu berjualan. Kenapa ya? Apa bapak itu pindah jualan ke tempat lain?` Batinku penasaran.

Akhirnya beberapa hari kemudian, bapak bertopi itu berjualan lagi. Aku mau mencoba untuk mencicipi dagangannya. Sepulang dari pasar Pakem, kulaju motorku ke tempat jualannya.

“Roti Maryam nggih pak? Berapa harganya?” Tanyaku padanya

“Iya Bu, ada roti Maryam dan canai, harganya 6 ribu.Topingnya ada coklat dan keju,” jawabnya.

“Saya beli roti Maryam satu, roti canai satu pak!” ujarku

Tak lama kemudian , bapak penjual segera menyiapkan roti yang akan kubeli. Saat itu ada bapak membawa tongkat yang berjalan di depan kami. Sepertinya dia buta, aku masih berpikir akan berbuat apa untuk membantu. Namun tiba-tiba bapak penjual roti mengambil selembar uang 2000 rupiah dan berlari ke arah bapak pembawa tongkat itu, yang kemudian uang tersebut ia berikan padanya.

Sejenak aku terdiam. Malu rasanya, sebab aku kalah start duluan. Oooh… ini kah yang menarikku untuk ke sini? Ternyata beliau orang yang murah hati dan suka bersedekah. Itu kesan pertamaku. Sembari beliau menyiapkan pesananku, kami mengobrol.

“Bapak, disini sudah lama ya? Kok nggak di depan pasar Pakem saja pak?” Tanyaku

Sudah sebulan Bu…disini malah ramai. Kalau di depan pasar, malah kurang laku. Saya disini jam 16.00 sudah habis.”katanya sambil sibuk memanggang roti.

“Oooh… gitu ya pak? Jam 16.00 sudah habis? Alhamdulillah ya pak,” jawabku

“Iya Bu,” katanya sambil senyum di balik maskernya.

“Bapak asalnya dari mana?” Tanyaku lagi

“Saya dari Kaliurang Bu. Ini makannya harus anget ya Bu, kalau dingin nanti rotinya keras.” jawabnya sambil terus memanggang.

“O ya pak. Bapak sudah lama jualan ini?” tanyaku masih penasaran

“Selama pandemi ini Bu. Saya dari dulu di kulineran. Sebelumnya saya jual sosis dll,  pake mobil keliling. Tapi karena pandemi, saya coba jual ini. Alhamdulillah… yang penting berusaha.” ujarnya

“Sosis kan anak-anak pada suka. Iya ya pak, yang penting usaha. O ya… sepertinya 2 hari ini bapak nggak jualan ya pak?” Tanyaku lagi

“Ooo… saya biasanya siang Bu. Kalau Jumat saya jualan setelah jumatan. nanggung waktunya. Kalau sholat saya ke masjid sana Bu.” Katanya sambil menunjuk.

“Oooo gitu ya pak…” kataku sambil mengangguk, padahal aku juga tidak tahu masjid yang di maksud.

“Di pondok juga ada masjid pak, bebas kalau ke situ pak. Saya dari pondok situ itu pak.” kataku menerangkan

“Nggak enak Bu, saya ke masjid yang jauh disana saja,” katanya sambil memasukkan roti ke plastik.

“Kalau beli mentah berapa pak? Misalnya mau dipanggang sendiri untuk sarapan gitu?” Tanyaku lagi

“Kalau mentah 3.500 Bu, tapi 1 plastik isi 10, jadi 35 rb. Kalau saya jual seperti ini 6000,” katanya jujur

Wah bapak ini, jujur sekali. Dia tidak takut kalau nanti ada yang beli mentah, padahal kan lebih murah.

Setelah selesai pesananku, beliau menyerahkan roti itu padaku dan aku menerima roti dan mengulurkan uang 12 rb untuk membayarnya.

“Terimakasih pak, semoga laris ya pak,” kataku dan segera menghidupkan motorku untuk beranjak pulang.

“Aamiin…..” Jawab beliau.

Sengaja aku pulang memutar lewat toko  berkah sebelah SD percobaan. Aku berpikir apa ini ya yang menarikku untuk mencari tahu dan mencoba dagangan beliau. Ternyata bapak penjual roti Maryam atau canai itu seorang yang senang bersedekah, jujur  dan juga menjaga sholatnya. MasyaAlloh… malu aku, apalah aku ini….

Darinya kita belajar…

(Mae ya)