Bel pulang sekolah tengah berdentang, semua murid bergegas untuk kembali ke rumahnya. Namun, berbeda dengan Risty. Dia lebih memilih berada di sekolah daripada di rumah, yang selalu menyaksikan orang tuanya bertengkar karena berbeda pendapat. Risty ingin sekali menengahi orang tuanya ketika bertengkar, namun ia takut jika ia hanya mendapat amarah dari keduanya.
Akhir-akhir ini, Risty sering melamun dikelas. Nilai ulangan pun menurun. Tidak dipungkiri, semuanya disebabkan karena ia terlalu memikirkan percekcokan kedua orang tuanya. Beberapa hari yang lalu, ia ditemui guru BK lalu ditanyai mengenai masalah yang tengah ia hadapi.
Risty bingung memikirkan keputusannya apabila kedua orang tuanya bercerai. Entah siapa pula yang akan ia pilih diantara ayah dan ibunya. Ia ingin kedua orang tuanya bisa rukun kembali seperti sedia kala. Semuanya memang melelahkan jika berlarut dipikirkan. Pernah ia ingin kabur dari rumah ketika ia tengah melihat ayahnya membanting piring kearah ibunya. Namun belum sempat keluar dari rumah, ia sudah dihadang ayahnya didepan pintu.
Risty sadar ia harus kuat menghadapi permasalahan di keluarganya. Menjadi seorang anak yang menyaksikan pertengkaran orang tuanya, memanglah sangat menyakitkan baginya. Apalagi sampai membanting barang yang ada dirumah. Ia bimbang apa yang harus ia lakukan?.
Menjadi korban atas keegoisan orang tua memang sangat berat bagi sang anak, bisa-bisa anak menjadi salah pergaulan dan menjadi anak yang tidak berakhlak baik. Jadi jangan sesekali memperlihatkan masalah orang tua didepan anak-anaknya.
Untuk orang tua, jadikanlah rumahmu sebagai istana, bukan menjadi ruangan hampa yang penuh dengan amarah dan teriakan yang tak selayaknya berada di rumah. Perhatian orang tua itu sangat perlu bagi anak. Jadilah malaikat, bukan momok yang menakutkan bagi anak-anak kalian.***
(Latifah)










